Menengok Kebun Kurma Berbate yang Diwakafkan untuk Jalan Kebaikan

Berdirinya kebun di Aceh Besar ini berawal dari kekaguman Sukri dan kawannya Mahdi Muhammad terhadap kurma. Keyakinan itu berbuah manis, di mana lahan kurma mereka kini menjadi tempat wisata dan sebagiannya diwakafkan untuk kegiatan kemanusiaan.

Kebun Kurms Berbate kini menjadi destinasi wisata alternatif  bagi masyarakat sekitaryang lengkap dengan khazanah Islam.
Kebun Kurma Berbate kini menjadi destinasi wisata bagi warga sekitar yang lengkap dengan khazanah Islam. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, ACEH BESAR – Di lahan seluas 500 hektare di Gampong Meurandeh, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, kebun kurma dan restoran milik Sukri Syafei (45) berdiri. Kebun Kurma Berbate namanya. Dengan pemandangan Lembah Berbate yang hijau, lokasi tersebut juga jadi destinasi wisata masyarakat sekitar. Fasilitas lengkap dihadirkan, mulai dari restoran dan berbagai macam olahraga dan permainan seperti berkuda, memanah, hingga motor beroda empat atau ATV.

“Biasanya di Aceh ini kan (kalau wisata) orang ke laut, ke sungai, sekarang sudah mulai mereka datang ke bukit-bukit. Bukit yang tertata, yang dikelola secara natural, dan banyak khazanah-khazanah Islam yang kami ajarkan. Contoh ada olahraga memanah, berkuda, dan melihat pohon kurma, zaitun, tin dan anggur. Walau belum semua tertata rapi, kami bangun secara bertahap,” tutur Sukri pada Sabtu (3/4/2021) saat ACTNews berkunjung ke Aceh.

Kekaguman Sukri dan kawannya Mahdi Muhammad terhadap kurma menjadi awal berdirinya kebun tersebut. Salah satu alasan kagumnya mereka berdua karena kurma disebut di dalam banyak riwayat dan Al-Qur’an. Mereka pun yakin dapat menumbuhkan pohon kurma di Indonesia dan menyulap bukit tandus tersebut menjadi daerah wisata.

“Tanah ini dahulu sangat tandus. Mungkin sampean bisa melihatnya di bagian yang belum kami tanami. Tanahnya berbatu, kering, dan alhamdulillah sekarang sudah hijau di mana-mana. Itulah macam mana kami menghidupkan buminya Allah di sini,” ujar Sukri.


Citra Kebun Kurma Berbate tampak dari atas. (ACTNews/Reza Mardhani)

Sukri dan Mahdi meyakini, akar kurma yang menghujam dua kali dari panjang daunnya, mampu menyerap air sangat dalam. Sehingga membawa kesuburan untuk tanaman di sekitarnya. Bagi mereka berdua, hadirnya pohon kurma bermanfaat tidak hanya untuk manusia semata, tetapi membawa rahmat untuk alam di sekitarnya.

Menjadi petani yang berhasi juga menjadi cita-cita besar Sukri. Tujuannya tak sekadar keuntungan dan memperkaya diri sendiri. Ia ingin mengedukasi sesama petani agar mampu berhasil, paling tidak menguasai pangannya sendiri. “Jangan sampai dikuasai orang. Kalau kita yang menguasai sendiri, produksi sendiri, mata rantai atur sendiri, ritelnya kita sendiri, pembelinya kita sendiri, pasti kita jaya,” tutur Sukri.


Selain sebagai aset bisnis, Kebun Kurma Barbate ini pun tengah dalam misi mendukung aksi kemanusiaan. Hal ini diwujudkan Sukri dan Mahdi dengan mewakafkan sebagian luas kebun tersebut melalui Global Wakaf-ACT.

“Menurut saya ini lahan yang terbaik, dan itulah yang saya dan Pak Mahdi wakafkan. Hasilnya insyaallah baik, dan mudah ketika dikelola,” jelas Sukri. Ia pun mengajak pengusaha lainnya untuk turut mengikuti jalan yang ia sebut “berbisnis dengan Allah” ini.[]