Memulai Puasa di Hunian Sementara dengan Menu Sederhana

Menu sahur tidak muluk-muluk bagi Herman dan Aan. Semenjak tinggal di huntara, kebutuhan pangan keluarga ini memang sulit terpenuhi lantaran pekerjaan yang sulit sementara sawah dan kebun mereka terkubur longsor.

Penyintas bencana di huntara cileuksa kabupaten bogor
Herman bersama Aan sahur untuk menjalani puasa Ramadan, di tempat tinggal mereka, huntara Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Selasa (27/4/2021). (ACTNews/Yudha Hadisana)

ACTNews, KABUPATEN BOGOR – Berbekal telur dadar, sambal, lalapan, beserta perkedel, Herman melakukan sahur untuk mengawali puasanya. Sahur kali ini adalah sahur keduanya selama tinggal di huntara.

Herman bersama istri dan anak-anaknya pindah setelah rumah mereka terkubur longsor. Musibah itu menerjang kampung mereka, Kampung Pasir Eurih, Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor pada awal 2020 lalu.

“Sudah habis semua, sawah, ladang. Dulu, lauk pauk ambil sendiri dari kebun, sekarang enggak ada. Mau ambil daun pisang sama daun ubi di depan rumah saja susah. Jadi seadanya saja,” kata Herman ditemui pada Selasa (27/4/2021) lalu.

Belum lagi lapangan pekerjaan yang minim. Pengangguran menjadi momok bagi para penyintas, Herman ikut mengalaminya. Aan sebagai istri Herman mengungkapkan, tidak ada pekerjaan menyulitkan pemenuhan kebutuhan keluarga mereka.

“Kerja sih, apa saja, lebih sering tukang bangungan. Cuma, sekarang saja lima belas hari sepeser pun belum menghasilkan duit karena belum kerja. Makan sehari-hari dari kemarin-kemarin yang dikasih sebelum puasa,” ungkap Aan

Beruntung sebelum Ramadan ini mereka sempat mendapatkan sejumlah telur dari pemerintah desa. Namun cepat atau lambat telur tersebut akan habis. “Masih butuh sembako. Butuhnya itu karena enggak punya sawah. Kalau sawahnya ada enggak butuh-butuh amat (beli beras). Tinggal pakai beras dari sawah, jarang beli. Kalau sekarang sih kalau enggak ada yang kasih, uangnya juga dari mana?” tanya Aan.

Selama Ramadan ini, para warga mengaku belum mendapatkan sama sekali bantuan sama sekali. Oleh karenanya, keluarga Herman bersyukur ketika Aksi Cepat Tanggap Bogor Barat mendistribusikan ratusan Beras Wakaf dan Air Minum Wakaf kepada penyintas bencana di Cileuksa lewat Gerakan Sedekah Pangan Ramadhan.

Herman dan Aan pun berharap sekalipun sulit, berkah Ramadan tetap hadir untuk keluarganya. “Mudah-mudahan Ramadan ini penuh berkah, yang dikasih Tuhan itu kesabaran, keimanan, rezeki yang berlimpah, kesehatan, itu saja,” doaHerman.[]