Memaknai Hidup dengan Kesederhanaan dan Kedermawanan

Di tengah pandemi Covid-19, Sutrisno (78), warga Kampung Bulak, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, tidak pernah menyerah menjalani hidup. Tinggal di gubuk tanpa listrik di tanah orang, Sutrisno masih menyisihkan sebagian harta yang ia miliki untuk pembangunan masjid.

Sutrisno (78), warga Kampung Bulak, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, JAKARTA – Hujan memaksa ACTNews berteduh ke bangunan berukuran enam meter persegi itu. Di dalam, barang-barang cukup padat, ada satu ranjang kayu dan kasur hadiah tetangga, sebuah meja dengan kaleng-kaleng biskuit, botol-botol minum berukuran dua liter, dua kaleng sarden kecil, dan tumpukan buku yang menempel di dinding. Keadaan cukup gelap karena tidak ada listrik, ruangan langsung terasa sesak setelah tim ACTNews mencoba melindungi kamera dari tumpahan hujan. Namun Sutrisno (78), pemilik rumah itu, dengan lapang hati mempersilakan kami berteduh di rumahnya.

Lelaki baya itu berangkat ke Jakarta dari Jawa Timur pada 1962. Awalnya ia mendaftar sebagai relawan pembebasan Irian Barat Pemerintah Indonesia, namun pemuda lulusan sekolah rakyat itu tidak jadi berangkat. Sejak saat itu ia menetap di Jakarta.

Belasan tahun Sutrisno tinggal di bangunan sederhana, dari kayu beratap asbes. Langit-langit rumahnya hanya dibuat setinggi tubuh orang dewasa rata-rata. Ia sesekali mengingatkan kalau tikus suka hilir mudik di bawah. Bangunan itu memang didirikan di tengah kebun milik seseorang. “Saya disuruh jaga tanah ini kata yang punya,” bapak kelahiran 1942 itu membuka cerita.


Sutrisno (78) menunjukkan buku sisa jualannya. (ACTNews/Gina Mardani)

Di Jakarta, Sutrisno pun mengadu nasib dengan apapun, berjualan gorengan, menjadi tukang kebun, penggali tanah lepas, hingga berjualan buku. Tangan Sutrisno sedikit bergetar saat menunjukkan buku-buku sisa jualannya beberapa bulan lalu. Mulai dari buku sekolah, sastra, hingga buku-buku keagamaan. “Buku-buku ini saya baca di pos ronda karena di sini (rumah) tidak ada lampu,” lanjutnya.

Setelah berjualan buku, Sutrisno juga pernah berjualan gorengan dan buah-buahan belum lama ini. Usaha itu berhenti semenjak pembatasan sosial berskala besar. “Enggak laku (gorengannya) non. Enggak ada yang beli. Pernah bawa pisang, nangka, enggak ada yang beli. Sudah keliling seharian,” cerita Sutrisno.

Sutrisno kini memilih menjadi buruh gali lepas dari satu proyek ke proyek. Pasalnya, sebagai lulusan sekolah rakyat, ia mengaku hanya bisa mengerjakan bidang pekerjaan kasar.

Pekerjaan menjadi buruh gali juga tidak setiap kali Sutrisno dapatkan. Dalam seminggu belum tentu ada pekerjaan setiap hari. Ia pun berkeliling Jakarta mengayuh sepeda. 

“Biasanya dari sini (Kalideres) sampai Jatinegara (Jakarta Timur). Kalau belum dapat, biasanya saya pasang ini (tulisan “beri saya kerja”). Orang-orang mungkin sudah khawatir pakai tenaga saya, padahal dua truk (tanah) juga masih kuat, ha-ha-ha,” kelakar Sutrisno.

Informasi pekerjaan ia peroleh dari sesama pekerja lepas atau mandor proyek. Ponsel poliponik, yang setiap malam diisi daya di pos ronda, menjadi penghubung informasi. Sepekan jika ia mendapat pekerjaan, Sutrisno bisa mendapat upah Rp500 ribu. Pekerjaan gali yang ia lakukan adalah memindahkan tanah atau pasir galian. Pekerjaan itu datang dari proyek-proyek pembangunan gedung di Jakarta.

Pekerjaan penggali lepas pun tidak mudah saat ini, pemilik proyek terkadang juga lebih memilih menggunakan alat berat daripada tenaga manusia. “Sekarang cangkul sudah kalah dengan beko,” lanjutnya.


Berderma di kala sempit

Walaupun hidup dalam kesederhanaan, Sutrisno tidak pernah meminta. Tidak ada listrik baginya tak masalah. Ia bisa mandi dan salat di masjid. Sesekali ia menumpang isi daya di pos ronda sambil berjaga. Sutrisno tidak lupa berderma dengan uang hasil kerjanya ke masjid-masjid di Jakarta yang sepi jemaah. Ia mengatakan, jika masjid yang ramai biasanya sudah banyak penyumbangnya, sedangkan masjid atau musala di kampung-kampung amat jarang. Ia pun tidak tanggung-tanggung dalam menyumbang ke masjid. “Saya sudah tua, usia saya paling tidak lama lagi. Kalau saya tidak beramal lalu mau apa?” katanya.

Sebenarnya ia masih ada niat berdagang, namun belum benar-benar yakin karena pandemi. Di usia yang sekarang, ia pun tidak lelah belajar. Sutrisno mengaku dapat kenalan pedagang tekwan dan bakso. Jika ada modal, ia tidak takut berjualan.

Gerobak yang pernah ia gunakan untuk berdagang gorengan pun sudah usang. Kini, kompor di gerobak itu ia gunakan untuk masak sehari-hari. Seperti sore itu, ia lanjut merebus wortel dan tahu dengan bumbu garam dan lada sembari menyimpaan beras yang hari itu juga dibawakan Masyarakat Relawan Indonesia Jakarta Barat.


Peralatan yang dibawa Sutrisno untuk bekerja. (ACTNews/Gina Mardani)

“Makan begini cukup. Alhamdulillah. Sehat bisa kerja. Kadang ya diantarakan tetangga, kemarin saya diantarkan ayam panggang, saya enggak menyangka makan ayam panggang kemarin,” lanjutnya antusias.

Bagi Sutrisno, manusia harus bermanfaat selagi hidup. Ia pun berusaha membantu orang-orang yang juga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan untuk keluarganya, sejak ditinggal meninggal sang istri, Sutrisno tidak mau bergantung kepada anak perempuan semata wayangnya. Ia menolak mendapat kiriman setiap bulan. “Saya itu enggak sekolah, enggak punya apa-apa sebagai kakek untuk bantu cucu. Jadi, uangnya lebih baik buat cucu saya kuliah sampai S3 saja ha-ha-ha,” bercandanya lagi.

Tidak terasa hari sudah sore, hujan pun reda. Kesederhanaan dan kedermawanan Sutrisno pun menjadi bekal yang ACTNews bawa sore itu.[]