Membantu Tak Pandang Bulu

Bagi Kusnandar dan Ahmad Gatra, membantu sesama manusia yang tertimpa musibah adalah keharusan.

Warga Railor Tahak yang merupakan non muslim menerima paket pangan dari ACT
Warga Desa Railor Tahak menerima bantuan paket pangan Sahabat Dermawan. (ACTNews/Muhamad Ubaidillah)

ACTNews, MALAKA — Kisah-kisah humanis kembali datang dari daerah terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur. Kusnandar (58) bersama keluarga adalah dai di Desa Haitimuk, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, NTT. Ia menjadi contoh penerapan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.

Rumah Kusnandar selamat dari bencana banjir yang melanda sebagian besar wilayah NTT. Ia bahkan mempersilakan penyintas banjir di Malaka yang kesulitan air bersih untuk memanfaatkan sumur bor milik keluarganya secara cuma-cuma.

Kusnandar tidak pernah terpikir soal agama dan suku para penyintas. Sebagai seorang manusia, yang ia yakini adalah membantu manusia lain yang membutuhkan adalah keharusan.

“Sebelum bencana terjadi, sumur bor sudah dimanfaatkan para tetangga saya yang berbeda-beda agama. Saat bencana datang, semakin banyak orang yang memanfaatkannya. Bagi saya, ini hal yang saya bisa lakukan dalam membantu para penyintas,” ujar Kusnandar, saat ditemui ACTNews Kamis (15/42021). 

Selain itu, Kusnandar yang juga memiliki warung kelontong, tidak menaikkan harga bahan pokok di warung miliknya. Padahal, saat itu, hampir semua warung menaikkan harga bahan makanan dan minyak tanah karena jembatan utama menuju desa mereka rusak sehingga menutup akses pasokan komoditi tersebut.

“Tak elok jika menambah beban dengan menaikkan harga bahan pokok yang diperlukan,” kata Kusnandar. Menurut Kusnandar, ia tidak akan merugi. Barang-barang itu ia beli sebelum bencana datang, harus dijual juga sesuai harga normal.  Niat Kusnandar adalah membantu sesama.

Selain Kunandar, Akhmad Gatra dari Masyarakat Relawan Indonesia NTT juga menceritakan pengalamannya saat membagikan makanan siap santap untuk korban bencana banjir di Kupang. Ia mendengar langsung seorang kristiani mendoakan para dermawan yang telah membantunya dengan tulus. Para penyintas merasa tak ada sekat agama dalam bergotong royong meringankan beban penyintas bencana.

“Saat itu saya pakai peci, mereka (penyintas) tahu saya muslim. Saat diberi makanan, mereka berdoa ‘Semoga Allah membalas kebaikan semuanya’ matanya berkaca-kaca toh. Di situ saya merasa doa itu tulus, karena dia sampai berkaca-kaca, mendoakan seseorang yang berbeda agama cuma karena kebaikan yang diantarkan,” ujar Gatra kepada ACTNews, Rabu (13/4/2021). 


Kusnandar. (ACTNews/Muhamad Ubaidillah)

Koordinator Posko ACT Bencana NTT, Lukman Sholehudin mengatakan, banyak korban bencana yang bukan beragama Islam. Namun dalam hal kemanusiaan, setiap manusia tidak tersekat keyakinan. Kedudukan mereka sama, yakni sebagai manusia. Karena islam juga rahmatan lil alamiin, artinya rahmat itu bagi semua  makhluk di  seluruh alam. “Jika tidak saudara dalam seiman, maka sudah pasti saudara dalam kemanusiaan,” kata Lukman mengutip pernyataan yang diyakini populer dari Ali Bin Abi Thalib.

Sebagaimana Ustaz Amir Faishol Fath pernah mengatakan, bahwa ajaran pokok AL-Qur’an adalah  tentang kemanusiaan. “Salah satu cara menghamba kepada Allah adalah dengan memberikan perhatian lebih kepada persoalan-persoalan kemanusiaan,” kata Ustaz Amir dalam Kajian Peradaban, Ahad (28/3/2021).[]