Membumikan Kembali Wakaf lewat Tangan Kaum Muda

Inovasi para pemuda diharapkan dapat berperan dalam optimalisasi wakaf uang. Sehingga, kebermanfaatannya dapat terus relevan seiring dengan perkembangan zaman.

Dalam sejarah perkembangan Islam, fondasi peradaban dibangun oleh anak-anak muda yang terus ingin melakukan perubahan.
Ilustrasi. Dalam sejarah perkembangan Islam, fondasi peradaban dibangun oleh anak-anak muda yang terus ingin melakukan perubahan. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mayoritas orang yang pertama-tama masuk Islam adalah pemuda. Fenomena ini berkaitan dengan karakter agama Islam yang revolusioner. Sebagaimana setiap gagasan besar, ia selalu disambut oleh kaum muda, bukan kaum tua yang sudah mapan dengan tradisi.

Karenanya, generasi muda diharapkan dapat mengembangkan gagasan Islam, termasuk berperan besar mengembangkan wakaf uang. Sebab anak muda menguasai perkembangan teknologi dan memahami pemasaran digital, yang menjadi kunci pengembangan wakaf uang.

Generasi milenial dinilai berperan besar mengembangkan wakaf uang. Sebab menguasai perkembangan teknologi dan memahami pemasaran digital yang menjadi kunci pengembangan wakaf uang.

“Dalam sejarah perkembangan Islam, fondasi peradaban dibangun oleh anak-anak muda yang terus ingin melakukan perubahan,” ucap Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Ventje Raharjo pada awal Maret lalu.


Sekelompok Santani atau Santri Taruna Tani yang sedang mengembangkan bibit padi dari program Wakaf Pangan Produktif dari Global Wakaf - ACT. (ACTNews/Reza Mardhani)

Begitu juga Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Muhammad Nuh yang mengatakan bahwa generasi milenial merupakan investasi masa depan ekonomi syariah dan filantropi Islam. BWI pun gencar melakukan gerakan literasi dan sosialisasi kalangan anak muda, terlebih di dunia kampus. “Langkah ini penting, untuk menyiapkan generasi yang inklusif terhadap perkembangan zaman dan teknologi dengan basis literasi perwakafan yang baik,” ucapnya.

Forum Wakaf Produktif pun mencatat, saat ini jumlah pewakif mulai didominasi golongan muda. Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Imam T. Saptono menyebut bahwa hal ini tak terlepas dari peranan digitalisasi.

"Digitalisasi akan memegang peran kunci untuk bisa meningkatkan kelompok milenial di atas. Digitalisasi sekaligus menjadi elemen penting dalam membangun ekosistem wakaf yang sehat," ujarnya awal Januari lalu.

Terkait hal positif yang sudah terjadi saat ini, ia menitip harapan agar kelompok milenial lebih aktif sebagai penggerak perwakafan nasional, serta mewarnai dunia wakaf tidak hanya wakif tetapi juga penyelenggara wakaf (nazir). Dengan keikutsertaan mereka, harapannya melahirkan nazir wakaf yang kompeten, inovatif dan energik.

Wakaf dan inovasi para pemuda

Inovasi tersebut sudah dimulai sejak saat ini. Misalnya melalui Wakaf Hidroponik Greenwelfare yang digerakkan oleh kaum muda berumur 15-20 tahun yang di daerah Depok, Jawa Barat. Direktur Eksekutif Greenwelfare, Nala Amirah menyatakan ia dan timnya bercita-cita ingin mempromosikan gaya hidup sehat dan ramah lingkungan dengan mengonsumsi makanan berbasis tanaman melalui program Wakaf Hidroponik ini.

"Hasil panen sayuran sebagian digunakan untuk pemenuhan kebutuhan para santri di Pesantren Salafi Nurul Huda di Depok dan sebagian lagi dijual," katanya pertengahan November 2020 lalu.


Hasil penjualan kemudian dijadikan lagi modal keberlanjutan produksi. Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS, Sutan Emir Hidayat menyatakan Wakaf Hidroponik adalah sebuah contoh baik pelaksanaan prinsip-prinsip syariah oleh generasi milenial. Wakaf ini mengumpulkan uang untuk dibelikan peralatan Hidroponik beserta greenhouse. Konsep ini dikenal dengan wakaf melalui uang.

"Jika kaum milenial yang berumur 15-20 tahun lebih banyak yang bergerak dan mengembangkan wakaf produktif seperti Greenwalfare ini, maka akan dapat memajukan wakaf di Indonesia," katanya. Lebih jauh, aktivitas wakaf produktif ini dapat menunjang perekonomian masyarakat. Emir juga berharap Greenwelfare Indonesia dapat mengembangkan proyek Wakaf Hidoponik ini lebih banyak kedepannya. []