Mencegah Corona Bukan Berarti Panik Membeli

Semenjak virus corona menyebar di seluruh dunia, warga dunia panik dan membeli banyak sumber daya, sehingga mengakibatkan kenaikan harga akibat tingginya permintaan. Padahal hal tersebut tidak perlu dilakukan.

Seorang pria mendorong troli yang penuh dengan tisu toilet Senin (2/3) lalu di Carrefour ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan. Warga Jakarta turun ke supermarket dan toko obat setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus Covid-19 pertama yang dikonfirmasi di Indonesia pada Senin. (Jakarta Post/Donny Fernando)

ACTNews, JAKARTA – Semenjak Hong Kong mengumumkan temuan pertama kasus virus corona pada pertengahan Januari 2020 lalu, masyarakat langsung bersiap. Termasuk dengan menyediakan masker. Namun permintaan masker yang tinggi membuat masker semakin langka di pasaran.

“Sudah mahal dan barangnya langka. Satu kotak harganya berkisar antara 400-500 Dolar Hong Kong (HKD). Kalau dihitung per lembar, kira-kira Rp80 ribu sampai Rp90 ribu,” kata Yana Sulistyana, WNI yang kini berada di Happy Valley ketika diwawancarai ACTNews pada Februari silam.

Pembelian secara panik, atau panic buying, tidak hanya terjadi di Hong Kong. Kompas mencatat, pembelian secara panik juga terjadi di berbagai negara yang terkonfirmasi kasus corona. Di antaranya Cina, Korea Selatan, Jepang, Italia, Jerman, hingga Austria.

Termasuk salah satunya Indonesia. Semenjak Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya kasus infeksi corona di Indonesia, kepanikan terjadi di masyarakat. Hal tersebut dibuktikan dengan melambungnya harga masker dan cairan antiseptik. Kompas mencatat, pada Selasa (3/3) lalu harga beberapa masker di toko daring bahkan naik 10 kali lipat. Cairan pencuci tangan yang tadinya puluhan ribu kini juga berada di angka ratusan ribu rupiah per botol.


Permintaan yang tinggi pada akhirnya mempengaruhi harga pasar. Padahal menurut dokter Rizal Alimin selaku Koordinator Tim Medis ACT, penggunaan masker sebenarnya lebih utama untuk orang yang kondisinya sakit dibandingkan orang yang sehat.

“Baik Covid-19 atau virus lainnya. Semua orang yang sedang demam baiknya pakai masker untuk mencegah penularan virus. Kalau kita bersin, ada sekitar 40.000 droplets (percikan bersin) yang keluar, kalau batuk mungkin sekitar 3.000 droplets. Jadi penting sekali kita menegakkan etika bersin dan batuk. Prinsipnya bagaimana mencegah droplets itu keluar. Baik dengan tisu, ataupun dengan masker, pokoknya mencegah agar dia tidak menyebar,” ujar dokter Rizal.

Sebagaimana yang telah disarankan oleh tenaga kesehatan lain, dokter Rizal juga mengimbau untuk sering mencuci tangan untuk mencegah virus corona. Dosen Magister Bidang Kesehatan Masyarakat University of Derby, Inggris, Dono Widiatmoko, dilansir dari Kompas.id, mengatakan, droplet yang menempel pada tempat-tempat umum akan mudah terpegang oleh orang lain dan menularkan virus itu.

Virus yang berada di tangan tersebut berpotensi masuk ke dalam tubuh jika orang yang terpapar memegang mata, hidung, atau mulut. Dengan mencuci tangan, mata rantai penularan Covid-19 ini secara tidak langsung akan terputus.

”Virus akan mudah masuk melalui mata karena sangat mudah ditembus. Itulah alasannya mata kita lebih gampang merah jika terpapar kotoran,” terang Dono. Namun sebenarnya, Dono menyarankan masyarakat untuk mencuci tangan menggunakan sabun, bukan hand sanitizer. Dengan mencuci tangan menggunakan sabun, bakteri atau virus yang menempel pada telapak tangan akan luruh.

”Tidak salah menggunakan hand sanitizer. Namun dari sisi kesehatan masyarakat, cuci tangan dengan sabun sudah cukup. Apalagi di tengah stok hand sanitizer yang terbatas,” katanya saat ditemui di Jakarta.

Fenomena panik membeli tidak hanya terjadi pada masker dan cairan antiseptik untuk tangan. CNN melaporkan, masyarakat bahkan membeli makanan dalam jumlah banyak di beberapa ritel setelah virus corona terkonfirmasi sampai di Indonesia.

Fenomena tersebut sangat memperkeruh situasi di masyarakat saat ini. Salah satunya ketika Gunung Merapi mengalami erupsi pada Selasa (3/3) lalu, satu hari setelah pengumuman kasus virus corona di Indonesia. Masyarakat jadi kesulitan menghadapi abu vulkanik yang menyebar hingga wilayah Solo Raya.

"Posisinya saat ini, masker memang sangat sulit sekali dicari. Sampai sekarang kami masih berusaha untuk mencari masker. Alhamdulillah, dari teman-teman Masyarakat Relawan Indonesia (MRI)-ACT Klaten tadi juga sudah turun juga membagikan beberapa masker yang masih ada stoknya. Selain itu, kami juga mengusahakan untuk obat tetes mata. Antisipasi jika abu vulkanik sampai masuk ke mata," jelas Ardiyan, Koordinator MRI - ACT Solo Raya. []