Membangun Peradaban yang Baik dengan Wakaf

Apabila dikelola dengan baik, wakaf akan menciptakan peradaban yang tinggi dan baik bagi umat. Demikian menurut KH Mahfudz Syaubari, bahwa wakaf bisa mendorong manusia untuk saling mandiri, memberi, dan menyontohi.

Membangun Peradaban yang Baik dengan Wakaf' photo
KH Mahfudz Syaubari di tengah pengajian bersama jemaahnya. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, MALANG – Spontan KH Mahfudz Syaubari, MA sebagai pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Jannah di Kelurahan Ledok, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur menyebutkan salah satu dari ayat surat Al-Baqarah ketika ditanya soal wakaf. Baginya, implementasi dari wakaf ini adalah perwujudan dari adanya perintah di ayat-ayat tersebut.

“Jadi apakah itu Alquran? Hudal lil muttaqiin. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Siapakah orang-orang yang muttaqun? Yaitu allaziina yu`minuuna bil ghoibi, orang yang punya komitmen. Wa yuqiimuunash sholaah, orang yang selalu melaksanakan sesuatu sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP)-nya dalam ubudiyah, dalam muamalah, dalam muasyarah,” ujar KH Mahfidz Syaubari.

Ayat-ayat tersebut kemudian dilanjutkan dengan perintah untuk berinfak, (wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquun). Bagi KH Mahfudz, berwakaf berarti juga berinfak. Apabila wakaf ini dikelola dengan baik, KH Mahfudz yakin bahwasanya wakaf bisa menghasilkan peradaban yang kuat.

“Dan mereka orang yang selalu berupaya untuk bisa mengelola dari apa yang berada di sekitarnya dengan sukses, dan bisa menjadi kecukupan dirinya sendiri, dan mereka bisa berinfak. Wakaf adalah bagian dari berinfak ini. Maka kalau peradaban berinfak, dan sumber dari infak ini sudah mereka lakukan sesuai dengan SOP-nya, ini akan menjadi manusia yang punya peradaban yang sangat-sangat tinggi. Maka keberadaan dari perwakafan ini, bukan hanya sekadar untuk mendidik, tapi benar-benar untuk mendorong, bisa membuat manusia untuk mandiri, memberi dan nyontohi,” ungkap KH Mahfudz.


KH Mahfudz Syaubari bersama di belakangnya calon lahan yang akan digarap dengan dana wakaf. (ACTNews/Erwin Santoso)

Salah satu manfaat wakaf yang sedang coba diimplementasikannya saat ini adalah melalui lahan pertanian. Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I) yang didirikan salah satunya oleh KH Mahfudz Syaubari, bekerja sama dengan Global Wakaf – ACT dan Gerakan Masyarakat Pesantren untuk Ketahanan Pangan Indonesia (Gema Petani) akan menggarap 500 hektare lahan sawah dengan dana wakaf amanah dari masyarakat.

“Berdosa rasanya kalau kita tidak memfasilitaskan gerakan ini untuk ketahanan pangan. Maka di antaranya adalah apa yang kita lihat semua ini adalah gerakan dan support kita terhadap para petani. Memberi pola baru karena maaf, saat saya kecil dahulu per hektare hanya 7-9 kuintal masih cukup saat itu. Karena pola hidupnya masih pola hidup yang sangat sederhana. Belum ada sepatu, belum ada sandal, belum ada handphone, belum ada laptop, belum ada tetek mbengek,” ujar KH Mahfudz.

Sementara untuk saat ini, hasil panen petani baru dapat dikatakan berputar bila mendapat panen hingga belasan ton. Menurut KH Mahfudz, menjadi kewajiban bagi masyarakat untuk menawarkan inovasi kepada para petani agar pola pertanian mereka bisa menjadi lebih baik.


“Beberapa hari ke depan kita akan menanam besar-besaran di Jawa Timur, kurang lebih karena kerja sama kita dengan Global Wakaf – ACT, kita akan menanam sekitar 500 hektare,” jelas KH Mahfudz sembari menunjukkan calon lahan yang ada di Desa Morodadi, Kecamatan Singosari, Kota Malang, pada Ahad (18/10) lalu.

Nantinya gerakan ini tidak hanya akan mensejahterakan para petani, namun hasilnya juga akan mensejahetrakan masyarakat sekitar. Hal ini diungkapkan oleh Ahyudin, Ketua Dewan Pembina Aksi Cepat Tanggap sekaligus Presiden Global Islamic Philanthropy. “Lalu kemudian, kita punya program wakaf pangan, dari sawah ini nanti padi masuk ke Lumbung Beras Wakaf. Gabah akan digiling, yang hasilnya nanti insyaallah akan didistribusikan kepada masyarakat, termasuk petani jika masih tidak sejahtera,” ungkapnya ditemui di tempat yang sama.

Karena besarnya kekuatan wakaf ini, Ahyudin mengajak kepada masyarakat untuk semakin menggerakkan wakaf secara luas. “Mari gerakkan wakaf. Bebaskan kemiskinan umat. Mari kita perjuangkan kedaulatan pangan umat. Insyaallah, umat berdaulat dengan pangan, maka insyaallah umat mandiri, punya harga diri, tidak bisa didikte dan bebas dari kemiskinan,” ajak Ahyudin. []