Memberdayakan Warga Desa Melalui Lumbung Beras Wakaf

Kini sekitar 40 warga Desa Jipang bekerja di Lumbung Beras Wakaf (LBW) untuk memproduksi sekitar 10 ton beras sehari.

Memberdayakan Warga Desa Melalui Lumbung Beras Wakaf' photo
Aktivitas di Lumbung Beras Wakaf (LBW) pad Selasa (3/12) lalu saat memproduksi beras yang akan dibagikan kepada 1.000 penerima manfaat. (ACTNews/Muhajir Arif Rahmani)

ACTNews, BLORA - Beras-beras yang sudah terkemas rapih telah siap didistribusikan kepada sekitar 1.000 penerima manfaat, yakni masyarakat Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Beras-beras ini kemudian dibagikan di acara peluncuran Lumbung Beras Wakaf (LBW) yang diinisiasi oleh Global Wakaf-Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Satu hari sebelum peluncuran, yakni pada Selasa (3/12) kemarin, para pekerja di LBW Desa Jipang memasuki tahap akhir pengemasan beras. Ada yang sibuk dengan mesin huler, ada pula yang berada di mesin jahit otomatis untuk pengemasan. Selebihnya, pekerja merapikan kembali ratusan kantong beras yang telah siap.

“Sekarang ada sekitar 40 pekerja yang bekerja di LBW, dan para pekerja ini adalah warga Desa Jipang sendiri. Jadi kita juga mencoba memberdayakan warga sekitar untuk produksi beras-beras dari LBW,” ungkap Ngadi, salah satu penanggung jawab LBW.

Melalui tangan para pekerja yang beraktivitas selama 8 jam per hari, produksi beras LBW kini bisa mencapai sekitar 10 ton setiap harinya. Masyarakat merasa senang dengan hadirnya LBW di Desa Jipang. Salah satunya adalah Mbah Suki.

Salah satu pekerja LBW yang sedang menjahit kemasan beras. (ACTNews/ Muhajir Arif Rahmani)

“Senang dengan adanya LBW di sini, karena kedua anak saya sekarang juga bekerja di LBW untuk memenuhi kebutuhan. Bekatul yang didapat dari sisa-sisa produksi LBW juga dapat saya manfaatkan untuk makanan ternak-ternak saya,” kata Mbah Suki.

Begitu juga Bambang Suprianto, yang kesehariannya kini ikut membantu produksi beras di LBW. Pemuda berusia 23 tahun tersebut bersyukur karena LBW bisa menyerap tenaga kerja dari masyarakat setempat seperti dirinya sehingga masyarakat bisa berdaya.

“Manfaatnya banyak sekali, bisa membantu ekonomi saya. Alhamdulillah, selama ini gaji yang saya dapatkan dari LBW sedikit-sedikit juga sudah dapat saya kumpulkan untuk modal menikah Januari tahun 2020 nanti,” ujar Bambang.

Selain untuk para pekerja di LBW sendiri, Ngadi juga mengatakan LBW telah membantu para petani yang ada di Desa Jipang. Untuk memenuhi produksi 10 ton tersebut, pihak LBW mengadakan koordinasi untuk menampung hasil panen para petani, yang kemudian dihargai lebih tinggi daripada harga di pasaran.


“Pengaruhnya sangat besar untuk masyarakat karena LBW ini bisa menyetabilkan harga. Jadi saat musim hujan misalnya, harga dari pasaran itu bisa rendah. Tapi kalau di LBW, meskipun harga (gabah) turun, itu bisa kami stabilkan. Setidaknya jangan sampai harganya jatuh,” kata Ngadi.

Selain untuk dijual, sebagian beras ini juga didistribusikan untuk bantuan kemanusiaan yang disalurkan melalui program-program ACT. Pada awal 2018 lalu, beras-beras hasil produksi di Desa Jipang sempat didistribusikan kepada Kapal Kemanusiaan Palestina.

Sedikit lebih jauh ke belakang, yakni pada tahun 2017, ribuan ton beras yang berasal dari tanah di Blora ini juga sempat sampai ke Afrika dan Rohingya. Ribuan ton beras itu untuk membantu penyintas krisis kemanusiaan di sana. Sementara di dalam negeri, LBW pernah membantu korban bencana gempa Palu, Sigi, dan Donggala pada 2018 lalu. []

Bagikan