Membersamai Perjuangan Petugas Medis di Tengah Pandemi

Petugas medis kini menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19. Namun, jumlah personel dan alat-alat penunjang kerja terbatas, sementara jumlah korban terus meningkat.

Seorang petugas medis di RSUD dr. Soeselo Kabupaten Tegal menggunakan jas hujan plastik di ruang isolasi IGD, Rabu (18/3). Jas hujan plastik terpaksa akan digunakan untuk menangani pasien Covid-19 karena APD yang sesuai standar WHO mulai habis. (GATRA/Farid Firdaus)

ACTNews, JAKARTA – “Saya khawatir tidak bisa menjawab, kelelahan," kata dr. Fariz Nurwidya pada Selasa (17/3) lalu, dilansir dari CNBC Indonesia. Dokter spesialis paru ini sudah beberapa hari tidak beristirahat karena merawat dan menyembuhkan pasien virus corona atau Covid-19.

Tenaga medis kini menjadi sorotan. Mereka memberikan dedikasi dengan berjuang merawat pasien terinfeksi virus corona yang terus bertambah setiap harinya. Dokter Handoko Gunawan, misalnya. Dokter Handoko Gunawan yang berusia 80 tahun sempat viral di berbagai media karena kerja kerasnya merawat pasien Covid-19 di RS Graha, Kedoya, Jakarta Barat.

Dokter Handoko sampai jatuh sakit. Ia sudah berada dalam penanganan rumah sakit dan staf medis yang kompeten. Dilaporkan dari detik.com, kondisi Dokter Handoko kini sudah berangsur membaik. Warga diimbau agar menghargai kerja keras Dokter Handoko Gunawan dengan cara tidak menganggap enteng Covid-19.

"Jangan sia-siakan pengorbanan dr. Handoko Gunawan," kata Dyah Agustina Waluyo selaku Sekretaris Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada Rabu (18/3). Dyah mengajak masyarakat untuk serius mengikuti anjuran dari pemerintah dalam menjaga jarak sosial dan sebisa mungkin melakukan aktivitas di rumah. "Kalau masyarakat menganggap enteng, berapa pun rumah sakit yang disiapkan, berapa pun dokter disiapkan, berapa pun perawat disiapkan, tidak akan cukup," lanjutnya.

Dyah juga memohon agar tenaga-tenaga medis yang saat ini bertugas agar selalu dilindungi. Terutama pada saat ini mereka mengalami keterbatasan alat-alat kerja untuk menangani pasien terinfeksi virus corona.


Penyemprotan distinfektan di salah satu masjid di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat pada Kamis (19/3) ini. (ACTNews)

"Beliau dokter hebat. Sebenarnya semua dokter dan petugas kesehatan saat ini juga sehebat beliau. Kami mohon tenaga-tenaga ini dilindungi. Kami sadar tanggung jawab profesi. Tolong diprioritaskan keselamatan dan keamanan kerjanya. Alat pelindung diri (APD) menipis. Masker saja sulit dicari. Ini diperlukan oleh seluruh fasilitas kesehatan," tutur Dyah.

Hal yang sama diungkapkan oleh Dokter Fariz. Kepada CNBC Indonesia, ia mengungkap dan meminta menyampaikan kondisi yang ia alami dan rekan-rekan sejawatnya di lapangan dalam memerangi virus berbahaya ini.

"Tolong sampaikan ke rekan-rekan, ini tenaga medis butuh doa dan dukungan. Semua kelelahan dan mulai dirumahkan satu per satu," ujarnya. Kondisi kelelahan yang luar biasa ini disebabkan oleh minimnya ketersediaan sumber daya, baik dari sisi tenaga maupun sarana dan prasarana untuk pengobatan pasien. "Kurang personel, kurang ventilator, kurang APD (Alat Pelindung Diri)," kata Fariz.

Saking minimnya ketersediaan APD, para dokter ini bahkan kekurangan masker untuk melindungi mereka. Padahal profesi mereka cukup rentan karena berinteraksi langsung dengan pasien Covid-19. Bantuan sekecil apapun, kini diterima dengan sukarela oleh para dokter yang bertugas.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) terus mendukung para petugas medis yang berada di garda terdepan untuk melawan pandemi corona. Dokter Muhammad Riedha Bambang selaku Koordinator Corona Crisis Center ACT menyatakan dukungan ini pada seremoni pelepasan armada ACT untuk melawan corona Kamis (19/3) ini.


“Kami tidak akan melupakan teman-teman sejawat kami yang bekerja di garda terdepan di setiap rumah sakit. Yaitu dokter, perawat dan lain sebagainya bahwa kita akan terus membersamai kalian. Kami akan tetap mendukung, dan kepada masyarakat jangan panik. Kami akan membersamai hingga akhir pandemi ini,” kata Riedha.

ACT akan membantu para tenaga medis dengan menyiapkan alat-alat APD yang mereka butuhkan. “Kita lagi akan melakukan pengadaan masker, wearpack gown, dan google untuk didonasikan ke petugas kesehatan di rumah sakit. Kita juga berencana menyediakan Humanity Food Truck ke rumah sakit sebagai bentuk dukungan pangan bagi tenaga medis dan keluarga pasien,” kata Dokter Riedha.

Bantuan serupa juga akan hadir untuk masyarakat sipil. Selain terus mendistribusikan masker, penyemprotan disinfektan di ruang publik dan melakukan sosialisasi pencegahan Covid-19, ACT akan menyiapkan 1.000 ton logistik pangan dan membagikannya ke berbagai daerah yang terdampak melalui relawan dan armada kemanusiaan. Bantuan ini hadir melalui program-program ACT seperti Lumbung Pangan Wakaf, Lumbung Beras Wakaf, dan Lumbung Air Wakaf.

Hingga Rabu kemarin di Indonesia, tercatat 227 kasus virus corona. Jumlah pasien meninggal mencapai 19 orang, melampaui jumlah yang sembuh yakni 11 orang. menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), tingkat kematian (CFR) akibat virus corona di Indonesia saat ini merupakan yang tertinggi. Angkanya bahkan 2 kali lipat rata-rata dunia, yakni 8,37% dari rata-rata 4,07%.[]