Melalui Ramadan Pertama di Hunian Nyaman Terpadu

Setelah beberapa hari pindah ke Hunian Nyaman Terpadu atau Integrated Community Shelter (ICS), Siti Komalasari langsung menjalani ibadah Ramadan. Ini adalah Ramadan pertama yang ia jalani sebagai pengungsi dengan segala keterbatasan.

Melalui Ramadan Pertama di Hunian Nyaman Terpadu' photo
Siti Komalasari sedang bercerita di dalam huniannya. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, LEBAK – Minggu pertama Ramadan harus dilalui Siti Komalasari tanpa keluarga yang lengkap. Suaminya yang bekerja di Tangerang tidak bisa pulang akibat pandemi corona. Kesedihan itu juga bertambah karena ini puasa pertama yang tidak ia lalui di rumah seperti tahun lalu. Ia kini menghuni Hunian Nyaman Terpadu atau Integrated Community Shelter (ICS) karena rumahnya hanyut total akibat banjir awal tahun 2020 lalu.

Siti bangun pada pagi buta untuk menyiapkan penganan sahurnya dan anak-anaknya pada Selasa (29/4) pagi itu. Inisiatif mendorongnya mendirikan dapur darurat di lahan kosong di depan halaman huniannya sehingga ia tak perlu menggunakan Dapur Umum. Ia mengaduk-aduk lauk di atas penggorengan beberapa kali sehingga aroma makanannya masuk sampai ke dalam hunian yang ia tinggali.


“Ini masak jamur pakai telur. Biasanya kita sahur memang jam 3. Kalau hujan tinggal dimasukkan saja kompornya ke dalam, terus masak di dalam saja,” jelas Siti.

Siti tentu senang dengan bantuan hunian tersebut. Namun ia mengaku Ramadan tahun ini tentu lebih berat karena untuk pertama kalinya tak ia lalui di rumah. Bagaimanapun tinggal di rumah sendiri tentu lebih nyaman.


Siti sedang memasak di depan unit ICS miliknya. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Kalau tahun kemarin kita kan (melewati Ramadan) di tempat sendiri. Walaupun sederhana, ya istilahnya tapi rumah sendiri. Kalau sekarang ya, beginilah keadaannya. Senyaman-nyamannya rumah kan rumah sendiri,” kata Siti.

Anak-anaknya kerap bertanya mengenai nasib yang sedang mereka lalui, kesedihan kerap datang saat itu. Tapi bukan kesedihan itu yang Siti tunjukkan di depan anak-anaknya. Ia ingin menjadi contoh bagi mereka untuk tetap kuat di tengah cobaan.

“Alhamdulillah, anaknya mau mengerti. Mau bagaimana lagi. Kuat tidak kuat, kita harus kuat. Namanya orang tua harus jadi pembimbing. Kadang sedih, tapi kalau menangis tidak harus di depan anak. Kita harus jadi orang yang kuat di depan anak-anak,” ujar Siti.

Siti berharap nasib dapat berubah menjadi lebih baik ke depannya. Tentu ia berpikir untuk pindah dan membangun kembali rumahnya jika rezeki benar-benar berpihak kepadanya. “Bagaimana nantinya, kalau sudah dapat rezeki saja dipikirkan. Mudah-mudahan nanti ada rezeki. Kalau sekarang belum kepikiran,” ucap Siti. []


Bagikan