Memberdayakan Petani Jipang Melalui Lumbung Pangan Wakaf

Selain memberi kemanfaatan kepada para petani, masyarakat Desa Jipang juga diberdayakan dengan adanya koordinasi panen dari pihak Lumbung Pangan Wakaf.

ACTNews, BLORA - Bersama sekitar belasan orang lainnya, Amanan siang itu menggarap lahan milik orang lain. Amanan dan teman-temannya bertugas memanen padi untuk kemudian memasukkannya ke mesin perontok padi (blower) agar padi-padi ini bisa terpisah dari batangnya.

“Saya juga punya sawah, tapi untuk menunggu panen biasanya kerja serabutan. Karena ada sawah orang yang bisa digarap, hari ini saya kerjakan sawah ini,” kata Amanan sambil terus mengumpulkan padi-padi yang baru saja ia panen dan akan ia giling pada Ahad (14/7) lalu.


Amanan bersama teman-temannya mengaku dibayar 40 ribu rupiah untuk setiap satu kuintal padi yang berhasil mereka garap di lahan-lahan yang terletak Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora tersebut. Dengan adanya perekrutan pekerja dari pihak Lumbung Pangan Wakaf (LPW) binaan Global Wakaf untuk menggarap lahan, Amanan menjadi berdaya.

“Yah, kalau tidak menggarap sawah ini mungkin saya akan menganggur atau kalau ada kerjaan ya, cari kerja yang lain. Dengan adanya pekerjaan ini kan lumayan untuk menambah uang saya sehari-hari,” jelas Amanan.

Sementara menurut Sapari, Koordinator Petani LPW, seharinya mereka menargetkan sebanyak 8 ton padi kepada para petani. Hasil atas pengelolaan produksi oleh kelompok tani tersebut dibagi rata untuk masing-masing pekerja.

“Gampangnya misalnya dapat lebih banyak, 10 ton katakanlah. Kalau dikalikan 40 ribu itu kan mereka bisa mendapatkan Rp. 4.000.000 satu kelompok. Tinggal dibagi saja kelompoknya ada berapa orang. Paling banyak biasanya 15 orang,” kata Sapari.


Sebagai koordinator, tugas Sapari adalah membantu proses panen para pemilik lahan yang siap panen dengan harga yang disepakati bersama. Setelahnya ia menyiapkan sekelompok petani garapan seperti Amanan dan kawan-kawannya untuk menggarap lahan tersebut.

“Biasanya para petani ini kebanyakan memang punya lahan juga. Tapi lahan itu kan sifatnya menunggu. Jadi sembari menunggu lahan mereka siap panen, mereka mencari sampingan. Salah satunya dengan cara menggarap lahan milik orang lain,” ujar Sapari.

Koordinasi seperti ini membantu pemenuhan kuota produksi LPW setiap pekannya. Per pekan, kuota produksi LPW cukup besar, yakni 25 ton.