Menemani Perjalanan Lembaga Kemanusiaan

Setiap relawan punya cerita sendiri yang mempertemukan mereka dengan Aksi Cepat Tanggap. Masing-masing cerita begitu unik, termasuk salah satu cerita Arifin, relawan Masyarakat Relawan Indonesia Jakarta Selatan yang tidak sengaja bertemu dengan ACT saat banjir besar Jakarta pada 2014.

Menemani Perjalanan Lembaga Kemanusiaan' photo
Warga Mampang yang terdampak banjir menerima bantuan dari Masyarakat Relawan Indonesia Jakarta Selatan. (Dok. pribadi)

ACTNews, JAKARTA – Air bah mengepung istana merdeka. Momen itu terjadi pada 2014 dan masih terbersit di benak Arifin (40), anggota Masyarakat Relawan Indonesia daerah Jakarta Selatan. Arifin yang juga warga ibu kota turut merasakan banjir. Bahkan di tempat tinggalnya saat itu, Mampang, banjir menggenangi rumah-rumah warga.

“Di situ saya ketemu orang, yang belakangan saya tahu ternyata tim program Aksi Cepat Tanggap, mereka mau membagikan bantuan makan. Kebetulan saya ketua RT,” kata Arifin. Sejak saat itu pertemuannya dengan ACT berbuah ikatan. Banjir belum juga surut, Arifin pun memutuskan bergabung dengan organisasi relawan Masyarakat Relawan Indonesia, membantu lebih banyak orang.

Usai banjir Jakarta, ia ikut dalam agenda yang diselenggarakan oleh Disaster Management Institute of Indonesia, sebuah pusat kajian kebencanaan yang menginduk Aksi Cepat Tanggap. Ia mendapatkan pelatihan menjadi trainer kebencanaan dan diajak melatih ke sekolah-sekolah di berbagai kota. “Saya ke Semarang, Balikpapan, Jogja,” lanjut Arifin.

Tujuh tahun berlalu, ia masih menjadi anggota MRI hingga kini. Ada satu kalimat yang amat memotivasi Arifin untuk terus menolong sesama. Kata-kata yang diucapkan pendiri ACT Ahyudin amat melekat dalam diri Arifin. “Semakin banyak kita menolong orang, semakin pintu langit dibuka, semakin memudahkan kita. Inspiring speech yang diberikan pak Ahyudin dan pak Ibnu (sekarang presiden ACT) membekas pada jalan pikiran saya. Kata-kata itulah yang menentukan jalan relawan saya,” cerita Arifin.


Arifin tengah mencangkul lahan untuk ditanami bibit. Relawan Masyarakat relawan Indonesia Jakarta Selatan, kini membangun usaha sayuran di dekat tempat tinggalnya di Jagakarsa. (ACTNews/Gina Mardani)

ACT pun terus bertransformasi, 15 tahun perjalanan sudah ditempuh lembaga kemanusiaan ini. Arifin yang hingga kini masih menemani langkah ACT pun merasakan pemberdayaan yang dibimbing ACT. “Kalau dulu relawan diandalkan hanya saat disaster, sekarang tidak. Saat ini kami diajak untuk turut mengembangkan filantropi. Bahkan, saya pun diajarkan untuk mandiri dengan program Wakaf Modal Usaha Mikro,” jelasnya. 

Arifin yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang sayur kini memang mulai membuka kebun sayurannya sendiri. Ia menanam kangkung, bayam, sawi, cabai, singkong, di salah satu kebun dekat tempat tinggalnya di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Ia pun menjadi salah satu penerima bantuan Wakaf Modal Usaha mikro. “Semoga semakin dewasa, peran ACT semakin banyak untuk masyarakat,” harap Arifin.


Bagikan

Terpopuler