Menengok Suriah pada Musim Dingin 2017

Menengok Suriah pada Musim Dingin 2017

ACTNews, IDLIB – Musim dingin di Suriah tidak pernah bersahabat. Bukan cerita baru bila sejumlah pengungsi di negara konflik itu dikabarkan meninggal dunia karena suhu dingin yang ekstrem dan tempat tinggal yang tak memadai. Tentu, kelayakan hidup pengungsi di musim dingin akan lebih rendah. Semua orang rentan terserang suhu dingin, terutama anak-anak.

Puncak musim dingin tahun lalu, Desember 2017-Januari 2018, Aksi Cepat Tanggap (ACT) berkesempatan mengunjungi Kamp Pengungsian Al Zuf, di daerah Khirbet Al Jawz, Idlib, Suriah. Saat itu, Muhammad Houssam* berkisah tentang suhu dingin yang berada tipis sekali di atas nol derajat Celsius. Ia berkata, satu jaket tebal saja tidak cukup untuk menghangatkan badan jelang malam. Kalau malam tiba, suhu pada Januari sampai Februari menurun drastis hingga sedikit di atas titik beku.

Dari dalam rumah apa adanya berbentuk tenda terpal, didirikan di atas tanah becek, Houssam berada dalam kondisi yang pelik. Satu sisi ia harus menyelimuti dirinya dengan jaket tebal agar hipotermia tak menyerang. Sementara itu, ia pun harus tetap sigap menjaga delapan anaknya agar selalu hangat. Nalurinya sebagai seorang ayah memaksanya untuk terjaga di malam hari, memastikan agar selimut tipis yang telah sobek dan jaket kumal yang dipakai anak-anaknya tak berubah posisi.

“Sejak mengungsi dari Aleppo, tidak ada apa pun yang kami bawa selain lembaran baju tipis, selimut kumal dan jaket-jaket yang dipakai sepanjang hari oleh anak-anak saya,” ujar Houssam kepada relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di wilayah Kamp pengungsian Khirbet Al-Jawz, Januari 2018 lalu.

Mewakili masyarakat Indonesia, ACT hadir untuk menyuplai sejumlah kebutuhan pengungsi di musim dingin yang menggigit. Pasokan kayu bakar, jaket hangat untuk anak-anak, dan bahan bakar diberikan ke sejumlah sekolah di daerah tersebut. Untuk Kamp Khirbet Al-Jawz, distribusi bahan bakar pemanas ruangan dikhususkan untuk sekolah-sekolah. Ada tiga sekolah yang didatangi dalam satu hari, yakni Ukhwah School, Salahuddeen School, dan Future school.

“Kami, tim ACT di Idlib membawa bantuan musim dingin. Kurang lebih 30 ton kayu bakar yang sangat dibutuhkan untuk bahan bakar penghangat ruangan di dalam kamp. Penduduk Kamp Khirbet Al-Jawz adalah warga yang mengungsi dari wilayah Aleppo, Hama, dan Latakia, hidup di bawah garis kemiskinan. Di musim dingin seperti ini penghangat ruangan sederhana dari kayu bakar sangat berguna untuk mereka,” ujar Anwar Ali*, perwakilan mitra ACT yang bertugas di Idlib.

Alaa Ahmad (30), di sekolah Alkhaa, wilayah Al Zuf, menceritakan bahwa sebagian besar siswa tingkat akhir di sekolah menengah serta sejumlah guru di sekolahnya adalah para pengungsi dari Hama, Aleppo, dan Jisr al-Shughour. Distribusi kayu bakar, bahan bakar minyak, serta jaket hangat adalah kebutuhan dasar untuk meredam suhu dingin yang terjadi saat itu.

“Kami berharap juga ada bantuan untuk gaji guru, perlengkapan mengajar, juga program yang berkelanjutan,” harap Alaa.

Berjalan ke belakang, dua bulan sebelumnya, pada Oktober 2017, Dapur Umum Aksi Cepat Tanggap (ACT) melayani 1.000 pengungsi. Setiap harinya, 1.000 porsi nasi briyani lengkap dengan lembaran-lembaran roti khobz dibagikan ke warga di  A’zaz, sebuah kota kecil sebelah utara Aleppo. Kala itu, lonjakan pengungsi yang luar biasa ke sebelah utara Aleppo menjadi perhatian khusus.

Bahkan, setelah musim dingin belum benar-benar pergi, serangan kembali terjadi. Di Ghouta Timur konflik kembali pecah. Merespons hal itu, ACT segera mengirimkan tim kemanusiaan SOS for Syria XIV.

Kini, hampir setahun sudah memori kelam itu berlalu. Namun Suriah belum juga menunjukkan kabar baik. Ikhtiar untuk menghangatkan pengungsi Suriah yang masih bertahan dalam keterbatasan di musim dingin kali ini pun segera dilakukan kembali.

“Dalam waktu dekat kita akan distribusi pakaian hangat, November ini. IHC juga akan mendistribusikan paket pangan musim dingin November ini. Bahan bakar insyaallah didistribusikan di akhir bulan,” papar Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response (GHR) ACT, Senin (5/11).

Musim dingin membekukan Suriah setiap tahunnya. Namun demikian, kepedulian masyarakat Indonesia tak pernah berhenti menyapa para penyintas krisis kemanusiaan di Bumi Syam ini. Kehangatan senantiasa diantarkan dari insan-insan Bumi Pertiwi yang dermawan. []


*nama disamarkan