Mempertahankan Kota Suci Al-Quds

Rakyat Palestina di Gaza dan Yerusalem kembali berunjuk rasa pada Jumat (31/1). Mereka menolak rencana administrasi wilayah Palestina dan menolak keras membagi Yerusalem, Kota Al-Quds yang suci, dengan Israel.

Mempertahankan Kota Suci Al-Quds' photo
Ribuan warga Palestina bergerak ke jalan menyuarakan penolakan rencana administrasi pembagian wilayah Gaza dan Israel oleh pemimpin negara adidaya. (ACTNews)

ACTNews, GAZA, YERUSALEM – Demonstrasi kembali menyeruak usai ibadah salat Jumat di Gaza dan Tepi Barat, Jumat (31/1), sebagaimana dilaporkan mitra Aksi Cepat Tanggap di Palestina. Protes damai itu merupakan rangkaian dari penolakan perencanaan administrasi, setelah tiga hari sebelumnya negara adidaya mengumumkan rencana pembagian wilayah Israel dan Palestina. Dalam pernyataan itu juga disebutkan, ibu kota Palestina akan diletakkan di Abu Dhis dan Yerusalem. Sementara yang dikenal umat muslim sebagai Al-Quds, dijadikan ibu kota Yerusalem.

Di Yerusalem Timur pada hari Jumat, para jemaah Palestina berpartisipasi dalam "Kampanye Subuh". Protes ini mewujud sebagai gerakan salat berjamaah dan berdoa di pagi hari. Rakyat Palestina berusaha mempertahankan jemaah sebagai bentuk penjagaan terhadap bangunan-bangunan suci umat Islam, seperti kompleks Masjid Al Aqsa dan Masjid Ibrahimi di Hebron, Tepi Barat.

“Orang-orang Palestina Al Aqsa berusaha mengirim pesan kepada semua bahwa Yerusalem tidak akan dibagi," tegas salah seorang demonstran, Khaled Abu Sneineh, kepada Middle East Eye Jumat (31/1).

Unjuk rasa juga terjadi di Desa Bilin Kegubernuran Ramallah, wilayah yang dalam pekan ini dikenal dengan perlawanannya melawan okupasi Israel. Para demonstran mengangkat bendera dan peta Palestina tiga dimensi bertuliskan “Yerusalem adalah ibu Kota Palestina selama-lamanya” dan “Palestina tidak dijual”.

Unjuk rasa di Hebron diwarnai dengan penyemprotan gas air mata oleh militer Israel kepada para demonstran di sudut Bab al Zawiya. Al Zawiya berada di tepi Kota Tua Hebron. Kota tersebut kini ditinggali 800 permukiman Israel dengan penjagaan ketat militer.

Kantor berita Palestina WAFA melaporkan, militer Israel menembakkan peluru baja berlapis karet kepada pengunjuk rasa di kompleks Al Aqsa, melukai sepuluh orang dan menahan tiga lainnya.

WAFA juga melaporkan, menurut Michael Lynk selaku juru bicara HAM PBB untuk wilayah Okupasi Palestina, deklarasi tersebut hanya berpihak ke satu pihak. Rencana tersebut dapat mengarah pada aneksasi wilayah-wilayah Tepi Barat yang diokupasi ke dalam Israel. Rencana tersebut juga dapat membuka ruang pelanggaran hukum internasional, sebagaimana disebut Al Jazeera. Para analis mengatakan, realisasi rencana itu juga merupakan bentuk apartheid, diskriminasi ras, dan dominasi kolonial.[]


Bagikan