Melawan Sakit, Wawan Tetap Berjuang di Tengah Pandemi

Sejak pertengahan bulan Juni lalu, pendapatan Wawan sebagai sopir taksi tak menentu, bahkan menurun. Ia tak lagi bisa menafkahi anak-anak dan istrinya dengan baik. Ketika ditemui pun, Wawan mengaku belum makan sejak semalam.

Perjuangan di Tengah Pandemi
Wawan, supir taksi yang tengah berjuang di tengah pandemi dan himpitan ekonomi

ACTNews, JAKARTA – Wawan Hermawan (42 tahun) seorang supir taksi asal Jasinga, Bogor, harus berjuang di tengah pandemi Covid-19. Ia terpaksa meninggalkan istri dan kedua anaknya demi mencari nafkah di Ibu Kota.

Wawan kini tinggal di sebuah kontrakan petak bersama dengan teman-teman seperjuangan yang juga berprofesi sebagai supir taksi. Ia tinggal di sekitaran pool taksi, tepatnya di daerah sawangan, Depok.

Pelanggan demi pelanggan, ditawarinya jasa antar jemput ke setiap sisi kota. Setiap hari ia berangkat pada pukul 08.00 WIB dan pulang pukul 21.00 WIB. Terkadang waktu tak menentu, tergantung banyaknya penumpang hari itu.

Awal bulan April, pendapatan Wawan melebihi batas normal. Dalam sehari, ia bisa mendapat 500 ribu sampai dengan 700 ribu. Wawan bercerita pendapatan ini sama seperti yang ia hasilkan sebelum pandemi Covid-19.

“Awal bulan April kondisi sudah mulai membaik, pendapatan saya lumayan, banyak penumpang yang bisa saya antar jemput. Dalam sehari hitungan normal saya bisa dapat 500 ribu sampai 700 ribu,” ucapnya dengan penuh semangat namun ada kesedihan dibalik wajahnya.

Usai lebaran Idul Fitri 2021, tepatnya memasuki pertengahan bulan Juni pendapatan Wawan tak menentu, bahkan menurun. Ia tak lagi bisa mengirim upah hasil kerjanya kepada istri dan anak-anak, toh untuk makan pun Wawan kelabakan.

Kondisi makin parah, penyebaran virus covid-19 di Indonesia semakin tinggi terkhusus DKI Jakarta. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ditemukan 9.702 kasus baru Covid-19 di wilayah DKI Jakarta.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diberlakukan oleh pemerintah. Seluruh aktivitas diberhentikan kecuali sektor esensial, dengan 50 persen staf yang diperbolehkan bekerja di kantor.

Dampak dirasakan oleh wawan, sambil berkaca-kaca ia menyampaikan keluhannya. Mulutnya bergetar seraya menahan air mata yang segera membasahi pipi. Wajah lelahnya nampak terlihat dan tak dibuat-buat.

“Ini saya maksain, agak kurang sehat kayaknya kebanyakan pikiran, cuma bingung kalo saya nggak narik saya nggak makan, semalam saja saya nggak dapat sama sekali,” jelas Wawan saat ditemui di RSU Fatmawati, Rabu (30/6/2021).

Sambil menangis, Wawan bercerita bahwa saat ini kondisi istrinya tengah menderita sakit. Ia kesulitan membelikan istrinya obat sebab upah yang ia dapat hanya cukup untuknya makan sekali.

“Kadang saya juga sampai nangis, liat anak juga masih kecil, istri juga lagi sakit nggak ada yang ngurusin,” ucap Wawan sambil berderai air mata.

Pada hari itu, melalui program Operasi Pangan Gratis, Humanity Food Truck ACT sedang mendistribusikan paket makanan berisi sajian lezat kepada seluruh tenaga kesehatan di RSU Fatmawati. Ketika tengah melintas, Tim ACT melihat Wawan yang tengah berdiri menunggu penumpang. Tim ACT pada saat itu pula memberikan paket makanan lezat kepada Wawan. Ia mengaku bahwa ia sama sekali belum menyantap makan sejak semalam, padahal pagi harinya ia harus berangkat mencari nafkah.

Wawan mengucapkan terimakasih atas bantuan makanan lezat dari para dermawan Indonesia melalui Humanity Food Truck. Ia berharap orang-orang yang tidak beruntung seperti Wawan bisa mendapatkan manfaat seperti ini.

“Terimakasih ACT, Terimakasih tetap menebar kebaikan,” ucapnya.