Menengok Dampak Satu Dekade Perang Sipil Suriah

Satu dekade melewati konflik, Suriah telah kehilangan ratusan ribu nyawa, merasakan ekonomi yang porak-poranda, serta kerawanan pangan.

Ilustrasi. Satu dekade konflik Suriah membuat kerawanan pangan dan pengangguran bertambah. (ACTNews)

ACTNews, SURIAH – Berawal dari demonstrasi damai yang dimulai sekelompok anak muda di Selatan Deera, Suriah. Massa berkumpul di jalan dan meneriakkan protes pada 15 Maret 2011. Beberapa hari berikutnya, penembakan terjadi dan menyebabkan 72 orang tewas. Eskalasi malah terus meluas dan  meningkat di berbagai wilayah di Suriah pada hari-hari berikutnya, dan dunia mencatat konflik itu masih berlanjut satu dekade setelahnya.

Lalu apa yang disisakan konflik ini? Tepat 10 tahun konflik, Syrian Observatory for Human Rights melaporkan perang saudara di Suriah telah merenggut 388.000 nyawa. Dari semua korban tewas tersebut, sebanyak 117.388 di antaranya merupakan warga sipil. Lebih lanjut lagi, sebanyak 22.000 korban tewas adalah anak-anak.

Ekonomi tentu ikutan morat-marit. Hampir 80% warga Suriah hidup dalam kemiskinan, dan 60% rawan pangan. Situasi keamanan pangan terburuk yang pernah terlihat di Suriah, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mata uang telah jatuh, sekarang menjadi 4.000 pound Suriah setara satu dolar di pasar gelap. Dibandingkan dengan tahun lalu yang setara dengan 700 dolar, dan 47 dolar pada awal konflik pada tahun 2011.

Anak-anak Suriah di salah satu kamp pengungsian di perbatasan Suriah-Turki. Akibat serangan berkali-kali di Wilayah Idlib, ratusan ribu orang mengungsi dan mencari tempat yang lebih aman ke Idlib Utara setelah memanasnya wilayah Marat al Numan dan sekitarnya. (ACTNews)

“Ketika anda menggabungkan semua ini, tidak mengejutkan kita melihat peningkatan kerawanan pangan, peningkatan kelaparan. Bukan hanya meluas, dalam artian semakin banyak, tapi juga semakin dalam, yang berarti setiap orang lebih dekat dengan kelaparan hari ini daripada hari-hari sebelumnya,” Kata Arief Hussein Kepala Ekonom di Program Pangan Dunia PBB.

Demikian memang yang terasa kepada warganya. “Kehidupan di sini adalah potret penghinaan dan penderitaan sehari-hari,” kata seorang wanita di Damaskus. Suaminya kehilangan pekerjaan di toko elektronik bulan lalu. Sekarang keluarganya menarik sedikit tabungan tersisa, yang habis dengan cepat. Wanita itu berkata bahwa dia mengajar paruh waktu untuk membantu memenuhi kebutuhan. Seperti orang lain, dia berbicara dengan syarat identitasnya tetap tersembunyi.


Dengan dua anak dan seorang ayah yang sudah lanjut usia yang harus dirawat, dia berkata bahwa hidup sangat sulit dan dia dicekam oleh kecemasan akan masa depan. Hingga baru-baru ini, dia dapat menyelundupkan obat-obatan ayahnya dari Lebanon. Tetapi sekarang Lebanon sedang mengalami krisis. “Saya pergi ke souk (pasar tradisional) dan benar-benar harus memikirkan prioritas, hanya membeli kebutuhan pokok untuk memasak. Saya mencoba untuk tidak melihat hal lain yang mungkin disukai anak-anak saya, ”katanya.

Komite Palang Merah Internasional juga melaporkan sekitar 13 juta orang, atau hampir tiga perempat dari populasi Suriah, sekarang bergantung pada bantuan kemanusiaan internasional untuk bertahan hidup, yang mana meningkat 20% dari tahun lalu. Hal-hal ini yang mesti ditanggung oleh warga Suriah selama 10 tahun belakangan dan entah berapa tahun ke depan selama konflik belum menemui ujungnya.[]