Meluangkan Waktu untuk Memajukan Pendidikan di Kampung Halaman

Usia Abdul baru menginjak 20 tahun. Sebagian waktunya kini ia gunakan untuk mengabdi demi memajukan pendidikan di kampungnya sendiri.

Meluangkan Waktu untuk Memajukan Pendidikan di Kampung Halaman' photo
Abdul Jumarna (20) mengajar kelas 1 dan 2 MIs Cilenja, Tasikmalaya, Jumat (24/1). Selepas lulus bangku SMA ia memilih mengabdikan dirinya mengajar di sekolah ini. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, TASIKMALAYA – Abdul Jumarna telah satu tahun mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIs) Cilenja, Desa Campakasari, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya. Usinya saat ini baru menginjak 20 tahun, ia baru saja menamatkan sekolah menengah atas. Akan tetapi, semangatnya di bidang pendidikan, terlebih di kampung halamannya sendiri, membuatnya memilih untuk mengabdikan diri sebagai guru.

Ia menuturkan, sejak masih duduk di bangku SMA, Abdul telah ikut dalam kegiatan di MIs Cilenja. Ia diminta oleh pamannya selaku pengurus sekolah, untuk terlibat dalam kegiatan MIs Cilenja. Abdul diminta menjadi pengajar ekstrakulikuler sekolah. Puluhan anak murid ikut dalam kegiatan itu. “Dasarnya memang suka main sama anak-anak, jadi enggak ada beban sama sekali waktu mengajar,” ungkapnya, kepada ACTNews, Jumat (24/1).

Saat ini, secara penuh Abdul mengabdikan dirinya sebagai guru di MIs Cilenja. Sambil mengambil kuliah kelas karyawan di salah satu perguruan tinggi di Tasikmalaya, Abdul tetap meluangkan waktunya untuk pendidikan di tanah kelahirannya sendiri. Tidak ada gaji besar yang diterimanya. Juga fasilitas yang ditunjang oleh sekolah. Akan tetapi Abdul mengaku ikhlas menjalankan semua kegiatannya di MIs Cilenja.

Kondisi pendidikan di kampungnya sendiri menggerakkan Abdul untuk mengabdikan dirinya di MIs Cilenja. Walau penghasilan sebagai guru tak dapat memenuhi semua kebutuhannya, terlebih ia sedang melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, hal itu tak menjadi halangan baginya mengajar.

“Alasan utama saya mau mengajar di sini karena saya enggak mau anak-anak di kampung saya sendiri kesulitan mendapatkan pendidikan. Walau sampai sekarang fasilitas sekolah hanya seadanya, tapi semangat dari guru mungkin bisa membuat anak-anak tetap semangat belajar juga,” ungkapnya.

Di Jumat itu, Abdul mengajar untuk kelas 1 dan 2 MIs Cilenja. Menggunakan papan tulis dan kapur, ia mengajarkan anak muridnya. Murid memperhatikan dengan saksama walau mereka duduk berdesakan di bangku yang terbatas jumlahnya.

Kini, Abdul hanya berharap sekolah tempatnya mengajar dapat lebih baik, khususnya di fasilitas. Kondisi sekolah yang masih beralas tanah serta meja dan kursi belajar yang seadanya hasil swadaya masyarakat diharapkan dapat lebih baik segera mungkin. “Kalau fasilitas sekolah layak kan bisa nambah semangat belajar anak-anak juga,” harapnya.[]  


Bagikan