Masjid Andalusia di Gaza Terpenuhi Kebutuhan Airnya Berkat Sumur Wakaf

Sumur Wakaf dibangun di samping Masjid Andalusia, di Rafah, Gaza Selatan. Ribuan liter air bersih yang dihasilkan dari sumur ini, diperuntukkan untuk kepentingan para jemaah masjid dan masyarakat sekitar memenuhi kebutuhan airnya.

sumur wakaf palestina
Para pengurus dan jemaah masjid sangat bersyukur atas dibangunnya Sumur Wakaf di Masjid Andalusia. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Sumur Wakaf pemberian wakif Indonesia melalui Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali hadir di Gaza. Sumur Wakaf ini dibangun di samping Masjid Andalusia di Rafah, Gaza Selatan. Sumur ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air bagi para jemaah masjid.

Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Network Aksi Cepat Tanggap (ACT) menjelaskan, sumur yang mampu menghasilkan ribuan liter air tiap harinya ini akan menyalurkan air ke pipa-pipa dan keran masjid. Hal ini memudahkan para jemaah untuk berwudu ketika hendak beribadah. Setidaknya 500 kelurga Gaza di sekitar masjid dapat menggunakan air dari sumur ini tiap harinya.

"Insyaallah, air yang dihasilkan dari sumur ini merupakan air bersih dan layak untuk digunakan untuk bersuci. Sebab, air tanah yang disedot berasal dari kedalaman puluhan meter, dan telah melewati sistem penyaringan," ujar Said, Kamis (19/5/2022).

Sumur ini, disebut Said, merupakan Sumur Wakaf ke-54 pemberian Sahabat Dermawan yang telah dibangun di tanah Gaza. Selain untuk jemaah masjid, air dari Sumur Wakaf juga bisa dimanfaatkan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

"Termasuk untuk minum. Sebab, 90 persen air yang tersedia di Gaza tercemar dan tidak layak minum. Sehingga kehadiran Sumur Wakaf, akan menjadi sumber air bersih untuk kepentingan konsumsi bagi ribuan warga Gaza," jelas Said.

Untuk diketahui, daerah sekitar Masjid Andalusia merupakan salah satu kawasan padat penduduk di Rafah. Banyak masyarakatnya yang tinggal di penampungan padat di sepanjang jalan yang sangat sempit. Tingkat pengangguran dan kemiskinan di wilayah tersebut pun sangat tinggi, membuat sebagian besar penduduknya sangat bergantung pada bantuan masyarakat internasional. []