Melihat Lebih Dekat Keterbatasan di Pulau Medang

Pulau-pulau tepian negeri Indonesia tak terlepas dari permasalahan sosialnya. Masyarakatnya hidup dengan berbagai keterbasan fasilitas hingga wawasan. Lewat safari yang dilakukan ACT di pekan akhir Juni ini ke Lingga, kita coba melihat kesenjangan yang nyata.

ACTNews, LINGGA  Kapal ferry yang akan membawa tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah siap di Pelabuhan Telaga Punggur, Batam di Kepulauan Riau, Selasa (25/6). Tujuan pertama perjalanan ini ialah Dermaga Tajur Biru di Kabupaten Lingga yang memakan waktu lebih kurang tiga jam perjalanan laut.

Tak berakhir di sana, tujuan tim ACT ialah Pulau Medang di Kecamatan Katang Bidare, Lingga. Dari Dermaga Tajur Biru, masih butuh waktu satu hingga dua jam lagi menggunakan kapal kayu tradisional atau dalam bahasa lokal disebut pompong. Untuk perjalanan menggunakan ferry, hanya ada satu jadwal per harinya.

Pulau Medang merupakan salah satu gugusan pulau dari total 377 pulau besar dan kecil yang membentuk kabupaten yang masuk administrasi Kepulauan Riau. Berdasarkan data yang dihimpun ACT, Pulau Medang merupakan desa yang memiliki luas 634,98 kilometer persegi. Dengan luas itu, Pulau Medang dihuni setidaknya 261 penduduk. Nelayan menjadi profesi utama warganya.


Dari penuturan masyarakat setempat, di Pulau Medang masih minim fasilitas pembelajaran Islam. Sebelum tahun 2016, belum ada pusat pembelajaran agama. Akibatnya setiap ada orang yang meninggal saat itu, proses pemakaman diurus oleh orang lain yang didatangkan dari luar desa atau pulau. Sedangkan masyarakat Pulau Medang masih minim pengetahuan pengurusan jenazah.

Pada akhir 2016, Tri Agus bersama istri yang berasal dari Grobogan, Jawa Tengah, perlahan mengakhiri kebutaan masyarakat Pulau Medang akan pengetahuan agama. Mereka membuat pusat pembelajaran Islam dengan mendirikan Pondok Tahfiz Al-Mubarok di atas rumah panggung sederhana hasil pinjaman warga setempat. Memang belum sempurna bangunannya, dana menjadi kendala utama.

Kini, tiga tahun berjalan, pondok pesantren yang didirikan Tri Agus diisi oleh masyarakat Pulau Medang, bahkan dari luar pulau untuk menuntut ilmu agama. Sedangkan jika ada anak yang hendak melanjutkan pendidikan menengah harus menyeberang pulau karena tak ada ketersediaan sekolah di Pulau Medang.

Tri Agus menuturkan keadaan di Pulau Medang, di mana fasilitas pendidikan dan kesehatan. Di Pulau Medang masih minim. Manya ada 1 faskes dengan satu orang bidan yang didatangkan dari Riau. Bidan ini yang melayani masyarakat yang sakit dan melahirkan. “Bidan yang ditugaskan di sini tak hanya melayani di Kecamatan Katang Bidare (Pulau Medang), tapi juga hingga Senayang. Kendalanya pasokan obat yang datang per 3 bulan dan tak lengkap,” jelas Tri, Rabu (26/6).


Warga Pulau Medang hingga kini masih belum bisa menikmati aliran listrik PLN. Sumber listrik utama masih berasal dari genset. Di sana, gemerlap lampur elektrik hanya dapat menyala lima jam, dari pukul 18.00 hingga 23.00 WIB.

Menapak tanah Lingga, tepatnya di Pulau Medang memang seakan melihat kesenjangan yang nyata dengan Batam yang penuh dengan gemerlap kota industri. Tak hanya keterbatasan ekonomi dan fasilitas publik, ketersediaan pangan juga menjadi barang yang mahal.

Untuk itu, selain melakukan pemetaan masyarakat Pulau Medang, ACT di waktu yang sama mendistribusikan paket pangan. Paket ini diberikan ke warga prasejahtera yang bermukim di Pulau Medang. Tidak hanya pendistribusian, ke depannya ACT akan terus memantau wilayah tersebut untuk aksi kemanusiaan berikutnya.[]