Masih Banyak Lansia dalam Kondisi Ekonomi Rentan

Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS Agustus 2021 mencatat, sebesar 75,56 persen lansia bekerja sebagai pekerja rentan. Artinya, sekitar tiga dari empat lansia bekerja dengan risiko tinggi untuk mengalami kerentanan ekonomi.

lansia di indonesia
Mbah Kamisah (70) di Bantul membawa kayu bakar untuk dijual. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA — Rumi (70) tinggal seorang diri di rumah yang tidak layak huni di Kampung Cigantung, Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. Saat hujan deras, rumahnya banjir dan seringkali hewan liar masuk ke dalam rumah akibat dinding banyak yang bolong. 

Rumah Rumi berdindingkan bilik bambu dan berlantai tanah. Tidak ada fasilitas MCK di dalamnya. Dapur tempat Rumi memasak masih berupa tungku berbahan bakar kayu. 

Ia tidak mampu untuk merenovasi rumahnya karena kondisi ekonomi yang sulit. Saban hari, Rumi keliling kampung berjualan keripik pisang yang ia buat sendiri. Penghasilan berjualan keripik pisang Rp60 ribu per hari.

"Setengahnya untuk modal, setengahnya lagi saya gunakan untuk makan sehari-hari. Dicukup-cukupkan saja hasil yang didapat ini," kata Rumi akhir April 2022 lalu.

Sementara itu, Abah Utay (65) di Garut menghabiskan masa tua bersama anaknya yang ODGJ. Untuk kebutuhan sehari-hari, Abah Utay berharap pada kebaikan tetangga dan bantuan pemerintah desa.

Delapan bulan terakhir, kesehatan Abah Utay menurun, kakinya juga sudah tidak mampu berjalan. Tidak ada tindakan medis yang dilakukan Abah Utay karena kondisi ekonomi dan belum memiliki akses jaminan kesehatan.

"Untuk bisa beraktivitas, Abah Utay menggunakan tongkat dan kadang digendong anaknya yang ODGJ," kata Jajang Sobandi dari tim Aksi Cepat Tanggap Garut, Rabu (25/5/2022). 

Kondisi pekerjaan lansia di Indonesia

Menurut UU Nomor 13 Tahun 1998 lansia (lanjut usia) adalah mereka yang telah berusia 60 tahun ke atas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021, jumlah lansia di Indonesia mencapai 29,3 juta jiwa atau 10,82 persen dari total penduduk. Jumlah lansia di Indonesia setiap tahun diprediksi meningkat sampai 19,9 persen dari jumlah penduduk hingga tahun 2045.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS Maret 2021 menyebutkan, secara umum, sebagian besar lansia berpendidikan SD ke bawah, yaitu sebanyak 63,27 persen. Bahkan, masih ada sekitar 13,15 persen lansia yang tidak pernah bersekolah. Sementara itu, hanya ada sekitar 15,16 persen lansia yang memiliki pendidikan SMA/sederajat ke atas.  Masih rendahnya pendidikan lansia bukan tanpa alasan. Di zaman dahulu, pendidikan belum menjadi prioritas serta akses pendidikan yang masih terbatas.


Mbah Inoh (78), warga Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, keliling berjualan makanan ringan untuk memenuhi kebutuhannya. (ACTNews)

Tingkat pendidikan berpengaruh karena menjadi salah satu penyusun indikator kualitas hidup seseorang. Ini sesuai dengan klasifikasi yang dikeluarkan Organization of Economic Co-operation and Development (OECD) tentang kesejahteraan. 

Pendidikan berpengaruh besar terhadap tingkat kesejahteraan seseorang. Karena orang yang memiliki pendidikan tinggi mempunyai peluang yang lebih besar dalam mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji yang lebih tinggi. 

Hal tersebut sesuai dengan data hasil Susenas BPS Agustus 2021 lalu. Di mana, tingkat pendidikan lansia mempengaruhi jenis pekerjaan yang digeluti. 

Pekerja lansia didominasi oleh sektor informal, pada 2021, sebanyak 86,02 persen pekerja lansia bekerja di sektor ini. Semakin tinggi tingkat pendidikan lansia, maka semakin kecil persentase lansia yang bekerja di sektor informal.

"Hal ini terjadi karena bekerja di sektor informal tidak mensyaratkan kualifikasi pendidikan dan keterampilan tertentu, sehingga cenderung cocok bagi lansia," tulis BPS dalam laporannya.


Rata-rata Penghasilan Lansia Bekerja dalam Sebulan Menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pendidikan. (BPS, Sakernas Agustus 2021)

Tingginya angka lansia bekerja di sektor informal, berbanding lurus dengan angka lansia yang merupakan pekerja rentan. Lansia sebagai pekerja rentan memiliki risiko tinggi terhadap kerentanan ekonomi dan berada dalam decent work deficit, yaitu tidak adanya cukup kesempatan kerja dan tidak memadainya perlindungan sosial. Partisipasi pekerja rentan dalam pasar tenaga kerja menjadikan kesejahteraannya terancam karena sulitnya akses ke pekerjaan yang layak. 

"Sakernas Agustus 2021 mencatat sebesar 75,56 persen lansia bekerja sebagai pekerja rentan. Artinya, sekitar tiga dari empat lansia bekerja dengan risiko tinggi untuk mengalami kerentanan ekonomi," tulis BPS. 

Sementara itu, usia yang sudah tidak lagi produktif membuat penghasilan lebih sedikit daripada usia produktif. Padahal, kebutuhan hidup lansia tidak jauh berbeda daripada usia produktif bahkan cenderung lebih besar untuk perawatan kesehatannya.

Pada tahun 2021, rata-rata penghasilan lansia bekerja sebesar Rp1,34 juta per bulan. Lansia yang bekerja di lapangan usaha sektor pertanian memiliki penghasilan paling rendah dibandingkan dengan lainnya, yaitu sebesar Rp1,002 juta per bulan. Data Sakernas Agustus 2021 juga memperlihatkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan lansia maka rata-rata penghasilannya juga semakin besar.[]