Masa Senja Jae di Rumah Bambu

Di usia senjanya, Jaenudin kini menikmati hidup di rumah dengan tembok dari bilah kayu

ACTNews, BOGOR – Bilah bambu yang disusun berjajar itu merupakan dinding rumah di Desa Jagabita, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor. Tak rapat tersusun, membuat banyak celah pada dinding. Tanah menjadi lantainya. Tanpa tiang penyangga, juga fondasi, rumah itu dihuni Jaelani (59), atau warga sekitar menyapa dengan nama Jae.

Jika masuk ke dalam rumah, hendaknya orang dewasa merundukkan kepala. Sebab, tinggi pintunya lebih kurang hanya satu setengah meter. Tak ada kompor gas yang wajar ditemukan di setiap rumah. Tungku kayu dan tempat mencuci piring menjadi satu. Sedangkan hanya dipan yang menjadi tempat Jae beristirahat merebahkan tubuh.

Saat musim hujan, air mudah masuk ke dalam rumah, membuat lantai tanah menjadi lumpur. Tak jarang, air masuk lewat celah genting. Angin pun akan masuk lewat celah bilah bambu. Hanya di ruangan yang menjadi kamar Jae dinding bambu dilapis oleh fiber.

Di usia senjanya kini, Jae hidup sendiri di rumah bambunya. Dua buah lampu 5 watt menjadi penerang rumah. Tak ada hiburan. Televisi dan radio tua miliknya telah lama rusak. Istrinya telah meninggal 7 tahun lalu. Sedangkan keempat orang anaknya tak tinggal bersama.

Tak ada kamar mandi di rumah yang berada di samping kebun bambu itu. Hanya ada galian yang Jae bilang sebagai tempat penampungan dari pembuangan air yang telah terpakai. Ember sisa cat 25 kilogram ia jadikan penampungan air, sedangkan tempayan dengan lumut di sekelilingnya menjadi tempat Jae berwudu.




Sumur milik tetangga sebelah rumah Jae menjadi sumber air. Jika butuh air, ia harus menimba dan membawanya dengan ember ke rumah. “Kalau mandi numpang di rumah tentangga atau ke sungai sana,” ungkap Jae sambil menunjuk ke arah sungai kecil yang mengalir di Desa Jagabita.

Di usia lebih dari setengah abad ini, Jae tak lagi bekerja. Tak ada simpanan tabungan uang, simpanan beras atau bahan pangan lain di rumahnya. Ia hanya mengandalkan kiriman uang sebesar Rp 20 ribu dari anaknya yang terpisah rumah. “Dulu saya pernah kerja di Jakarta, jadi sopir. Tapi tahun 1996 pulang kampung ke sini (Jagabita) jadi tukang gali sumur,” tutur Jae.

Sejak tahun 1996, Jae tinggal di Desa Jagabita. Di tahun itu juga rumah yang ditempatinya berdiri. Tak ada renovasi besar selama 23 tahun ini, hanya beberapa kali bagian yang rusak diperbaiki, itu pun menunggu bantuan dari orang lain. “Terakhir dapat bantuan genting biar enggak bocor kalau hujan,” kata Jae, Kamis (26/4).