Masjid yang Rusak karena Gempa Kini Pulih dan Diresmikan

Masjid satu-satunya di Dusun Poan Selatan yang hancur akibat gempa tahun 2018 lalu kini telah kokoh berdiri. Masjid itu kini bernama Ibadurrahman, diresmikan oleh pemerintah Lombok Barat dan donatur ACT pekan lalu.

Masjid yang Rusak karena Gempa Kini Pulih dan Diresmikan' photo
Simbolisasi peresmian Masjid Ibadurrahman oleh ACT Nusa Tenggara Barat. (ACTNews)

ACTNews, LOMBOK – Setelah dua tahun harapan warga Dusun Poan Selatan, Desa Guntur Macan, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, untuk bisa beribadah di masjid sendiri kini terwujud. Aksi Cepat Tanggap Nusa Tenggara Barat telah membangun kembali masjid yang hancur karena gempa.

Masjid yang dulunya bernama Masjid Hidayatullah itu dibangun pertama kali tahun 1993. Kini, masjid tersebut diberi nama Ibadurrahman, dengan renovasi lebih luas. Luas awalnya hanya 9x9 meter, kini diperlebar menjadi 12x12 meter persegi.

Pengerjaan renovasi Masjid Ibadurrahman cukup singkat. Hanya 45 hari dengan mendatangkan relawan konstruksi dari pulau Jawa dan dibantu oleh warga Poan Selatan.

Masjid Ibadurrahman di resmikan oleh Kepala Biro Kesra Provinsi NTB dan Donatur ACT, Sabtu (17/10). Ahmad Masyhuri sebagai Kepala Biro Kesra Provinsi NTB dalam sambutannya mewakili Gubernur NTB menyampaikan rasa terima kasih pemerintah NTB kepada ACT. “Terima kasih karena terus membersamai masyarakat NTB melewati musibah sekaligus memberikan bantuan kepada mereka,” katanya. 

Donatur ACT, Mohammed Samir Alabsi, turut merasakan langsung kebahagiaan saat melihat warga Dusun Poan Selatan bahagia dengan masjid barunya, “Alhamdulillah saya merasa sangat senang dan bahagia bisa memberikan hadiah kepada saudara seiman di Dusun Poan Selatan. Masjid ini juga merupakan hadiah untuk ibu saya. Beliau meminta saya membangunkan sebuah masjid dan harapan ini bisa terwujud atas bantuan Aksi Cepat Tanggap,” ungkap Mohammed.

Kepala Cabang ACT NTB Lalu Muhammad Alfian yang juga hadir dalam peresmian masjid Ibadurrahman juga mengungkapkan rasa bahagia. Sebagai perantara kebaikan, ACT menghubungkan donatur dengan saudara yang membutuhkan.[]