Meneruskan Manfaat Zakat untuk Biaya Hidup Para Pendidik Umat

Sejak November 2019 hingga kini dana zakat masyarakat terus tersalurkan bagi para pendidik umat di berbagai penjuru negeri, melalui program Sahabat Guru Indonesia.

Meneruskan Manfaat Zakat untuk Biaya Hidup Para Pendidik Umat' photo
Salah satu guru yang menerima bantuan biaya hidup dari Global Zakat sedang mengajar di rumahnya yang ada di Kabupaten Bogor. Sejak pandemi, nyaris di semua daerah, guru beradaptasi dengan kebiasaan yang baru. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, SOPPENG, TASIKMALAYA – Terhitung hingga kini, Suriani telah mengabdikan dirinya sebagai pendidik selama 14 tahun lamanya. Selama 14 tahun itu juga, perempuan asal Lonrong, Desa Jampu, Kecamatan Liliriaja, Soppeng statusnya hanya honorer. Ia mengajar di salah satu sekolah dasar yang ada di sebelah timur Kota Soppeng, tepatnya di Kelurahan Jennae, yang juga masih satu kecamatan dengan tempatnya tinggal. Walau statusnya hanya sebagai honorer, Suriani menjalani profesinya ini dengan segenap hati.

Selama menjadi guru, tak ada gaji besar yang Suriani terima. Sejak awal mengajar, uang Rp150 menjadi pendapatannya per bulan. Itu pun dibayarkan tak setiap bulan, melainkan dirapel per tiga bulan. “Tak masalah dengan gaji, karena saya menjalani pekerjaan yang mulia ini,” ungkapnya, Selasa (22/9).

Walau tinggal jauh dari Ibu Kota Jakarta yang menjadi episentrum penyebaran Covid-19, di tahun ini kegiatan Suriani sebagai tenaga pendidik honorer pun ikut terdampak. Sejak pandemi dan memaksa seluruh kegiatan pendidikan dialihkan dari rumah saja, Suriani seakan mendapatkan tantangan baru. Tak hanya cara mengajarnya yang harus beradaptasi dengan kebiasaan baru ini, namun juga anggaran dana yang harus ia sisihkan dari gajinya yang kecil untuk membeli kuota internet.

Serupa Suriani, Ai Srihartati (54), telah mengabdikan dirinya sebagai pendidik selama puluhan tahun lamanya dengan gaji sekitar Rp100 ribu. Guru di salah satu sekolah di Tasikmalaya ini pun harus menjadi orang tua tunggal setelah ditinggal meninggal sang suami 2011 silam. Kini, ia berpendapatan Rp250 ribu per bulan sebagai guru, yang digunakan untuk membiayai dua orang tanggungan. “Walau kecil (gaji) tapi saya merasa senang menjadi guru,” ungkap guru yang telah mengajar sejak tahun 1993 ini, Selasa (22/9).

Untuk memenuhi kebutuhan ekonominya, di sela waktu luang, Ai membuat jajanan anak-anak seperti donat untuk ia jual. Langkah ini diambil sebagai ikhtiarnya menjadi orang tua.

Suriani dan Ai merupakan beberapa di antara banyaknya pejuang pendidikan yang kondisi ekonominya terbatas, namun totalitas dalam mengajar. Mereka tetap meluangkan waktu, termasuk di kala pandemi ini, untuk memberikan yang terbaik bagi anak didiknya.

Global Zakat-ACT pun pada Selasa (22/9) lalu mengunjungi dua guru tersebut dan memberikan bantuan biaya hidup. Melalui program Sahabat Guru Indonesia yang telah berjalan nyaris satu tahun, dua guru ini menjadi bagian dari ribuan guru lainnya yang telah mendapatkan biaya hidup dari dana zakat masyarakat.

Riski Andriana, Koordinator Program Sahabat Guru Indonesia, mengatakan, sejak diluncurkan pada Hari Guru Nasional 2019 lalu, hingga masuk pekan ke-3 September, sudah hampir 5 ribu guru yang mendapatkan biaya hidup ini. Mereka tersebar di 133 kabupaten/kota di 30 provinsi. Dalam implementasinya, program tersebut melibatkan lebih dari 2 ribu relawan Masyarakat Relawan Indonesia. Jumlah ini pun akan terus bertambah seiring dengan terus dilakukannya implementasi biaya hidup untuk guru.

Dalam perjalanannya, Global Zakat-ACT tak hanya memberikan biaya hidup saja. Akan tetapi, berbagai pendampingan pun diberikan, khususnya sejak adanya pandemi ini dengan berbagai pertemuan daring dengan para ahli di bidang pendidikan. “Berbagai bantuan untuk guru ini bersumber dari dana zakat yang masyarakat salurkan melalui Global Zakat. Program dan pendampingan dari Sahabat Guru Indonesia merupakan bentuk nyata dari kebaikan zakat,” jelas Riski, Kamis (24/9).[]

Bagikan

Terpopuler