Mencontoh Gaya Hidup Wakaf dari Para Sahabat Nabi

Pada zaman Rasulullah, wakaf adalah gaya hidup para sahabat. Berbagai aset diwakafkan untuk kemajuan peradaban saat itu.

Ilustrasi. Manfaat wakaf akan berdampak langsung untuk kepentingan umum. (ACTNews)
Ilustrasi. Manfaat wakaf akan berdampak langsung untuk kepentingan umum. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Meskipun bersifat sunah, di zaman Rasulullah SAW wakaf adalah gaya hidup bagi para sahabat. Berbagai contoh wakaf tercatat dalam literatur fikih maupun sejarah peradaban Islam. Masjid Nabawi yang ada di Madinah, misalnya, dahulu tanahnya adalah milik dua anak yatim dari Bani Najjar.

Semula tanah itu akan dihibahkan kepada Rasulullah, tetapi beliau menolak. Mungkin karena pertimbangan ia adalah milik anak yatim yang harus dilindungi, Rasul memutuskan untuk membelinya dengan harga 10 dinar, yang dibayarkan oleh Abu Bakar as-Shiddiq RA.

“Sungguh, kolaborasi yang luar biasa. Rasul yang membeli, Abu Bakar yang membayar,” komentar KH Anang Rikza Masyhadi, MA sebagai Pengasuh Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah dalam tulisannya yang berjudul Wakaf Sebagai Gaya Hidup’.

Setelah Perang Khaibar jumlah kaum Muslimin semakin bertambah, maka Masjid Nabawi diperluas yang tadinya 35x35 meter, menjadi 50x50 meter. Perluasan itu menuju ke sisi utara di atas tanah yang telah diwakafkan oleh pemiliknya, Abdurrahman bin Auf RA yang dikenal sebagai saudagar kaya raya yang menjadi sahabat setia Rasul hingga akhir hayat.

Saat itu Abdurrahman bin Auf RA memiliki tiga rumah. Salah satunya ia gunakan untuk menempatkan tamu-tamu Rasulullah yang menginap karena rumahnya termasuk yang paling megah di Madinah. “Inilah yang disinyalir sebagai jenis wakaf manfaat pertama dalam sejarah Islam,” tambah KH Anang.

Utsman bin Affan RA mewakafkan sumur, Abu Thalhah RA mewakafkan kebun terbaiknya yaitu perkebunan Bairuha, Umar bin Khattab RA juga mewakafkan tanah di Khaibar. Ketika Umar menjadi khalifah, ia mencatatkan aset itu dalam akta wakaf yang disaksikan para saksi dan mengumumkannya kepada masyarakat luas. Sejak saat itu banyak keluarga Nabi dan para sahabat lain yang mewakafkan tanah dan perkebunan.

Gaya hidup demikian yang ingin kembali digalakkan di Indonesia. Menurut Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia Mohammad Nuh jika wakaf uang menjadi gaya hidup, masyarakat akan merasa terbiasa berbagi dalam keseharian.

"Wakaf ini untungnya tebal dan tahan lama untuk mengurangi defisit kita. Wakaf bukan sekadar melepaskan harta kita untuk kepentingan umum, melainkan juga ada nilai yang tersembunyi di balik harta yang kita lepaskan,"

Dalam kesempatan itu, Nuh juga membahas soal wakaf uang yang menurutnya merupakan simbol era baru perwakafan di Indonesia. "Kita ingin mendorong wakaf uang ini sebagai simbol era baru di perwakafan, karena dua hal, pertama dari sisi potensi dan kedua dari sisi fleksibilitasnya," ucapnya.

Nuh memaparkan, wakaf uang dan transformasi digital menjadi kebijakan prioritas dari 2021 sampai 2024. Wakaf uang memiliki fleksibilitas dan potensi yang luar biasa dengan perkiraan mencapai triliunan. Seorang wakif bisa berwakaf uang dengan berapapun jumlahnya, kapanpun, dan untuk di manapun.[]