Menengok Kehidupan Rohingya dalam Isolasi Militer

Pemberdayan perempuan dan sejumlah program masih dijalankan ACT untuk menunjang kehidupan pengungsi internal Rohingya di Rakhine. Pengawasan militer yang ketat membuat orang-orang Rohingya terisolasi.

Menengok Kehidupan Rohingya dalam Isolasi Militer' photo
Selain bantuan pangan dan kesehatan, Aksi Cepat Tanggap juga memiliki program pemberdayaan perempuan berupa pelatihan menjahit. Melalui program tersebut, para perempuan Rohingya diharapkan dapat menunjang ekonomi keluarga. (ACTNews/Shulhan Syamsur Rijal)

ACTNews, BUTHIDAUNG – Lebih dari 300 orang kini mengungsi di salah satu sekolah di Buthidaung. Mereka adalah orang-orang Rohingya yang tidak dapat keluar dari wilayah Myanmar karena terisolasi milter. Dalam keterbatasan itu, mereka tetap menjalankan kehidupan.

Naing Lin Kyaw, mitra ACT, melaporkan langsung dari Kota Buthidaung, Rabu (7/11). Beberapa warga Rohingya yang berada di desa-desa Rakhine tidak dapat keluar. Belum lagi, nyawa mereka terancam oleh pasukan Arakan. Sementara jika mendukung kelompok Arakan, militer Myanmar juga akan menangkap mereka.

“Serangan militer juga mengancam banyak nyawa warga sipil. Banyak orang Rohingya yang akhirnya memaksa pergi dan mengadu nasibnya ke kota tetangga,” jelas Naing kepada ACTNews.

Ia juga mengatakan, jarang sekali bantuan kemanusiaan yang diterima pengungsi. Padahal, diperkirakan ada sekitar 200.000 jiwa etnis Rohingya di Buthidaung, Rathedaung. Sedangkan 60.000 lainnya berada di Maungdaw, Arakan Utara. Naing mengaku, bantuan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang bisa masuk ke  desa mereka sangat membantu.


Bantuan pompa air kepaada pengungsi internal Rohingya pun juga dapat dimanfaatkan warga dengan sebaik mungkin. Naing mengaku, para wanita dan anak-anak tidak perlu jauh-jauh mengambil air keluar desa.

Selain pangan, anak-anak Rohingya di Myanmar juga juga tidak mendapat pendidikan yang layak. Seperti di wilayah Nyung Chaung, Mawstbiz, dan Kwa Sone. “Anak-anak berharap ada sekolah paruh waktu selama sekolah negeri tidak menyediakan pendidikan,” lanjut Naing.

Setelah memberikan paket pangan, ACT juga menunjang sejumlah ibu rumah tangga dengan hasil menjahit. “Agar memenuhi kebutuhan keluarga, pelatihan menjahit yang dilakukan ACT sangat penting,” aku Naing. Mereka pun berahap ada pelatihan yang lebih mengasah kemampuan mereka

“Dan apabila ada pelatihan lagi untuk para pengungsi perempuan Rohingya, kami pun mau untuk latihan lagi. Kami ingin kemandirian untuk masa depan kami,” tutup Naing. []

Bagikan