Melawan Keterbatasan, Anak Alor Itu Kini Bersekolah di Jakarta

Di tengah keterbatasan ekonomi, keluarga murid serta guru di Alor menjadikan pendidikan sebagai prioritas. Mereka percaya, pendidikan dapat mengubah nasib mereka di kemudian hari. Belasan murid berprestasi dari Alor pun kini bisa melanjutkan sekolah di Jawa.

Melawan Keterbatasan, Anak Alor Itu Kini Bersekolah di Jakarta' photo

ACTNews, JAKARTA Amin seolah terpukau dengan deretan gedung pencakar langit di sepanjang jalan yang dilalui dari bilangan Warung Buncit-Tanah Abang-Masjid Istiqlal-Monumen Nasional hingga berakhir di Menara 165 di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Jumat (26/7), Amin serta murid lain dari Alor yang didampingi guru-gurunya berkesempatan mengunjungi beberapa ikon ibu kota. Ini adalah pengalaman pertama Amin, bocah usia sekolah menengah pertama, berkeliling ibu kota setelah satu malam mendarat di Jakarta. "Bagus," lirih Amin, tampak malu.

Di sela kesibukannya mengikuti masa pengenalan akademik di Fath Institute, Jakarta, Amin yang baru saja lulus dari Madrasah Ibtidaiyah Swasta Timuabang ini menuturkan kepada Aksi Cepat Tanggap (ACT) betapa bangganya ia bisa melanjutkan sekolah di ibu kota. “Senang sekolah di Jakarta,” ungkapnya singkat setelah melaksanakan salat Jumat di Masjid Istiqlal.

Amin merupakan salah satu dari tiga orang murid Kadir, perintis MIS Timuabang, yang berkesempatan melanjutkan sekolah di Jakarta.  Ada 10 orang murid Kadir lainnya yang bertolak ke Jawa, tepatnya Bojonegoro, Jawa Timur untuk masuk di salah satu pesantren di sana. Mereka merupakan siswa dari MIS Timuabang yang secara akademis dan semangat belajar cukup baik dan mendapatkan beasiswa dari Global Zakat-ACT. Kehadiran belasan siswa Alor di Jawa adalah buah keyakinan dan usaha orang tua serta guru-guru mereka di Alor yang senantiasa memprioritaskan pendidikan mereka di tengah keterbatasan ekonomi. 

Kadir menuturkan, anak-anak yang berangkat ke Jawa ini merupakan mereka yang berasal dari keluarga prasejahtera di kampungnya. Orang tua mereka sebagian besar adalah nelayan tradisional. Ada juga yang orang tuanya merantau ke Batam, Kepulauan Riau, atau Malaysia untuk mengadu nasib.

“Sebagian besar penduduk di Timuabang prasejahtera, mereka menggantungkan nasib pada hasil laut atau merantau dengan pekerjaan yang juga belum jelas,” ungkap Kadir sambil mendampingi murid-muridnya mengunjungi Monas, Jumat (26/7).


Walau murid-muridnya hadir dari keluarga prasejahtera, Kadir mengaku, keluarga mereka sangat mendukung pendidikan anak-anaknya. Orang tua anak didiknya tak pernah memaksakan anaknya untuk membantu pekerjaan orang tua, malah mendorong anaknya terus sekolah. “Istilahnya, orang tua mereka menekankan, apa pun yang terjadi anaknya harus sekolah,” jelas Kadir.

Seluruh murid yang bersekolah di MIS Timuabang bimbingan Kadir tak dimintai biaya satu rupiah pun. Mereka bersekolah gratis. Saat ini terdapat lima ruang kelas yang berdiri dari ACT yang mereka manfaatkan serta enam guru yang mendidik puluhan siswa.

Seluruh guru yang mengajar dri MIS Timuabang tak mendapatkan gaji tetap. Tiap bulannya mereka hanya mendapatkan sembako dari seorang donatur, sedangkan ada Biaya Operasional Sekolah atau BOS dari pemerintah sebesar Rp 22 juta per semester. BOS ini yang menjadi gaji mereka.

Abdullah, salah satu guru MIS Timuabang, turut mengiringi muridnya berangkat ke Jakarta untuk bersekolah. Abdullah menuturkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, ia dan guru lainnya biasa mencari pekerjaan lain. Ia memilih menjadi nelayan. Hasil laut yang melimpah menjadi gantungan hidup untuk ketersediaan lauk makan.


Guru yang mengajar di Timuabang tak seluruhnya lulusan pendidikan tinggi atau sarjana. Sebagian dari mereka bersekolah dengan cara mengejar paket. Walau begitu, pengalaman serta asa untuk membangun semangat belajar anak-anak di Timuabang menjadi kekuatan mereka mengajar. “Pak Abdullah dulu merantau di Batam, rambutnya gondrong. Tapi saat kembali ke Timuabang saya dekati dia, saya lihat ada semangat yang terpendam untuk membantu saya membangun pendidikan yang layak di Timuabang,” tutur Kadir sambil terkekeh saat menceritakan masa lalu Abdullah.

Abdullah yang juga ipar Kadir ini awalnya mendapatkan tentangan dari orang tuanya. Orang tua Abdullah tidak setuju atas adanya sekolah itu karena tak dapat menghidupi gurunya. Namun, usaha Kadir untuk meluluhkan Abdullah dan orang tuanya juga orang-orang lain yang tak sepakat dengan adanya MIS Timuabang berbuah manis. Kini, tak sedikit dari mereka mendukung bahkan terlibat dalam kegiatan MIS Timuabang.

Walau sebagian guru tak memiliki latar belakang pendidikan tinggi, sebuah bukti dari ketekunan melahirkan kebanggaan. Dalam perjalanannya sejak 2011 hingga sekarang, beberapa siswa MIsSTimuabang telah menyabet medali dalam olimpiade tingkat nasional. Di tengah keterbatasan buku ajar, bacaan, fasilitas pendidikan, serta alat peraga pendidikan, prestasi demi prestasi dapat lagi.

“Kami belajar dari bahan yang ada saja, seperti Majalah Bobo. Di dalamnya kan ada soal, ya dari situ anak-anak ini belajar untuk persiapan olimpiade sains,” kenal Kadir saat ditanya bagaimana cara muridnya belajar untuk persiapan perlombaan. []

Bagikan