Mendampingi Tarso yang Tinggal di Gubuk Tak Layak Huni

Tarso mengaku usianya sudah menginjak 90 tahun, meski di kartu identitas tertera usianya 70 tahun. Di masa senjanya, Tarso bertahan hidup di gubuk sederhana berbahan dasar spanduk bekas, plastik, serta karung yang berdiri di atas tanah milik orang lain di tengah kebun.

Mendampingi Tarso yang Tinggal di Gubuk Tak Layak Huni' photo
Tarso (kiri) di depan rumahnya yang ada di Kelurahan Kedungwuluh, Kecamatan Purwokerto Barat, Purwokerto. Sudah lima tahun terakhir ia dan istrinya tinggal di tempat itu. (ACTNews)

ACTNews, PURWOKERTO – Bekas spanduk, plastik serta karung menjadi bahan utama tempat yang Tarso (70) sebut sebagai rumah. Ada beberapa pohon yang berdiri mengelilingi tempat tinggal itu, Tarso jadikan sebagai tiangnya. Tanah menjadi alas, yang tiap hujan turun, acap kali menjadi lembab serta basah.

Rumah yang menjadi tempat tinggal Tarso beserta istrinya, Sugiani (45), berdiri di tengah-tengah kebun yang tak jauh dari Sungai Banjaran. Tepian sawah, kebun, hingga pinggir sungai harus dilewati untuk sampai ke rumah yang didiami Tarso lima tahun belakangan ini. Ukurannya pun tidak besar, hanya 2x3 meter dengan tinggi 1 meter. Tanah tempat berdiri rumah itu juga bukan milik Tarso sendiri, melainkan milik orang lain yang berbaik hati menggratiskan ia mendirikan tempat tinggal di sana.

Sebelumnya saya ngontrak tanah terus dibangun rumah kayu. Tapi karena sudah enggak punya uang yang cukup lagi, saya enggak bisa melanjutkan kontrak tanah, jadinya pindah ke sini,” jelas Tarso, Selasa (7/7).

Di rumah yang sekarang ini, Tarso tak dipungut biaya untuk tinggal di atas tanah sang pemilik. Ia hanya diminta untuk menjaga dan merawat kebunnya saja. Tak ada barang mewah di dalam rumah pria yang mengaku sebenarnya telah berusia 90 tahun itu. Listrik tak mengalir, ketika malam, lilin yang menjadi sumber penerangan. Bahkan, kompor pun ia tak punya. Untuk kebutuhan sehari-hari, Tarso mengandalkan ikan hasil pancingannya di sungai yang mengalir tak jauh dari tempat tinggalnya itu.

Kabar tentang Tarso dan istrinya yang tinggal di gubuk sederhana di tengah kebun sempat viral beberapa waktu lalu. Warga Kelurahan Kedungwuluh, Kecamatan Purwokerto Barat, Purwokerto itu terpaksa tinggal dengan keadaan seadanya karena terbatasnya ekonomi. Mantan pekerja rodi di zaman penjajahan Belanda di Indonesia itu selama ini harus hidup dalam keadaan ekonomi prasejahtera, padahal ia merupakan saksi hidup bagaimana negeri ini berjuang untuk merdeka.

Merespons viralnya kabar tentang Tarso atau yang akrab disapa Mbah Tarso itu, ACT Purwokerto pada Selasa (7/7) lalu menyambangi kediamannya dan mengantarkan paket pangan. “Bantuan paket pangan ini merupakan amanah dari masyarakat Indonesia yang menyalurkan kedermawanannya melalui ACT,” jelas Rama Fardiansyah dari Tim Program ACT Purwokerto.

Rama menambahkan, selain paket pangan ini, ACT Purwokerto juga berencana terus mendampingi Tarso. Pelayanan medis serta peket pangan tambahan akan kembali disalurkan bagi keluarga yang kini harus bertahan dengan keterbatasan ekonomi tersebut.[]


Bagikan