Memetik Semangat Perjuangan melalui Syiir Kebangsaan

Sebelum acara Diskusi Kebangsaan bertajuk Wakaf: Energi dan Kedaualatan Pangan pada Kamis (29/10) dimulai, K.H. Mahfudz Syaubari melantunkan dan menjabarkan Syiir Kebangsaan karangannya. Dalam syairnya ini, K.H. Mahfudz menyelipkan optimisme agar bangsa Indonesia dapat mandiri serta mampu mengelola dengan baik kekayaan Nusantara.

Memetik Semangat Perjuangan melalui Syiir Kebangsaan' photo
K.H. Mahfudz Syaubari saat melantunkan dan menjabarkan Syiir Kebangsaan. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Global Wakaf - ACT mengadakan Diskusi Kebangsaan bertajuk Wakaf: Energi dan Kedaualatan Pangan, Kamis (29/10). Sebelum acara yang digelar di Kelurahan Cipedak, Jagakarta ini dimulai, K.H. Mahfudz Syaubari MA salah satu pembicara dan pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Jannah, mengajak para hadirin untuk membaca Syiir Kebangsaan karangannya sendiri.

Selain berisi lantunan selawat di awal syiir, K.H. Mahfudz Syaubari juga menjabarkan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung di dalam syiir ini:

 Dengan nyebut asma Allah Maha Rohmat
Jadikanlah bangsa ini bermartabat
Kawan saudara mari kita berdoa
Mohon petunjuk Allah Yang Maha Esa

Nusantara ini anugerah Ilahiy
Untuk orang yang iman mau mengabdi

K.H. Mahfudz mengutip Surat Al-Anbiya ayat 105 bahwasanya Allah menjanjikan bumi akan diwariskan kepada orang-orang yang saleh. “Yang dimaksud saleh di sana adalah di samping saleh ubudiyah-nya kepada Allah, saleh muasyarah-nya terhadap sesama, juga saleh di dalam mengelola alam Nusantara ini. Ini yang disebut iman dan mau mengabdi sekaligus,” jelasnya.


Masyarakat yang hendak menuju rumah ibadah melewati hamparan sawah luas di Kecamatan Gangga, Lombok, pada bulan November 2018 lalu. (ACTNews)

Amanah pejabat aparat petinggi
Cendikiawan habaib para kiai

Aman tertib sejahtera bangsa ini
Tanggung jawab bersama untuk berbakti
Sebagai penerus perjuangan suci
Dalam negeri kaya yang kita cintai

“Tanggung jawab bersama, jangan menunggu siapa-siapa ,” terang KH Mahfudz untuk salah satu penggalan. Ia mengajak audiens untuk terus berkarya, melanjutkan perjuangan para pendahulu yang beriman. “Di mana telah diperjuangkan oleh para sultan-sultan kita pada saat itu dengan membawa iman dan plus aplikasinya, hanya saja dihadang oleh Hindia Belanda pada saat itu selama 350 tahun. 75 (kemerdekaan) kita saatnya bukan santai, bukan hanya menikmati. Kita harus berjuang dan bekerja keras,” ungkapnya.

Cinta tanah air harus mengembangkan
Kekayaan alam di berbagai bidang
Berdiri sendiri dan mempertahankan
Daulat kebangsaan dan kenegaraan

Lautan kita luas tidak terbatas
Ayo dijaga biar tidak dirampas
Subur tanahnya macam macam isinya
Ayo dikelola jangan sia-sia

Alam Indonesia ini kaya, menurut K.H. Mahfudz. Ketika ikan-ikan bermigrasi pada musimnya, pasti akan melewati rongga-rongga perairan di Indonesia sehingga perairan Indonesia beragam ikannya. Begitu juga dengan tanahnya yang subur. Namun belum banyak yang dapat mengelola kekayaan ini dengan baik.


“Itulah maka Gerakan Masyarakat Pesantren untuk Ketahanan Pangan Indonesia (Gema Petani) bersama-sama dengan Global Wakaf – ACT, (mengajak) ayo kita gali kesuburan tanah ini, kita didik bangsa kita. 47 juta milenial kita yang sudah kehilangan pandangan mereka terhadap kesuburan Bumi Pertiwi kita ini, kaki mereka sudah terangkat dari Bumi Pertiwi kita ini. Ayo kita
gandoli (ikuti mereka kembali), Ya Allah, kita letakkan lagi kaki mereka dan kita ajak mereka untuk memandang kesuburan pertiwi kita ini,” ujar K.H. Mahfudz. Menurutnya, perlu ada inovasi lagi untuk mengembangkan produksi serta mendidik para milenial agar mereka mampu menggali kekayaan alam ini.

