Mengabdikan Diri untuk Merawat Korban Great Return March

Dokter Mohammad Ramadan telah berpengalaman sekitar 16 tahun di bidang medis. Ahli bedah Klinik Indonesia untuk Palestina yang dikelola ACT itu adalah salah satu dokter yang mendampingi korban Great Return March di Gaza.

Mengabdikan Diri untuk Merawat Korban Great Return March' photo
Dokter Mohammad Ramadan saat melayani konsultasi pasiennya di Klinik Indonesia untuk Palestina di Gaza, Januari lalu. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Ratusan operasi bedah sudah dilakukan dokter Mohammad Ramadan. Spesialis bedah lulusan Rusia itu kini turut mengabdikan diri di Klinik Indonesia untuk Palestina Aksi Cepat Tanggap. Ia menjadi tenaga medis yang senantiasa melayani korban luka Great Return March yang berobat ke Klinik Indonesia.

Memulai karier medis pada 2004, dokter asal Jabalia ini punya cukup banyak pengalaman. Ia pernah menjadi ahli bedah vaskular di Rumah Sakit Al Awdah pada 2007, bergabung di Departemen Bedah Vaskular Rumah Sakit Al Shifa, dan Kepala Departemen Bedah Vaskular di Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Dokter Ramadan juga bekerja dengan sejumlah organisasi internasional untuk transplantasi ginjal.

“Saya adalah dokter pertama di Palestina yang melakukan transplantasi ginjal,” cerita dokter tiga orang anak ini.

Kini, dokter Ramadan juga mengabdikan diri sebagai konsultan bedah Klinik Indonesia untuk Palestina. Ia mendampingi para korban Great Return March. Ramadan bercerita, ia dan timnya telah melakukan ratusan bedah dan amputasi untuk menolong para korban. Ramadan berharap, semakin banyak dokter ahli yang membersamainya berjuang untuk Palestina.

“Klinik perlu dikembangkan dengan menambah dokter ahli, seperti ahli endokrin, ahli bedah umum, klinik penyakit kronis, dan ahli bedah saraf,” harap Ramadan.

Menambah tenaga medis dianggap hal paling penting bagi dokter Ramadan. Hal tersebut menjadi urgensi mengingat daftar tunggu bedah pasien sejumlah rumah sakit di Gaza, berdasarkan data kementerian kesehatan setempat, hingga tahun 2023. Ia pun berharap Klinik Indonesia ACT dapat membangun dan menyiapkan ruang operasi.

Diinisiasi pada pertengahan November lalu, Klinik Indonesia untuk Palestina mulai melayani pasien pada awal Desember 2019. Pusat kesehatan yang dilayani tujuh tenaga medis ini beroperasi enam hari seminggu dari pukul 10.00-18.00 waktu Gaza. Klinik Indonesia memberikan layanan konsultasi dan obat-obatan kepada warga Gaza secara gratis.

Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response  (GHR) – ACT mengatakan, hingga saat ini, Klinik Indonesia untuk Palestina yang dibangun ACT masih menjadi satu-satunya layanan kesehatan yang memberikan fasilitas pemeriksaan dan pengobatan gratis untuk pasiennya.

Saat ini ada tujuh orang yang bertugas di Klinik Indonesia, terdiri dari tiga petugas kesehatan, seorang apoteker, dan tiga petugas administrasi. “Ada satu manajer klinik, seorang ortopedis, seorang dokter vaskular, seorang perawat, seorang farmakolog, seorang resepsionis, dan pramubakti,” kata Faradiba.

Klinik Indonesia untuk Palestina di Gaza kini juga sudah dilengkapi dengan ambulans dermawan. Ahmad Al Najjar selaku mitra Aksi Cepat Tanggap di Gaza mengatakan, ambulans akan beroperasi 24 jam sehari untuk memobilisasi pasien atau membawa korban Great Return March di Gaza. “Ambulans juga digunakan sebagai transportasi pasien yang membutuhkan layanan kesehatan dari rumah sakit atau unit kesehatan di Gaza Utara. Ambulans ini akan berjaga di titik-titik Great Return March,” kata Ahmad.[]


Bagikan