Membangkitkan Optimisme Bangsa lewat Semangat Masyarakat Sipil

Semangat dan solidaritas masyarakat sipil dianggap perlu untuk membangkitkan optimisme bangsa di tengah narasi tasyaum.

Pembicara diskusi Kebangsaan Civil Society Bahan Bakar Kebangkitan Bangsa yang diinisiasi Aksi Cepat Tanggap, dari kiri ke kanan Presiden Aksi Cepat Tanggap Ibnu Khajar, Pengamat Kebangsaan Rocky Gerung, Ketua Dewan Pembina Aksi Cepat Tanggap Ahyudin, dan pemandu acara Adrian Maulana. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, JAKARTA – Seiring meningkatnya potensi kerentanan sosial akibat pandemi corona baru, Aksi Cepat Tanggap mengajak masyarakat Indonesia meningkatkan solidaritas dan menyebarkan semangat kebangsaan. Ketua Dewan Pembina Aksi Cepat Tanggap Ahyudin mengatakan, ACT pun terus menjalankan aksi-aksi kemanusiaannya.

“Sejak pertengahan Maret, masyarakat yang berpartisipasi mendukung gerakan filantropi di tengah-tengah kondisi ini naik 154 persen,” kata Ahyudin dalam Diskusi Kebangsaan Civil Society Bahan Bakar Kebangkitan Bangsa yang diinisiasi Aksi Cepat Tanggap, Kamis (8/10). Dukungan masyarakat itu terrepresentasi dalam jumlah donatur ke ACT.

Pendiri ACT itu juga berharap, rasa kemanusiaan masyarakat semakin meningkat di tengah musibah kemanusiaan pandemi Covid-19. “Kami berharap betul pascapandemi ini lahir masyarakat berkarakter kemanusiaan,” kata Ahyudin.

Presiden Aksi Cepat Tanggap Ibnu Khajar mengatakan dengan tema besar "Bangkit Bangsaku", ACT tengah memelihara harapan hidup bangsa. “Masyarakat hari ini kebutuhannya sangat sederhana sebenarnya. ACT hadir untuk masyarakat yang tidak bisa bekerja karena pandemi, bukan hanya memberikan bantuan pangan, air minum, kesehatan, tetapi untuk memberitahu ke masyarakat bahwa ada entitas dari masyarakat. Lembaga kemanusiaan seperti ACT hadir untuk memastikan mereka masih punya harapan,” kata Ibnu. Alasan itu pula, lanjut Ibnu, yang membuat masyarakat bersolidaritas mendukung satu sama lain.

Sebab itu pula, melalui gerakan "Bangkit Bangsaku", ACT ingin menyampaikan bahwa relawan dan program-program ACT hadir untuk masyarakat, antara lain Lumbung Sedekah Pangan, Air Minum wakaf, dan Wakaf Modal Usaha Mikro.

Narasumber tamu pengamat kebangsaan Rocky Gerung pun menceritakan pengalamannya yang berhubungan dengan solidaritas demi kemanusiaan. Saat itu, Rocky pernah mendaki salah satu puncak tertinggi dunia, Himalaya. Saat pendakiannya, ia bertemu dengan sekelompok lembaga nonpemerintah yang terdiri dari tiga entitas berbeda: muslim, hindu, dan nasrani. Mereka tengah bergotong royong membangun kembali kehidupan pascagempa masyarakat di salah satu desa di Himalaya.

“Itu yang namanya act of care, melepaskan dimensi-dimensi lain dan masuk pada tujuan humanity: memulihkan harapan. Sebab, kehilangan harapan adalah kehilangan semangat, itulah tragedi kemanusiaan yang paling besar. Act adalah upaya memulihkan harapan bangsa bahwa kita bisa bangkit sebagai bangsa demi kemanusiaan yang adil dan beradab,” pungkas Rocky.[]