Malnutrisi Menggerogoti Keberlangsungan Hidup Anak-Anak Yaman

Malnutrisi Menggerogoti Keberlangsungan Hidup Anak-Anak Yaman

Malnutrisi Menggerogoti Keberlangsungan Hidup Anak-Anak Yaman' photo

ACTNews, SANA’A - Belum juga ada satu kabar baik yang terdengar dari Yaman. Potret buram kondisi anak-anak Yaman yang beredar luas di media internasional hingga saat ini, terpampang jelas saat Tim Sympathy of Solidarity (SOS) for Yemen I mendistribusikan paket pangan kepada para pengungsi internal. Badan-badan mungil yang menderita malnutrisi begitu mudah ditemui di pinggiran Kota Sana'a. Malnutrisi nyata menggerogoti keberlangsungan hidup anak-anak Yaman

“Sebenarnya tidak susah menemui mereka sebab hampir di setiap distrik bahkan desa pasti ada anak-anak yang menderita malnutrisi. Kalau lihat langsung rasanya benar-benar sesak. Saya sampai mengelus dada karena rupanya mereka benar-benar kesusahan. Mereka hidup dengan segala keterbatasan yang kian menyiksa sejak konflik,” kata Rudi Purnomo, anggota Tim Sympathy of Solidarity (SOS) for Yemen I, Kamis (22/11). 

Mohammad Ramdhan, salah satu penderita malnutrisi di Yaman

Pertama Rudi bertemu dengan Mohammad Ramdhan, anak berusia 5 tahun yang tinggal di Distrik Hamdan, pinggiran Kota Sana’a. Orang tua Ramdhan menyadari anaknya menderita malnutrisi. Berat tubuh Ramdhan tak pernah bertambah secara signifikan. Menurut cerita orang tuanya, Ramdhan sampai tidak bisa mengkonsumsi makanan dalam jumlah besar. 

“Semuanya akan keluar lagi karena tubuhnya tidak mampu menyerap makanan dengan baik. Alhasil, bobot Ramdhan hanya mencapai 5 kilogram, bobot yang tidak sesuai dengan usianya,” jelas Rudi, setelah berkomunikasi dengan orang tua Ramdhan. 

Usianya 3 tahun, namun Ali Nimah nampak seperti bayi akibat gizi buruk 

Rudi juga bertemu dengan Ali Nimah, anak yang bahkan hingga usianya menginjak 3 tahun belum bisa berjalan. “Kalau Ali ini tidak bisa berjalan karena postur tubuhnya masih seperti anak yang usianya di bawah satu tahun. Awalnya saya pikir dia bayi karena masih digendong, rupanya Ali juga menderita malnutrisi,” ungkapnya. 

Tidak hanya ke Distrik Hamdan, kondisi serupa juga banyak terlihat di rumah sakit setempat, yang menampung anak-anak penderita malnutrisi di Kota Sana’a, Yaman. Salah seorang pasien anak yang sedang mendapat perawatan di rumah sakit terkait adalah bayi berusia satu bulan. 

Di usianya yang 1 bulan, Yusea Saleh Mufreh hanya berbobot 700 gram 

Bayi itu bernama Yusea Saleh Mufreh, bayi termuda di rumah sakit itu yang menderita malnutrisi sejak lahir. Berat tubuh Yusra hanya sebesar 700 gram. “Yusra belum bisa dibawa pulang oleh orang tuanya. Yusra masih membutuhkan perawatan untuk mengatasi deritanya sebelum semakin buruk,” kata Rudi. 

Penderitaan yang dialami Mohammad, Ali, maupun Yusra menjadi bukti bahwa konflik sipil yang terjadi telah menimbulkan krisis berkepanjangan di Yaman, utamanya bagi mereka yang menjadi pengungsi internal. Tak hanya mereka, sepekan terakhir seorang anak perempuan asal Yaman bernama Hajar al-Faqeh bahkan sempat menjadi perhatian khalayak. 

Hajar adalah bayi yang meninggal dunia akibat malnutrisi yang dideritanya selama empat bulan. Meski sempat mendapat perawatan dari sebuah rumah sakit, Hajar tak mampu bertahan. Kisahnya yang diulas oleh media-media internasional menunjukkan bagaimana kasus malnutrisi pada anak-anak Yaman memang belum usai. 

Data UNICEF per September 2018,  lebih dari 11 juta anak di Yaman terancam kekurangan pangan

UNICEF pernah menyatakan, hingga September 2018 lebih dari 11 juta anak di Yaman harus merasakan ancaman kekurangan pangan, menderita berbagai macam penyakit, eskalasi yang semakin besar, serta kekurangan akses yang kuat untuk menjangkau layanan sosial. Bertahun-tahun menghadapi konflik, bertahun-tahun jua warga Yaman seringkali menahan kelaparan.

Apalagi belakangan Hodeidah, kota yang sudah menjadi pintu utama masuknya impor barang pokok menjadi pusat konflik. Akibatnya dampak jadi meluas dan menyeluruh, lalu sampai kepada mereka yang mengungsi tanpa memiliki penghasilan tetap. Mereka pun hanya bisa bergantung pada kedermawanan lembaga kemanusian, itu pun apabila Hodeidah dirasa telah aman. 

“Kami hanya bisa memohon doa kepada masyarakat Indonesia, semoga ACT bisa terus berupaya. Sehingga, sedikit banyak bisa membantu kurangi kasus malnutrisi di Yaman. Bisa membantu Mohammad, Ali, Yusra dan anak-anak Yaman lainnya agar tetap sehat dan jauh dari rasa lapar bahlan kelaparan,” tutur Rudi. []

Bagikan