Melihat Pengembangan Wakaf di Berbagai Negara

Umat Islam di berbagai belahan dunia kini menyadari kemaslahatan wakaf. Oleh karenanya, banyak negara yang kini terus mengelola wakaf secara profesional.

Salah satu proyek pengembangan wakaf yang diutamakan di Arab Saudi adalah pembangunan perumahan penduduk di sekitar Masjid Nabawi.
Ilustrasi Masjid Nabawi. Salah satu proyek pengembangan wakaf yang diutamakan di Arab Saudi adalah pembangunan perumahan penduduk di sekitar Masjid Nabawi. (Flickr/Shahid Siddiqi)

ACTNews, JAKARTA – Wakaf terus berkembang seiring umat Islam sadar akan pengaruh wakaf bagi peradaban. Perkembangan ini telah terjadi sejak tahun 1983 dan tidak hanya di negara mayoritas muslim, tetapi juga di Eropa hingga Amerika. Pengelolaannya pun profesional. Berikut ontoh pengelolaan wakaf di beberapa negara yang bersumber dari Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Turki

Di Turki wakaf ada yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Wakaf dan ada pula yang dikelola nazir. Direktorat Jenderal Wakaf ditunjuk oleh Perdana Menteri dan berada di bawah kantor perdana menteri. Untuk mengembangkan wakaf, Direktorat Jenderal Wakaf juga melakukan kerja sama dan investasi dengan berbagai lembaga.

Hasilnya wakaf mampu memberikan pelayanan untuk masyarakat. Sebut saja pelayanan kesehatan, yang mana salah satu di antaranya adalah rumah sakit yang didirikan pada tahun 1843 di Istanbul oleh ibu dari Sultan Abdul Mecit yang kemudian dikenal dengan Bezmi Alan Valid Sultan Guraki Muslim. Saat ini rumah sakit tersebut masih merupakan salah satu rumah sakit modern di Istanbul yang memiliki 1.425 tempat tidur dan kurang lebih 400 dokter, perawat dan staf.

Wakaf juga menjamah bidang pelayanan pendidikan dan sosial. Pada saat ini Turki tetap mempertahankan kelembagaan Imaret. Lembaga ini sudah dikenal sejak Zaman Turki Usmani. Beberapa bangunan wakaf juga digunakan untuk asrama mahasiswa yang tidak mampu. Tercatat ada 50 asrama di 46 kota yang menampung lebih kurang 10.000 mahasiswa.

Arab Saudi

Untuk memperkuat kedudukan harta wakaf, Pemerintah Saudi Arabia membentuk Kementerian Haji dan Wakaf. Kementerian ini mempunyai kewajiban mengembangkan dan mengarahkan wakaf sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh wakif.

Wakaf yang ada di Saudi Arabia bentuknya bermacam-macam seperti hotel, tanah, bangunan untuk penduduk, toko, kebun, dan tempat ibadah. Dari macam-macam harta wakaf tersebut ada yang diwakafkan untuk dua kota suci, yakni Kota Mekah dan Madinah.

Pemanfaatan hasil wakaf yang utama adalah untuk memperbaiki dan membangun wakaf yang ada agar wakaf tersebut kekal dengan tetap melaksanakan syarat-syarat yang diajukan oleh wakif. Proyek-proyek pengembangan wakaf lain yang juga diutamakan adalah pembangunan perumahan penduduk di sekitar Masjid Nabawi.


Yordania

Pengelolaan wakaf di Yordania tergolong sangat produktif. Hasil pengelolaan wakaf itu dipergunakan berbagai proyek kemaslahatan umat. Pertama, memperbaiki perumahan penduduk di beberapa kota. Salah satu di antaranya adalah kota yang luas areanya 79 dunum (satu dunum sekitar 900 meter persegi).

Tanah pertanian merupakan salah satu wakaf yang utama di Yordania. Pohon zaitun, kurma, dan buah badam menjadi tanaman pilihan mereka. Ribuan pohon tersebut menjadi salah satu penggerak masyarakat mereka.

Adapun hasil yang sudah dicapai dari pengembangan wakaf yang dilakukan oleh Wizaratul Auqaf (Departemen Perwakafan) Kerajaan Yordania antara lain digunakan untuk kepentingan pendidikan, kesehatan, dan warga prasejahtera.  Selain itu, mereka juga mendirikan dua lembaga yang cukup penting, yakni lembaga Arkeologi Islam dan lembaga peninggalan-peninggalan Islam.

Pakistan

Pakistan mempunyai lembaga filantropi Hamdard Foundation yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan filantropi. Mereka telah membangun kota yang diberi nama Madinat al-Hikmah. Kota ini dibangun di atas lahan seluas 350 hektar di dekat Karachi, di dalam kota ini antara lain terdapat rumah sakit yang memberikan layanan kesehatan secara gratis kepada penduduk di 38 desa di sekitar Madinat al-Hikmah. Sebelum ada rumah sakit tersebut, penduduk desa-desa tersebut mengalami kekurangan fasilitas kesehatan.


Amerika Serikat

Sebagai negara yang penduduk Muslimnya masih minoritas, penduduk muslim Amerika mereka mampu mengembangkan wakaf yang ada secara produktif. Pada mulanya umat Islam di Amerika selalu mendapatkan bantuan dana dari negara-negara Timur Tengah, namun sejak tahun 1990 terutama setelah Perang Teluk jumlah dana yang mereka terima relatif berkurang.

Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan umat Islam di Amerika Serikat, khususnya di New York, Kuwait Awgaf Public Foundation (KAPF) memberikan sejumlah wakafnya untuk pembangunan lahan yang dimiliki oleh The Islamic Cultural Center of New York (ICCNY). Sebagai lembaga yang mengelola wakaf, KAPF juga menerima dana zakat, infak, sedekah dan pendapatan dari investasi-investasi yang sesuai dengan syariat Islam.

Untuk mengembangkan wakaf yang ada, lembaga ini menyewakan 80 persen apartemen yang mereka miliki, sedangkan 20 persen diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu. Untuk mengelola wakaf, mereka benar-benar mempertimbangkan aspek bisnis. Dengan demikian, wakaf yang mereka kelola menghasilkan dana yang cukup besar yang selanjutnya akan memperbesar dana wakaf yang mereka kelola. Dalam mengembangkan wakaf, mereka juga melibatkan A-Manzil Islamic Financial Services yang merupakan divisi The United Bank of Kuwait.[]