Melampaui Luka Psikologis, Membentuk Generasi Sehat Mental

Luka psikologis yang dibawa dalam rumah tangga sedikit banyak dapat berdampak kepada anak, sehingga perlu disembuhkan. Hal ini disampaikan dalam kelas parenting yang dihelat oleh Yayasan Al-Marhamah bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) Langsa pada Sabtu (27/11/2021).

kelas parenting act
Kelas parenting ini diberikan kepada wali santri Yayasan Al-Marhamah, mulai dari tingkatan PAUD hingga SMP. (ACTNews)

ACTNews, LANGSA – Yayasan Al-Marhamah berkolaborasi dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Langsa, menyelenggarakan kelas parenting untuk wali santri. Helatan ini bertemakan: “Inner Child, Membangun Karakter yang Baik atau Menyembuhkan Luka dari Masa Kecil“ diadakan pada Sabtu (27/11/2021) di Aula Cakra Donya, Kota Langsa.

Setiap orang pasti memiliki luka psikologis, yang jika tidak diatasi maka akan berdampak dalam setiap keputusan dan tindakan sehari-hari. Luka psikologis di masa kecil lebih dikenal dengan inner child, yaitu kondisi trauma di masa lalu, yang masih membekas sampai beranjak dewasa malah sampai tua.

Inner child atau luka psikologis bisa terjadi karena bencana alam, bullying, atau perilaku yang kurang tepat dari orang tua sehingga anak menjadi trauma. Salah satunya seperti mengurung anak di kamar mandi, menganiaya, mengeluarkan kata-kata yang buruk, dan sebagainya,” ujar Rahmah Nur Rizki, S.Psi., M.Psi, Founder dan Trainer Sekolah Inspirasi yang menjadi salah satu pemateri.

Di antara tanda-tanda luka psikologis tersebut yakni emosi yang sering meledak-ledak, dan cenderung tidak stabil. Kondisi ini berbahaya jika terbawa ke dalam rumah tangga, terutama ketika pasangan memiliki anak. Sedikit banyak, pola asuh semacam ini bisa mendampak kepada mental sang anak.

Rahmah menyarankan bahwa luka ini mesti disembuhkan, salah satunya lewat terapi psikologi. Tidak lupa juga Rahma mengingatkan kepada para orang tua untuk bijaksana dalam megelola emosi yang dirasakan.


Menurut Rahmah, luka psikologis ini dapat disembuhkan salah satunya melalui terapi psikologis. (ACTNews)

“Pesan saya kepada bapak atau ibu, untuk memaafkan semua kejadian buruk yang pernah dialami, dan mari terus belajar ilmu parenting. Sehingga anak-anak tidak menjadi korban dari kesalahan perilaku kita. Dan ini memang butuh waktu, tetapi jika tidak dilakukan ini akan menjadi bumerang bagi kita di masa depan, karena apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai,” imbuhnya.

Program ini merupakan program tahunan yang dilaksanakan oleh Yayasan Al-Marhamah, di mana turut mengundang seluruh wali santri. Baik dari tingkat Tahfiz Anak Usia Dini (TAUD), Raudhatul Atfal (RA), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT) dan Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP IT).

“Tema ini merupakan salah satu upaya sinergitas antara sekolah dengan wali santri. Sehingga kita mampu mencapai tujuan bersama, yaitu membentuk generasi yang sehat secara mental, berakhlak baik, dan cerdas secara intelektual,” ungkap Irma sebagai Humas SD IT Al-Marhamah.


Sementara Kepala Cabang ACT Langsa Ryanda Saputra bersyukur atas kolaborasi ini. Menurut dia peranan orang tua cukup penting, seraya mengutip sebuah hadis bahwasannya setiap anak terlahir dalam kondisi fitrah, kecuali orang tuanya menjadikan Yahudi, Nasrasi, atau Majusi.

“Ini menunjukkan bahwa setiap anak adalah representasi dari didikan para orang tua, dan sudah seyogianya jika ingin melahirkan generasi emas, kita harus memperbanyak kajian-kajian tentang bagaimana mendidik anak dengan baik. Salah satunya juga adalah bagaiamana kita menyembuhkan luka psikologis yang pernah kita alami di masa lampau,” ujar Ryanda.

Sebelum kegiatan ini ditutup dengan sesi mancakrida, Keluarga Besar Yayasan Almarhamah Langsa, termasuk wali santri menyerahkan donasi untuk program pembangunan Sumur Wakaf untuk pesantren yang ada di Kota Langsa. Ryanda berharap, kolaborasi ini dapat menginspirasi institusi lain di Langsa, maupun seluruh Indonesia. []