Melemahnya Denyut Listrik di Gaza

Lebih dari satu dekade, Gaza bertahan dalam krisis listrik yang “mematikan”. Tidak adanya listrik bukan hanya menyebabkan gelap di Gaza, tetapi juga menghentikan tindakan medis di rumah sakit yang juga mengancam nyawa pasien.

Melemahnya Denyut Listrik di Gaza' photo
Aksi Cepat Tanggap menyuplai bantuan puluhan liter bahan bakar untuk kebutuhan listrik di sejumlah rumah sakit di Gaza.

ACTNews, GAZA – Pemutusan saluran listrik di Palestina berdampak ke segala sektor. Kesehatan, air bersih, pertanian, hingga ekonomi terkena dampaknya. Listrik membuat sektor kesehatan Palestina sangat bergantung pada bahan bakar untuk menjalankan generator cadangan selama listrik tidak berfungsi. Tantangan tidak berhenti sampai di situ. Tidak semua fasilitas kesehatan di Palestina mampu menyuplai bahan bakar untuk menjalankan generator.

Menurut laporan situasional Organisasi Keaehatan Dunia (WHO) yang dirilis peretengahan September ini, hanya 9 dari 14 rumah sakit umum di Palestina yang memiliki akses hingga 22 jam listrik setiap hari.

“Kami mengalami krisis bahan bakar. Israel memutus pasokan listrik beberapa tahun terakhir. Kami terpaksa menunda sejumlah tindakan dan mendistribusikan lebih banyak selimut bagi pasien anak, sebab udara begitu dingin,” ungkap Mohammaed Hijazi, seorang kepala perawat di salah satu rumah sakit di Raffah, Gaza.


Dr. Aiman selaku Walikota Az Zawaidah, Gaza, menguatkan keadaan memprihatinkan itu. Menurut Aiman, terputusnya listrik berdampak pada sejumlah sektor di wilayahnya. “Sejumlah rumah sakit hanya bisa memberikan bantuan pelayanan minimal. Mereka meminta bantuan kepada UNRWA, pemerintah pusat, pemerintah daerah, individu-individu atau ke beberapa organisasi internasional yang dapat memberikan bantuan,” terang Aiman kepada ACTNews awal September lalu.

Ia mengatakan, pada umumnya, rumah sakit di Palestina sangat bergantung pada bantuan-bantuan dan pendanaan dari dunia internasional, khususnya dari Indonesia yang banyak memberikan dukungan, baik kepada rumah sakit maupun pada pemerintah daerah.

“Indonesia memainkan peranan yang besar dan penting yang dirasakan banyak pihak. Rumah sakit-rumah sakit itu beroperasi sesuai dengan bantuan yang mereka peroleh. Sebagian pasien bahkan meninggal akibat kekurangan obat-obatan. Kurangnya solar juga membuat mereka harus meminjam bahan bakar sampai datangnya bantuan,” lanjut Aiman.

Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response (GHR) – ACT mengungkapkan, peran kedermawanan mampu menjadi “cahaya” di tengah gelapnya Palestina yang mengalami krisis listrik. “Hingga saat ini, Palestina masih membutuhkan peran para dermawan untuk menghadapi sejumlah masalah kemanusiaan, baik krisis listrik, keterbatasan obat-obatan, hingga kesediaan pangan. Semoga peran kedermawanan masyarakat Indonesia dapat lebih masif lagi dalam membantu masyarakat Palestina,” terang Faradiba. []

Bagikan