Mencipta Inovasi Wakaf Era 5.0

Seiring dengan perkembangan zaman, konsep wakaf terus relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Air Minum Wakaf, salah satu produk inovasi dari wakaf produktif.
Ilustrasi. Air Minum Wakaf, salah satu produk inovasi dari wakaf produktif. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Dunia terus berkembang dan kini dunia mengenal era baru yang disebut era Society 5.0. Jika era Revolusi Industri 4.0 lebih didominasi oleh teknologi-teknologi canggih yang bersaing dengan kerja manusia, Society 5.0 justru diharapkan dapat menciptakan nilai baru dan menyelesaikan permasalahan sosial lewat teknologi-teknologi canggih tersebut.

Wakaf kemudian menyesuaikan diri juga dengan konsep ini. Agar terus relevan dengan perkembangan zaman, wakaf pun berinovasi. Seperti yang dijelaskan oleh Imam Nur Azis sebagai Founder Wakafpreneur Institute serta konsultan dari Waqf ASEAN Mall Thailand.

“Inovasi wakaf 5.0 ini adalah jawaban atas berbagai persoalan yang terkait dengan kemanusiaan. Wakaf ini bisa menjawab sebagai impact investment,  Kalau boleh dibahasakan sebenarnya sebagai Sustainable Development Goal (SDG),” ujarnya pada webinar bersama Global Wakaf Academy-ACT bertemakan ‘Inovasi Wakaf 5.0’ pada Jumat (7/5/2021) lalu. Impact investment diartikan sebagai investasi yang membawa dampak positif bagi penyelesaian persoalan sosial-masyarakat.

Lima Langkah Inovasi Wakaf

Untuk mencapai inovasi wakaf, Imam mengenalkan lima langkah, yang dimulai dari kampanye literasi. Tidak akan ada inovasi tanpa literasi. Permasalahannya literasi wakaf masih cukup rendah di Indonesia.


“Badan Wakaf Indonesia sudah mengukur dengan Indeks Literasi Wakaf (ILW), itu masih kecil (angkanya). Mohon maaf di negara muslim terbesar di dunia, itu masih 50% di bawah literasi wakafnya. Kalau 60%, mengerti apa itu wakaf, itu moderat. Kalau sudah di atas 70% itu sudah advance, sudah mengerti wakaf produktif dan sebagainya,” kata Imam. Strategi literasi saat ini bisa disosialisasikan melalui daring maupun secara langsung.

Kemudian yang kedua adalah menciptakan ekosistem wakaf yang inovatif. “Kalau kita bicara blockchain, cryptocurrency dan lain sebagainya, bagaimana kalau orang mau berwakaf lewat ini?” tanya Imam.  Maka perlu orang-orang yang terlatih membuatnya. Ia mencontohkan dengan apa yang telah dimulai di Wakafpreneur Bootcamp, di mana kemampuan-kemampuan ini dipertajam.


Setelah menciptakan ekosistem, maka langkah ketiga adalah koversi. Tahap ini dijabarkan Imam menjadi dua jenis, yaitu mengubah wakaf non-produktif menjadi wakaf produktif, serta mengumpulkan wakaf tunai untuk diubah menjadi aset produktif.

Selanjutnya langkah keempat yakni menciptakan nazir-nazir berkompeten dan terpercaya. Langkah terakhir adalah memastikan semua langkah yang dilakukan sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Catatan penting juga dari Imam, bagaimana inovasi yang dilakukan disinergikan dengan data yang ada. Ia menyebut hal ini sebagai future value dari wakaf. “Inilah future value, nilai masa depan yang akan kita ciptakan dalam inovasi wakaf 5.0 ini,” tutup Imam.[]