Memulai Pembangunan Kembali Masjid Raya Kajai yang Sempat Runtuh Akibat Gempa

Peletakan batu pertama Masjid Raya Kajai, dilakukan pada Ahad (15/5/2022) kemarin. Pembangunan diperkirakan akan berjalan selama tujuh bulan ke depan.

masjid raya kajai
Tim juga berikhtiar mempercepat mempercepat pembangunan agar masjid dapat segera rampung dan dimanfaatkan oleh masyarakat Nagari Kajai. (ACTNews)

ACTNews, KABUPATEN PASAMAN BARAT – Masjid Raya Kajai, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat segera dibangun kembali. Peletakan batu pertama pembangunan masjid berusia 140 tahun yang sempat runtuh akibat gempa tersebut, dilakukan pada Ahad (15/5/2022) kemarin. Bupati Pasaman Barat Hamsuardi turut hadir dan menjadi peletak batu pertama dalam acara tersebut.

Hadir juga dermawan yang membiayai pembangunan tersebut, yakni Hj. Merry Warti yang berasal dari Kabupaten Tanah Datar. Setelah mendapatkan informasi dari Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengenai Masjid Raya Kajai yang roboh, ia langsung bergerak.

“Saya sering diajarkan oleh almarhum orang tua untuk membangun kampung halaman dan masjid. Ketika dapat informasi dari ACT tentang Masjid Raya Kajai roboh akibat gempa dan jemaahnya sangat ramai, saya tergerak dan mengutus tim tambahan ke Nagari Kajai, Pasaman Barat,” cerita Merry.


Merry Warti (tengah) hadir bersama Tim ACT di lapangan. (ACTNews)

Merry juga memperkirakan pembangunan masjid akan selesai selama tujuh bulan ke depan. Tim juga berikhtiar mempercepat mempercepat pembangunan agar masjid dapat segera rampung dan dimanfaatkan oleh masyarakat Nagari Kajai.

“Kami sangat senang ketika Bu Merry sangat antusias untuk membangun Masjid Raya Kajai, sehingga kami coba cari data sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya agar donatur, dalam hal ini Bu Mery, mengatahui besaran dana yang dibutuhkan,” tutur Deni Marlesi sebagai perwakilan dari ACT area Sumatra Bagian Tengah. Ia juga menambahkan ACT terus hadir membersamai masyarakat sejak gempa hingga kini, baik untuk pembangunan masjid maupun untuk kebutuhan-kebutuhan lain.


Seperti diberitakan sebelumnya, sebelum roboh masjid tersebut dilengkapi dengan perpustakaan, TPA, dan MDA. Ketika gempa mengguncang, reruntuhan masjid menimpa seorang nenek yang baru selesai salat duha. Hal ini menunjukkan bagaimana masjid tersebut sering digunakan oleh masyarakat untuk kegiatan ibadah. []