Makna Kemerdekaan bagi Niki, Dai Tepian Negeri: Bebas Covid-19 dan Pendidikan di Pelosok Diperhatikan

Makna kemerdekaan di saat pandemi Covid-19 bagi dai tepian negeri Niki Sumantri adalah bisa merdeka dari Covid-19, lalu kesejahteraan masyarakat meningkat, dan akses pendidikan terus merata dan diperhatikan hingga ke pelosok negeri.

niki sumantri
Niki Sumantri saat sedang mengajar ngaji anak-anak di Dusun Haitaman. (ACTNews)

ACTNews, BELU – Bagi Niki Sumantri, dai di tepian negeri, kemerdekaan tahun ini masih berkabung. Tetapi di sisi lain, kemerdekaan harus dimaknai sebagai awal untuk menumbuhkan rasa optimis masyarakat akan kehidupan bangsa yang lebih baik. 

Niki Sumantri merupakan Dai Tepian Negeri ACT di perbatasan Indonesia-Timor Leste, tepatnya di Atambua, Kabupaten Belu, NTT. Saban hari berdakwah dan mengajar mengaji anak-anak mualaf di pedalaman NTT. Kemerdekaan di saat pandemi, bagi Niki, tetaplah berkabung. Karena masih banyak masyarakat yang meninggal akibat Covid-19, kesejahteraan memburuk, dan pendidikan masih belum merata. 

“Merdeka itu kan bebas. Bebas dari penjajah, itu dulu. Saat ini masih harus merdeka dari pandemi Covid-19 dan kemiskinan. Bagi saya, kemerdekaan tahun ini tidak perlu dirayakan mewah, karena masih berkabung. Banyak orang masih menjadi korban Covid-19, pendidikan juga belum merata hingga ke pelosok,” kata Niki saat dihubungi ACTNews, Ahad (15/8/2021). 

Sebagai dai di pelosok negeri, Niki mengaku melihat langsung pendidikan masyarakat, khususnya pendidikan agama Islam, kurang begitu diperhatikan. Padahal banyak masyarakat merupakan mualaf yang masih perlu bimbingan. 

“Anak-anak muslim yang mualaf itu kalau ada yang mengajar ngaji, mereka antusias. Namun, pengajarnya sedikit, penyuluh agama Islam datang seminggu sekali. Karena penyuluh tidak bisa datang ke semua tempat dalam satu hari. Jarak antara satu tempat ke tempat yang lain juga cukup jauh. Paling sehari dua tempat yang bisa didatangi,” katanya. 

Meski begitu, kemerdekaan di saat pandemi juga harus dimaknai sebagai pengingat. Mengingat perjuangan melawan penjajah, tapi saat ini melawan pandemi Covid-19, kemiskinan, dan kebodohan. Sehingga kita optimis akan menang dan menyongsong kehidupan ke depan dengan lebih baik. 

“Pandemi memang masih belum selesai, tapi kita tidak boleh menyerah. Optimis menang yang ditandai dengan kesehatan kembali normal, kesejahteraan warga meningkat, dan pendidikan merata hingga ke seluruh negeri, baik secara kualitas maupun kuantitasnya,” jelas Niki. 

Niki berharap, meski tengah sulit, masyarakat khususnya anak-anak di pelosok untuk tidak berhenti belajar baik ilmu agama dan ilmu lainnya. Meski berada dalam keterbatasan fasilitas dan tenaga pengajar, semangat belajar tidak boleh hilang.[]