Masyarakat Yaman Butuh Bantuan Internasional

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres , dalam keterangan persnya, bahkan menunjukkan kekecewaannya karena bantuan yang dijanjikan ke Yaman oleh negara-negara anggota PBB yang tidak tercapai.

Ilustrasi. Anak-anak di Yaman mengalami malnutrisi. (ACTNews)

ACTNews, YAMAN – Banyak bantuan ke negara-negara konflik yang harus terhenti karena kurangnya pendanaan dari pemerintah dan masyarakat. Kemiskinan, kelaparan, putus sekolah, dan masalah kesehatan di negara tersebut pun tidak bisa diselesaikan.

Hal itu terjadi pada Yaman. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam keterangan persnya, bahkan menunjukkan kekecewaannya karena bantuan yang dijanjikan ke Yaman oleh negara-negara anggota PBB yang tidak tercapai.

"Bagi banyak orang, kehidupan di Yaman sekarang tidak tertahankan. Masa kanak-kanak di Yaman seperti neraka. Anak-anak Yaman kelaparan," kata Guterres saat membuka konferensi komitmen bantuan untuk Yaman, Senin (1/3/2021).

Saat ini, ekonomi Yaman terus turun. Situasi ini diperparah dengan pandemi Covid-19. Analisis Humanitarian Needs Overview, sekitar 16,2 juta orang yang rawan pangan dan kelaparan di tahun ini. Termasuk lima juta orang yang mengalami kondisi darurat. Lebih dari 2,25 juta kasus anak-anak berusia 0 hingga 59 bulan, satu juta wanita hamil dan menyusui di proyeksi mengalami malnutrisi.

Keadaan Yaman yang memprihatinkan juga diakui Said Mukaffiy dari Global Humanity Response-Aksi Cepat Tanggap. Said mengatakan, Januari lalu, para orang tua memohon dibukanya kembali klinik kesehatan di Sanaa. Bantuan sempat terhenti karena dukungan untuk Yaman mulai menipis. “Dukungan untuk masyarakat Yaman memang tidak cukup sekali, kita harus melakukannya secara berkelanjutan,” kata Said.

Sejauh ini, Indonesia juga kerap mengambil langkah kemanusiaan berupa bantuan kesehatan, pangan, dan air bersih. Aksi Cepat Tanggap yang menjembatani aksi itu pun berharap kedermawanan masyarakat Indonesia bisa terus tersampaikan ke masyarakat Yaman.[]