Melihat Kembali Keberhasilan Wakaf sebagai Instrumen Investasi

Jika melihat keberhasilan wakaf di zaman sebelumnya, tidak ada salahnya mengatakan bahwa wakaf adalah bagian dari investasi karena menguntungkan peradaban di jangka panjang.

Ilustrasi. Manfaat wakaf dapat dinikmati secara umum, bukan hanya terkhusus untuk orang Islam saja. (ACTNews/Reza Mardhani)
Ilustrasi. Manfaat wakaf dapat dinikmati secara umum, bukan hanya terkhusus untuk orang Islam saja. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Investasi pada dasarnya adalah penanaman modal dalam sebuah perusahaan atau proyek untuk memperoleh keuntungan. Berbagai instrumen investasi pun menjadi sarana memperoleh keuntungan tersebut, seperti saham, emas atau obligasi.

Imam Teguh Saptono sebagai Wakil Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia dalam hal ini menawarkan cara pandang lain. Menurut Imam, zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) pun termasuk dalam instrumen investasi.

Membincang wakaf, Imam melihat kembali di zaman keemasan wakaf menjadi gaya hidup umat Islam. Berbagai fasilitas dari wakaf berdiri untuk kemanfaatan masyarakat sendiri.  

“Begitu industri wakaf itu berkembang dan investasi wakaf itu begitu marak, maka anak cucu keturunan kita akan terjamin dan tidak akan bisa lepas dari kontribusi wakaf. Dia akan lahir di rumah sakit wakaf, kemudian akan sekolah di sekolah wakaf, kemudian akan bekerja di perusahaan-perusahaan wakaf, akan beribadah di masjid-masjid wakaf, kemudian akan wafat pun di tanah-tanah wakaf,” jelas Imam dalam Live Virtual Waqf Training Global Waqf Academy - Aksi Cepat Tanggap pada Selasa (27/4/2021).


Imam memberikan pandangan bahwa ziswaf adalah instrumen investasi, terutama wakaf. (ACTNews)

Imam menjelaskan, di zaman kekuasaan Umar Abdul Azis pada tahun 818-821 masehi, tidak ada lagi orang yang menerima zakat. Salah satu sebabnya karena saat itu negara meminjamkan modal tanpa bunga untuk para pedagang yang membutuhkan. Umar bahkan meminta istrinya yang bernama Fatimah untuk memberikan perhiasannya kepada Baitul Mal negara.

“Sehingga kalau kita berumrah itu di Arafah ada saluran yang nama saluran airnya Fatimah. Fatimah itu sebenarnya istri dari Umar Abdul Azis, yang saluran air itu dibangun dari wakaf perhiasan istri beliau,” kata Imam.

Begitu pula dengan cerita populer tentang wakaf sumur Utsman bin Affan yang mengairi kebun kurma. Dan hingga 1.400 tahun kemudian atau hari ini, hasil perkebunan itu menjelma menjadi hotel megah.

Di zaman kekhalifahan Abbasiyah, wakaf juga menopang fasilitas kesehatan. Saat itu pengobatan dilakukan secara gratis tanpa syarat. Salah satunya yang terkenal adalah Al-Adudi Hospital Baghdad.


Dalam sumber-sumber yang ditemukan Imam, satu rumah sakit di zaman itu juga ditopang oleh satu kebun seluas desa. “Jadi pasien-pasiennya adalah mauquf alaih, sementara asetnya itu berupa kebun-kebun yang mem-back up operasional dari rumah sakit-rumah sakit tersebut,” ujarnya.

Dalam pendidikan, ada Universitas al Qarawiyyin yang berdiri di Maroko pada tahun 859, dan Al-Azhar di Mesir. Konsep wakaf ini kemudian dibawa ke Eropa dan melahirkan konsep serupa dengan nama endowment fund dan bidang pendidikan Eropa ikut membidani zaman keemasan mereka.

Menurut Imam, manfaat wakaf dapat dinikmati secara umum, bukan hanya terkhusus untuk orang Islam saja. “Wakaf ini salah satu instrumen yang menunjukkan Islam rahmatan lil alamin. Jangankan umat selain muslim, bahkan dalam sejarahnya disebutkan bahwa wakaf ini pernah digunakan untuk konservasi alam. Membiayai kelestarian hewan, dan seterusnya,” tutur Imam.[]