Memenuhi Kebutuhan Air Bersih Desa Muarabakti

Biasanya para santri Pondok Pesantren Tahfiz Bani Hamzah, Kampung Muarabakti, Desa Muarbakti, Babelan, Kabupaten Bekasi, memanfaatkan air dari sumur darurat Sungai Kali Mati yang sudah keruh. Selain itu, banyak warga yang membutuhkan air bersih karena kerap terjadi kemarau di desa tersebut.

Memenuhi Kebutuhan Air Bersih Desa Muarabakti' photo
Warga, pondok pesantren, dan Global Wakaf - ACT dalam acara peresmian Sumur Wakaf di Desa Muarabakti. (ACTNews

ACTNews, BEKASI – Senyum bahagia tergambar dari wajah para santru Pondok Pesantren Tahfiz Bani Hamzah, Kampung Muarabakti, Desa Muarabakti, Babelan, Kabupaten Bekasi, ketika mereka mengantre untuk mengambil wudu. Pertama kalinya para santri ini menggunakan Sumur Wakaf yang selesai dibangun dan diresmikan di pondok pesantren mereka pada akhir Desember 2019 silam.

Wajah bahagia itu tampak karena selama ini air yang seharusnya jadi kebutuhan utama, malah sulit mereka dapatkan. Untuk kebutuhan air, terkadang mereka mengandalkan Sungai Kali Mati yang airnya keruh.

“Untuk kebutuhan air, para santri menggali sumur darurat di bantaran Sungai Kali Mati sehingga airnya dapat terkumpul. Tapi permasalahnnya, air di sana keruh dan dapat dikatakan kurang layak untuk digunakan,” ujar Wahyu Nur Alim dari Tim Global Wakaf – ACT. Begitu pula kondisi MCK mereka yang kurang layak untuk digunakan. Pintunya rusak dan fasilitas MCK mereka seadanya.

Kondisi geografis menambah kesulitan lagi untuk santri mendapatkan air. Kemarau kerap terjadi, dan tidak hanya para santri yang terdampak, warga sekitar bahkan kerap membeli air seharga Rp7.000 setiap galonnya. Desa juga belum pernah tersentuh oleh bantuan air bersih. Sehingga ,Sumur Wakaf yang dibangun di Pondok Pesantren Tahfiz Bani Hamzah dapat digunakan juga oleh warga sekitar.


Sungai Kali Mati, tempat santri biasa mengambil air. (ACTNews)

“Data yang kita dapat, hanya sekitar 60% dari total warga desa yang memiliki MCK. Atau dengan kata lain, hampir setengah dari warga tidak memiliki MCK. Sementara yang belum memiliki MCK membuat jamban kecil dengan ukuran kurang dari 1 x 1 meter yang terbuat dari karung dan bambu, yang diletakkan di atas Sungai Kali Mati,” kata Wahyu. Oleh karenanya, Global Wakaf – ACT juga sekaligus membangun MCK pada 1 Desember 2019.

Wahyu menargetkan, selain dari santri yang berjumlah 90 jiwa, Sumur Wakaf di Pondok Pesantren Tahfiz Bani Hamzah juga akan memenuhi kebutuhan dari sekitar 50 kepala keluarga yang berada di sekitar pesantren.

“Sehingga Sumur Wakaf ini manfaatnya lebih luas karena di luar pesantren juga masih banyak yang membutuhkan air bersih. Selain itu, semakin banyak orang yang menjaganya, kita berharap keberlangsungan Sumur Wakaf ini akan semakin bertahan lama,” kata Wahyu.


Warga juga menyambut positif bantuan dari para dermawan melalui Global Wakaf – ACT ini. Salah satunya Ahdan, yang selama ini merasakan sulitnya mendapatkan air.

Alhamdulillah, kami ucapkan terima kasih kepada Global Wakaf – ACT yang telah membantu memberikan air bersih karena sebelumnya kami susah mendapatkan air. Semoga ACT terus membantu kami dalam program-program lainnya dan semoga ACT serta para dermawan mendapatkan limpahan rezeki,” ungkap Ahdan. []


Bagikan