Menembus Padang Pasir Menuju Warsheikh

Bukan perjalanan mudah untuk mencapai Warsheikh, desa terpencil di Provinsi Middle Shabelle, Somalia. Dari Mogadishu, perjalanan memakan waktu selama tiga jam. Belum lagi padang pasir yang seolah mengisap laju mobil.

Menembus Padang Pasir Menuju Warsheikh' photo

ACTNews, MIDDLE SHABELLE – Keluar dari wilayah kumuh pinggiran Kota Mogadishu, jalan beraspal penuh lubang itu terputus. Ban mobil penggerak empat roda yang kami tumpang kini menggilas jalur ekstrem tanpa tepi, tanpa batas, jalur yang berwujud padang pasir mahaluas. Sejauh mata memandang, hanya ada bulir pasir putih, ditambah samar bayang pasir yang beterbangan ditiup angin laut. Ratusan kilometer ke depan, hanya ada jalur padang pasir di sepanjang pesisir pantai.  

Hari tasyrik pertama di Somalia, Senin (11/8), kami, Tim Global Qurban untuk Somalia, bergerak keluar Mogadishu. Sejak pagi sekali, mobil kami melintasi padang pasir yang monoton itu. Berkali-kali mobil amblas di jalur pasir, berkali-kali pula sang pengemudi harus memindahkan dengan cepat tuas sistem transmisi empat roda. Ini untuk memaksa mobil menggerakkan dua roda atau sekaligus empat rodanya agar sanggup melewati padang pasir yang tak bersahabat.

Tujuan kami hari itu adalah wilayah Warsheikh, sebuah desa kecil di Provinsi Middle Shabelle, di pesisir pantai sebelah timur laut Mogadishu. Usai tiga jam perjalanan darat, jalur padang pasir yang bergelombang berakhir, berganti rumah-rumah kumuh di tepian pantai. “Selamat datang di Desa Warsheikh, desa para ulama,” ujar Abdirahim, mitra yang mengantar kami di Somalia.

Bagi hampir 99% populasi muslim di Somalia, Warsheikh adalah sebuah wilayah penuh sejarah. Di desa ini, pusat peradaban Islam di Somalia pertama kali berdetak. Warsheikh adalah salah satu lokasi penting, pemukiman ulama Somalia pertama kali di masa Kesultanan Mogadishu, abad pertengahan silam.


Ratusan kantong daging kurban untuk Warsheikh

Melewati hari tasyrik pertama kemarin, seluruh penyembelihan hewan kurban dari Global Qurban, dilakukan di Warsheikh. Lokasi ini ditempuh selama tiga jam perjalanan darat, menyiksa mobil di tengah terik matahari dan padang pasir. Kami tiba di Warsheikh sesaat sebelum azan Zuhur. Rudi Purnomo dari Tim Global Qurban Somalia mengatakan, total sebanyak 80 sapi kurban dari dermawan Indonesia, disembelih di desa kecil penuh sejarah ini.

“Target kita di desa ini sebenarnya 100 sapi, namun terealisasi sebanyak 80 sapi karena stok sapi tak mencukupi. Tapi Alhamdulillah dengan sapi kurban sebanyak ini, seluruh warga di Warsheikh bisa mendapatkan porsinya, kurban dari dermawan Indonesia,” ujar Rudi Purnomo.

Di atas padang pasir Warsheikh, total sebanyak 80 sapi Global Qurban disembelih. Hingga azan Ashar seluruh amanah untuk menyiapkan daging kurban, rampung. Daging berukuran besar disiapkan dalam kantong-kantong plastik berjumlah ratusan.


Sementara itu, di saat yang sama puluhan perempuan Warsheikh dengan jilbab panjang berwarna-warni sudah menunggu selagi berteduh di bawah pepohonan berduri tajam khas Somalia.

“Penduduk Warsheikh sangat membutuhkan bantuan pangan. Mayoritas mereka hanya bekerja sebagai nelayan karena lokasinya berada persis di pinggiran laut. Insyaallah daging kurban dari Indonesia ini akan menjadi lauk makanan yang berbeda, dengan nikmat gizi yang lebih baik bagi mereka,” ujar Rudi.

Ahmed Hussein Ahmed (50), Kepala Desa Warsheikh menjelaskan, kehidupan seluruh warganya termasuk kategori fakir miskin. “Ada juga warga kami yang berstatus pengungsi internal di Warsheikh. Mereka tidak terlahir di sini. Mereka adalah pengungsi dari wilayah lain di Somalia. Kami senang dengan kurban dari Indonesia ini. Kita berterima kasih untuk semua warga Indonesia,” tutur Ahmed.

Selain Warsheikh, pendistribusian daging kurban juga menjangkau lokasi-lokasi presejahtera lainnya di Somalia, seperti Mogadishu dan Baidoa. Untuk Somalia, lebih dari seribu sapi dikurbankan.[]

Bagikan