Mendukung Pendidikan Pengungsi Anak Rohingya

Seperempat dari total pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar adalah anak-anak berusia 5-17 tahun. Hingga saat ini, tidak ada kepastian masa depan untuk mereka, bahkan pendidikan.

Mendukung Pendidikan Pengungsi Anak Rohingya' photo
Kawsara Akhter, Salah satu pengungsi Rohingya di pengungsian Cox’s Bazar, menerima bantuan perlengkapan sekolah dari Aksi Cepat Tanggap, Senin (20/7). (ACTNews)

ACTNews, COX’S BAZAR – Kawsara Akhter (10) ikut mengatre bersama anak-anak lainnya di Kamp-1 Kutupalong, Cox’s Bazar. Hari itu ia akan menerima sejumlah peralatan sekolah baru. Hal yang amat jarang ia peroleh. Ada tas, buku tulis, buku gambar, Alquran, dan alat tulis.

Selain Fatima, ada 99 pengungsi anak lain yang menerima bantuan peralatan sekolah, Senin (20/7). Mereka adalah siswa di Madrasah Darus Salam Kutupalong.

Firdaus Guritno dari Tim Global Humanity Response – ACT untuk wilayah Asia menjelaskan, bantuan peralatan sekolah menjadi salah satu dukungan pendidikan bagi anak-anak pengungsi Rohingya. “Kita berharap dengan hadirnya bantuan ini, semangat belajar mereka tetap ada,” kata Firdaus.

Berdasarkan data UNHCR per 30 Juni 2020, saat ini ada 860.356 pengungsi Rohingya di Bangladesh. Hampir 35,5 persen di antaranya adalah anak-anak usia 5-17 tahun. Hingga kini, belum ada pendidikan formal memadai yang dapat dinikmati pengungsi anak.

Menurut laporan yang disajikan Human Right Watch, anak-anak Rohingya tidak memiliki akses pendidikan di negara pengungsian. Pemerintah setempat melarang anak-anak Rohingya untuk mengikuti sekolah formal di negara tersebut. Mereka juga tidak mengizinkan lembaga kemanusiaan PBB dan LSM, yang didanai oleh donor internasional, dari memberikan anak-anak Rohingya dengan pendidikan formal dan terakreditasi.

Selain bantuan pendidikan, anak-anak Rohingya juga terancam kelaparan. Bantuan bahan pangan dan sumur wakaf pun hadir mendukung kelanjutan hidup para pengungsi.

“Paket pangan menjadi bantuan yang selalu dinanti. Para pengungsi pun bersyukur menerima dukungan di tengah segala keterbatasan mereka sebagai pengungsi. Terlebih lagi saat ini tengah pandemi, yang mana makin memperpuruk kondisi mereka di sana. Kepedulian kita, amat berarti bagi mereka,” tambah Firdaus.[]


Bagikan