Menerapkan Gaya Hidup Organik dan Memakmurkan Petani lewat Bio MPPI

Sejak banting setir ke pengobatan tradisional pada tahun 2002, dr. Maulana Gatot selalu berikhtiar untuk menyosialisasikan gaya hidup organik yang menurutnya lebih sehat. Namun tidak hanya sampai di situ, ia juga mempelajari peternakan dan pertanian dan kini bersama sebuah tim terus mengembangkan nutrisi Bio Hayati MPPI sebagai nutrisi padi organik.

Menerapkan Gaya Hidup Organik dan Memakmurkan Petani lewat Bio MPPI' photo
Dokter Maulana Gatot ketika memberikan sambutannya. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, KARAWANG – Dokter Maulana Gatot banting setir ke pengobatan tradisional pada tahun 2002. Mulai sejak itu, ia hanya menggunakan pengobatan organik dan herbal, serta lebih berfokus kepada teknik seperti akupuntur dan bekam. Pengalaman itu yang membawanya ke bidang pertanian dan peternakan.

“Pasien saya bilang kalau mau konsumsi organik, beras organik harganya mahal. Saya coba belajar ingin tahu apa sih yang bikin jadi mahal beras dan sayur organik ini? Saya belajar tentang pertanian organik, peternakan organik, dan ketika belajar dilihat hasilnya, masyaallah, itu enggak tahunya biaya produksi bisa turun, lebih melimpah, dan lebih sehat,” cerita dr. Maulana pada Jumat (8/1/2021) silam.

Harga mahal karena jarang. Itulah prinsip ekonomi yang berlaku pada gaya hidup organik ini. Bagi dr. Maulana, ini menjadi sebuah tantangan untuk mensosialisasikannya. Sampai pada suatu titik ia sempat beralih ke pupuk fermentasi dan kini ikut terlibat dalam produksi nutrisi Bio Hayati MPPI.


“Yang bikin ada tim, ada beberapa profesor dan scientist memang yang buat, saya membantu menjelaskan ke masyarakat. Memang ini sudah digunakan sejak tahun 2016 di banyak lahan di seluruh Indonesia. Cuma memang lahan terbatas, bukan lahan umum. Tapi kemudian sekarang kita coba masifkan lebih luas,” jelas dr. Maulana.

Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi dan Palembang sudah menjadi tempat di mana Bio Hayati MPPI digunakan. Nutrisi Bio Hayati MPPI masuk kepada para petani lewat komunitas dan lembaga-lembaga seperti Global Wakaf – ACT yang menguji cobanya di Desa Ciptamarga, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang dan telah memasuki panen pada Jumat (8/1/2021) silam.

Lahan uji coba tersebut merupakan lahan 2 hektare milik Hassanudin, seorang petani penerima manfaat program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia (MPPI).  Acara panen raya di antaranya dihadiri langsung oleh Ketua Gapoktan Sri Asih Desa Ciptamarga H. Dede, Wakil Bupati Karawang terpilih Aep Saepuloh dan dihadiri juga oleh beberapa perwakilan Global Wakaf – ACT.


Wakil Bupati Karawang terpilih Aep Saepuloh (tengah) sedang meninjau hasil panen bersama Kepala Cabang ACT Karawang Erwin Wikanda (kiri) dan petani pemilik lahan Hassanudin (kanan). (ACTNews/Akbar)

H. Dede mengatakan jika dilihat dari lahan, nutrisi Bio Hayati MPPI menunjukkan perbedaan dengan pupuk konvensional. Butir-butir padi terlihat agak berisi dibandingkan dengan tanaman padi yang menggunakan pupuk konvensional. “Jadi dengan kondisi tersebut, kami perkirakan hasilnya akan lebih bagus dibandingkan dengan konvensional. Dan mudah-mudahan memang harganya pun nanti lebih bagus. Karena kualitasnya kualitas organik,” harap Dede.

Dokter Maulana pun bersyukur dan berharap nutrisi Bio Hayati MPPI dapat bermanfaat bagi masyarakat luas, tak hanya untuk para petani. “Semua kita mengembalikan tanah ini dengan baik, dan mengembalikan lagi fungsi kita sebagai khalifatullah fil ardh. Menjaga dan memakmurkan bumi ini, bukan merusak. Sehingga ketika kita menjaganya, Allah akan balikin ke kita juga kebaikan, sehingga petani jadi makmur,” pungkas dr. Maulana. []