Membangun Karakter Bangsa dengan Kedermawanan

Menurut pengusaha Heppy Trenggono, peran Aksi Cepat Tanggap bukan sekadar menyampaikan kepedulian, namun juga membangun karakter bangsa.

Ilustrasi. Relawan MRI Jakarta Barat menyampaikan amanah dermawan berupa bantuan beras wakaf kepada Sutrisno, warga Kampung Bulak, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Tinggal di gubuk tanpa listrik di tanah orang, Sutrisno masih menyisihkan sebagian harta yang ia miliki untuk pembangunan masjid. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, JAKARTA SELATAN – Aksi Cepat Tanggap dianggap pengusaha Heppy Trenggono sebagai pembangun karakter bangsa. Menurut Heppy, ACT bukan hanya menyalurkan donasi dari masyarakat, tetapi juga mengajak orang-orang untuk berinfak, berwakaf, dan bersedekah.

“Semua itu hanya dimiliki orang-orang yang berkarakter kaya. Sedekah infak, wakaf, sedekah, bukan hanya dari orang yang banyak harta ke yang enggak punya uang, tetapi orang-orang yang mau kepada orang-orang yang membutuhkan. Bahkan orang-orang yang sangat terbatas hartanya mampu mewakafkan sesuatu, mampu bersedekah, di situ letak karakter,” kata Heppy usai Diskusi Kebangsaan bertajuk "Wakaf: Energi dan Kedaulatan Pangan", akhir Oktober lalu. Sebab itu, kehadiran ACT, lanjut Heppy, secara tidak langsung bukan hanya mengajak orang berderma, tetapi juga membentuk karakter bangsa penderma. 

Di tempat terpisah, kedermawanan dicontohkan langsung oleh Sutrisno. Warga Kampung Bulak, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, tidak pernah menyerah menjalani hidup. Bagi Sutrisno, manusia harus bermanfaat selagi hidup. Ia pun berusaha membantu orang-orang yang juga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga menyumbang ke masjid.


Ketua Dewan Pembina Aksi Cepat Tanggap Ahyudin (kiri) memberikan cenderamata kepada Heppy Trenggono usai menjadi pembicara Diskusi Kebangsaan bertajuk Wakaf: Energi dan Kedaulatan Pangan, akhir Oktober lalu. (ACTNews/Gina Mardani)

“Umur saya paling kalau ada 10 tahun lagi, kalau tidak?” katanya saat ditanya ACTNews alasannya berderma, padahal ia terlihat hidup dalam kesederhanaan.

Di Bandung, mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati berkolaborasi mengumpulkan bantuan pangan untuk masyarakat yang membutuhkan. "Kami tahu ya Covid-19 ini mengancam kesehatan dan mempengaruhi perekonomian. Maka kami ingin melakukan hal kecil dan ada perhatian kepada lingkungan sosial meski di rumah saja dalam bentuk gerakan Lumbung Sedekah Pangan,” tutur Anggi Agum Gumelar, Presiden Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UIN SGD selaku perwakilan mahasiswa.

Bahkan gerakan kedermawanan ini sudah dirumuskan ACT sejak September lalu melalui gerakan Bangkit Bangsaku. “Keterlibatan seluruh elemen masyarakat seyogyanya membuat masalah terlihat kecil dan dapat teratasi. Insyaallah, ikhtiar bersama ini akan membukakan jalan-jalan kemudahan,” ungkap Ahyudin saat mendeklarasikan gerakan “Bangkit Bangsaku”, Rabu (30/9).[]