Memetik Hikmah dari Kisah Qabil dan Habil

Ustaz Faris BQ menjelaskan kisah Qabil dan Habil merupakan kisah paling tua yang pernah ditulis di dalam Alquran. Ada banyak makna yang dapat diambil dari kisah mereka, salah satunya tentang berkurban.

Memetik Hikmah dari Kisah Qabil dan Habil' photo
Ustaz Faris BQ ketika menghadiri peluncuran program kurban "Labbaik, Berqurban Terbaik" dari Global Qurban - ACT pada Jumat (12/6) lalu.

ACTNews, JAKARTA – Ketika Allah memerintahkan kedua anak kandung Nabi Adam menyelesaikan sengketa mereka dengan berkurban, mereka membawa masing-masing hasil ternak dan pertaniannya. Qabil memberikan buah-buahan dengan kualitas tak layak, sementara Habil menyerahkan daging domba yang paling gemuk dan paling besar. Api dari langit menyambar domba Habil, tanda kurbannya diterima.

Kisah ini menurut Ustaz Faris BQ merupakan kisah paling tua yang terekam dalam Alquran. Hal tersebut ia sampaikan ketika hadir di peluncuran program kurban bertema "Labbaik, Berqurban Terbaik" dari Global Qurban – ACT pada Jumat (12/6) lalu.

“Ada tidak kejadian lain di bumi sebelum peristiwa Qabil dan Habil? Ada. Bagaimana Adam turun, bagaimana berjumpa kembali dengan Hawa, bagaimana membangun keluarga, (tetapi) tidak diceritakan oleh Alquran. Kisah paling tua yang diceritakan oleh Alquran, kisah berkurban,” ungkap Ustaz Faris.

Hikmah yang dapat diambil manusia melalui kejadian tersebut adalah manusia diminta untuk selalu memberi karena Allah. Pemberian itu pun adalah pemberian terbaik yang dimiliki pekurban, sehingga akan membawa kemanfaatan bagi manusia lainnya.


Kurban yang diberikan hendaknya merupakan kurban terbaik, sehingga bermanfaat bagi manusia lainnya. (ACTNews)

“Karena semua ibadah semangatnya itu (berbagi). Setiap kata salat dalam Alquran hampir (semuanya) setelahnya kata zakat, setelah kita berpuasa ada zakat fitrah, setelah kita haji adalah berkurban. Jadi ada keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan memberi kemanfaatan buat manusia,” jelas Ustaz Faris.

Pada akhirnya hampir seluruh ibadah yang dilakukan manusia sehari-hari sebenarnya juga memiliki makna kurban. Karena, kata Ustaz Faris, intinya adalah bagaimana manusia mengikhlaskan apa pun yang mereka miliki.

“Semua ibadah ini adalah spirit berkurban. Kita bangun malam, itu kan mengorbankan waktu tidur kita. Ketika berwudu mengorbankan rasa dingin kita. Puasa mengorbankan rasa kenyang kita. Bersedekah dan berkurban, itu mengorbankan rasa sayang kepada harta kita,” ujarnya.


Kelanjutan dari kisah kedua anak Adam berakhir sebagai kisah pembunuhan pertama di dunia. “Aku pasti membunuhmu,” kata Qabil kepada adiknya. Kemudian Habil mengatakan, "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa," demikian Ustaz Faris mengajak para dermawan mengambil pelajaran dari kisah ini.

“Itu di dalam surat Al-Maidah ayat 27. Jadi kalau kita melihat kurban kita diterima atau tidak, lihat efeknya bagi hati kita pada saat itu. Hati kita jadi lebih takwa atau tidak? Jadi lebih sensitif tidak untuk melakukan kebaikan? Lebih alergi tidak kita kepada keburukan-keburukan? Kalau sekiranya tidak terdampak oleh hal itu, berarti kurban kita dan ibadah-ibadah kita yang lain, tidak diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala,” tutupnya. []


Bagikan

Terpopuler