Menanam Berkah di Atas Atap Rumah Ibadah

Sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dimulai, Bambang dan rekannya, Irda, membangun serta mengelola sistem hidroponik di atas Masjid Al-Ma'rifah, Jakarta Barat. B Farm, singkatan dari Berkah Farm adalah cara mereka untuk mewujudkan keberkahan dalam usahanya.

Tanaman kangkung yang tumbuh di B Farm. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap pertama berlaku pada Maret lalu, mempertemukan Bambang Sutrisno dengan Irda Nur Ismi. Dari sanalah tercetus ide untuk mendirikan taman hidroponik di atas Masjid Al-Ma’rifah, Kelurahan Rawa Buaya, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat.

Bambang sudah empat tahun belakangan menjalani kebun hidroponik di atap rumah orang tuanya, serta di rumahnya sendiri. Kemudian konsep ini ingin ia lanjutkan di atas atap masjid Al-Ma’rifah yang mana salah satu tujuannya untuk pendidikan bagi masyarakat. “Untuk pendidikan masyarakatlah, mudahnya. Masyarakat di sini kan banyak kalau Jumatan. Kalau kita taruh di display, nanti masyarakat tanya, ‘Ini sayuran apa, ya? Oh, hidroponik.' Biar nanti mereka mengenal,” cerita Bambang pada Jumat (11/9) lalu.

Sementara Irda sendiri merupakan pegawai negeri sipil di sebuah kantor kementerian di Jakarta. Pandemi membuat dia mesti bekerja dari rumah dan sedikit banyak, Irda memiliki waktu luang. Oleh karenanya ia berinisiatif membangun kebun tersebut bersama Bambang. “Ini hasil work from home (WFH),” singkat lulusan sarjana pertanian ini, memperlihatkan berbagai jenis selada, kangkung, sawi, pakcoy, serta daun mint yang semuanya subur.

Kebun pun berjalan dengan nama B Farm, atau inisial dari Berkah Farm. Tujuannya mereka tidak lain adalah untuk menuai berkah dari adanya perkebunan ini. “Maksudnya supaya apa yang kita usahakan, Allah SWT berikan keberkahan. Jangan cuma usaha, usaha saja. Tapi berkah, halal, dan bermanfaat untuk orang banyak. Kan kita mikirin akhiratnya juga, kalau dunia terus, enggak akan ada habisnya,” tutur Bambang menyelipkan harapannya.


Irda sedang menunjukkan kebunnya kepada Wakil Camat setempat. (ACTNews/Reza Mardhani)

Berkah itu sudah mereka tuai beberapa waktu lalu dalam 3 kali panen. Sebagian hasilnya mereka jual untuk keuntungan, dan sebagian keuntungan itu diputar kembali untuk mengembangkan kebun. Sementara sebagiannya diberikan untuk orang-orang yang membutuhkan. Seperti beberapa waktu lalu, mereka memberi sayur-sayurannya untuk anak di panti yatim.

Berawal dari modal pribadi sekitar Rp500 ribu yang cukup membangun satu rak hidroponik, kebun mereka saat ini sudah memenuhi sekitar sepertiga dari atap Masjid Al-Ma’rifah atau 6 rak, dari hasil penjualan. Namun ke depannya jika memiliki kemampuan, Bambang dan Irda bermimpi untuk memperbanyak lagi media tanam hidroponik mereka, bahkan sampai memenuhi atap masjid.

“Nanti ini kalau raknya sudah penuh, hampir sekitar 3.000 lubang, atau 3.000 tanaman. Itu insyaallah ketika banyak yang pesan, kita tidak khawatir. Karena waktu itu banyak yang pesan, cuma tanaman kita masih kecil-kecil. Akhirnya kita list dahulu,” jelas Bambang.

Untuk mewujudkannya, Bambang dan Irda akhirnya turut serta dalam program Wakaf Modal Usaha Mikro berbasis masjid yang diluncurkan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jakarta Barat di Masjid Al-Ma’rifah pada Jumat (11/9) lalu. Bersama B Farm, ada 8 orang lainnya yang menjadi penerima manfaat dari program ini di Jakarta Barat.


“Untuk saat ini memang kami menyasar usaha yang berukuran mikro, jadi kebutuhan yang diproduksi dalam rumah tangga. Misalnya usaha makanan kering, makanan ringan, bahkan usaha yang kita lihat sekarang, usaha hidroponik yang dipelopori di masjid. Jadi memang usaha-usaha kecil ini yang kita sasar. Karena UMKM ini menjadi penggerak ekonomi masyarakat, dan dari masyarakat pulalah akan kembali kepada masyarakat, dalam program-program yang berbasis kepada kemanusiaan dan umat,” jabar Kepala Cabang ACT Jakarta Barat Andre Alfiansyah.

ACT Jakarta Barat berharap ke depannya di setiap masjid di Jakarta Barat, ada satu kelompok binaan program Wakaf Modal Usaha Mikro yang terdiri dari 9-10 orang. Dengan jumlah masjid di Jakarta Barat yang mencapai 500-600 jumlahnya, artinya Wakaf Modal Usaha Mikro berbasis masjid dapat memberdayakan sekitar 5.000-6.000 UMKM.

“Karena itu kami berharap, para wakif sekalian ataupun warga masyarakat Indonesia khususnya di wilayah Jakarta Barat, yuk kita sama-sama membantu saudara-saudara kita untuk bisa kembali berusaha dari yang kecil-kecil. Insyaallah usaha ini nantinya akan menjadi besar,” ajak Andre. []