Menanti Rezeki di Stasiun Tugu Yogyakarta

Lalu-lalang penumpang di peron kereta tidak terlihat lagi. Stasiun seolah tanpa penghuni. Di sudut-sudutnya, para porter terduduk memikirkan nasib anak-istri.

Porter Stasiun Tugu Yogyakarta
Suroso, salah satu porter di Stasiun Tugu Yogyakarta. (ACTNews/Ichsan Ali)

ACTNews, KOTA YOGYAKARTA – Sepi menjadi pemandangan Stasiun Tugu Yogyakarta saat masa pandemi Covid-19. Begitu juga saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4.

Lalu-lalang para penumpang yang memadati peron, kini seolah lenyap. Hanya ada beberapa orang berseragam biru berpadu oranye duduk menanti kedatangan kereta. Mereka adalah para porter yang menjajakan jasa angkut barang bawaan penumpang.

Suroso (47), salah satu porter, menuturkan, penumpang amat sepi saat ini, Ia pun sulit mendapatkan seorang pelanggan. “Kalau kayak gini (sepi) drastis lah (penghasilan) kasarnya, sekitar turun 70 persen. Soalnya laju kereta enggak ada kan, kereta hanya beberapa saja. Penumpang juga belum stabil,” kata Suroso, Sabtu (4/9/2021).

Pria yang bermukim di Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, itu menerangkan, selain jumlah pelanggan sedikit, saat ini porter bekerja dengan sistem sif. Suroso pun harus berbagi dengan 98 orang porter lainnya. Seorang porter hanya bisa bekerja selama satu hari penuh, kemudian satu hari berikutnya terpaksa libur.