Menarik Ojek atau Diam dan Tidak Mendapatkan Nafkah

Seperti warga lainnya, Agus juga khawatir akan Covid-19 yang terus menyebar di mana-mana. Ia ingin diam di rumah, namun ia tetap harus menarik ojek demi dapur tetap “ngebul”.

Agus Nurjaman bersama tim Satgas Covid-19 ACT Tasikmalaya, usai mendapatkan layanan penyemprotan disinfektan gratis untuk kendaraannya. (ACTNews/Rimayanti)

ACTNews, TASIKMALAYA - Sudah lebih dari sepekan, pendapatan harian Agus Nurjaman menurun. Pengemudi Grab di asal Kelurahan Sukamajukidul, Kecamatan Indihiang, Tasikmalaya tak menyangka pandemi Covid-19 berdampak signifikan pada nafkahnya.

Dalam situasi normal, Agus bisa mendapatkan 8-9 pesanan perjalanan dalam sehari. Namun, sejak pandemi corona meluas, ia hanya mendapatkan 3-4 pesanan perjalanan saja. “Biasanya bisa 9 (perjalanan), teh. Sekarang mau 4 (perjalanan) saja susah,” ungkap Agus, yang telah menjadi pengemudi Grab sejak 2017.

Semenjak adanya imbauan pembatasan aktivitas di luar ruangan, mobilitas masyarakat menjadi terbatas. Kondisi ini memberi efek domino kepada pekerja harian seperti Agus. Pendapatan yang ia hasilkan menurun drastis karena hampir semua orang melakukan aktivitasnya di rumah masing-masing.

“Iya, ada arahan pemerintah yang harus diam diri di rumah. Tapi bagi saya cukup susah, teh, karena dapur juga harus tetap ngebul. Ada keluarga yang mesti dinafkahi,” tutur Agus, Senin (30/3).

Agus juga memiliki kekhawatiran seperti warga lainnya, khawatir akan wabah yang terus menyebar di mana-mana. Untuk meminimalisir hal tersebut, ia biasanya mencari penumpang di area rumahnya, sehingga ia tak perlu ke pergi jauh dari rumah. Namun, cara tersebut kurang membuahkan hasil. Agus cukup sulit untuk mendapatkan penumpang. “Ya saya juga sama takut dan khawatir, tapi gimana lagi kan ya. Pernah juga mangkal dari rumah, tapi sangat sulit dapat penumpang,” keluhnya.

Di tengah pendapatan yang terus menurun dan kekhawatiran akan pandemi Covid-19, Agus sedikit lega. Pasalnya, ia mendapatkan layanan penyemprotan disinfektan gratis untuk kendaraannya. Layanan ini hadir atas kerja sama Grab Priangan Timur dan ACT Tasikmalaya, Senin (30/3). Tidak hanya Agus, sejumlah pengemudi Grab lainnya pun datang ke kantor ACT Tasikmalaya untuk mendapatkan layanan tersebut.

“Alhamdulillah merasa terbantu untuk langkah pencegahan kan ya. Kita hanya bisa memaksimalkan ikhtiar dan doa,” ujar Agus.

Di situasi yang tidak mudah ini, Agus tetap berikhtiar dan menyampaikan harapannya agar semua kembali membaik. Dengan demikian, ia bersama teman-teman yang lainnya bisa bekerja dan mencari nafkah seperti hari-hari sebelumnya. Ditambah lagi pemerintah Kota Tasikmalaya khususnya sudah mengumukan terkait karantina wilayah per 31 Maret 2020. “Mudah-mudahan penyebaran corona di Indonesia, khususnya Tasikmalaya cepat punah, perekonomian membaik, kembali normal dan seperti biasa,” harap Agus.

M. Fauzi Ridwan dari Tim Program Tasikmalaya menjelaskan, layanan penyemprotan disinfektan gratis ini merupakan ikhtiar mitigasi ACT Tasikmalaya dan Grab Priangan Timur dalam mencegah penyebaran corona. “Alhamdulillah Grab Priangan Timur turut berikhtiar mitigasi meluasnya pandemi ini. Semakin banyak mitra yang berkolaborasi, semakin banyak masyarakat yang terbantu,” terangnya.

Selain penyemprotan disinfektan, ACT turut membantu berbagai elemen masyarakat di masa darurat Covid-19. Dukungan untuk para pejuang medis hadir dalam bentuk bantuan APD serta pangan. Selain tenaga medis, dukungan juga diberikan kepada para pekerja harian yang terdampak secara ekonomi, melalui program Operasi Pangan Gratis. []