Jadi manusia jangan bangga diberi
Kerja betulan kan bisa menyantuni
Kerja itu harus cerdas keras ikhlas
Daya data dana doa dengan laras

Kerja nyata ini telah diwujudkan oleh Global Wakaf – ACT, dan K.H. Mahfudz mengatakan adanya Global Wakaf – ACT dapat menggali potensi bangsa. “Melalui lembaga-lembaga kultural yang insyaallah, inilah yang masih bersih dari kontaminasi politik, oligarki dan segala macamnya. Mudah-mudahan bangsa kita ini bangkit,” harapnya. Apalagi dengan penduduk Indonesia yang berjumlah 270 juta orang, ia berkeyakinan telah dianugerahi daya, data, dan dana yang melimpah oleh Allah.


Petani binaan Global Wakaf - ACT di Siser, Lamongan sedang menyemprot tanaman padinya beberapa hari menjelang panen pada September lalu. (ACTNews)

Dan tak lupa juga, doa menjadi penting dalam ikhtiar. K.H. Mahfudz mengutip nasehat Syekh Abu Bakar Al Warraq, seorang ahli hikmah, “’Aku cari kesuksesan di bumi ini, ternyata aku temukan kesuksesan ini digantungkan Allah SWT di langit’. Maka perlu kita turunkan itu dengan berdoa. Orientasinya bukan untuk dimakan sendiri,” jabarnya. Orientasi tersebut berarti mendanai bangsa, seperti dijelaskan melalui syair selanjutnya.

Kapan bangsa bisa danai negara
Siapa kuasa trima amanat bangsa
Tidak mudah didekte oleh pereman
Bilang membantu tapi ada tujuan

Pancasila asas bangsa bernegara
UUD 45 pijakan kita
NKRI wajib kita pertahankan
Sumpah pemuda tuk tekad perjuangan

Bhinneka Tunggal Ika Persaudaraan
Saling hormat menjaga hak kewajiban
Bersama-sama menggapai cita-cita
Sebagai bangsa adil, makmur sentosa

Pendidikan perlu selalu upaya
Cetak bangsa mandiri tak jadi hamba
Mandiri tak bergantung siapa saja
Kecuali Allah Yang Maha Kuasa

Melalui pendidikan, K.H. Mahfudz berharap bangsa bisa lebih mandiri. Hal yang mengejutkan ia temukan ketika berkunjung ke Brunei Darussalam, di mana ada sekitar 60.000 pekerja bangsa lain dan 60.000 lagi dari Indonesia. “Hanya saja 60.000 dari Cina (menjadi) bos, 60.000 yang dari Indonesia huruf awalnya sama ‘B’, buruh,” ungkapnya.


Cendikiawan habaib para kiai
Selalu mandiri memberi nyontohi
Cerminan karakter bangsa bermartabat
Di negeri kaya jaya yang berdaulat

Para pejabat pegang amanat rakyat
Dengan jujur penuh rasa tanggung jawab
Tentara polisi selalu waspada
Agar aman tertib bangsa dan Negara

Politik itu mengatur pelayanan
Bukan hanya berebut kekuasaan
Ekonomi sarana hidup di dunia
Tuk mengabdi bukan numpuk harta benda

Seuntung orang lupa merasa jaya
Lebih untung yang slalu ingat waspada
Harapan pendiri bangsa dan negara
Jadi kenayataan tuk seluruh warga

Harapan-harapan K.H. Mahfudz inilah yang kini bertemu dengan visi dari Global Wakaf – ACT. Melalui kerja sama antara Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I) dan Gema Petani, Global Wakaf – ACT meneken kerja sama untuk penanaman lahan seluas 500 hektare. Penandatanganan ini dilakukan di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah asuhan K.H. Mahfudz di Kelurahan Ledok, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur pada Sabtu (17/10). Kerja sama ini sekaligus juga memotori gerakan “Bangkit Bangsaku” yang diinisiasi oleh ACT.

Gerakan “Bangkit Bangsaku” akan fokus pada penyelamatan tiga sektor vital yang kini sangat terdampak pandemi, yakni sosial, ekonomi, dan kesehatan melalui berbagai programnya. “Bangsa kita butuh disemangati sebuah gerakan, penyadaran terhadap berbagai permasalahan, pembuka jalan solusi dan implementasi nyata, serta penjaga optimisme tetap menyala. Seluruh aksi ini membutuhkan kolaborasi besar berbagai elemen masyarakat. Semua anak bangsa diundang kontribusinya, menyiarkan semangat dan ide untuk bangkitkan bangsa. Bersama, kita akan gulirkan bola salju kepedulian kita untuk Indonesia,” tegas Ibnu Khajar selaku Presiden ACT pada peluncuran gerakan ‘Bangkit Bangsaku’ pada Rabu (30/9). []