Mengalirkan Air Bersih di Kawasan Pengungsian Blok Cipendawa

Terdampak bencana banjir dan longsor sejak Janurai lalu, warga Desa Cileuksa, Kabupaten Bogor masih harus tinggal di pengungsian karena kampung mereka adalah zona merah longsor. Di pengungsian, mereka pun hidup dengan fasilitas yang minim, termasuk soal sanitasi. Air bersih masih sulit mengalir sebab pipa saluran air masih rusak oleh bekas-bekas longsoran.

Pencarian titik sumber air tanah di Blok Cipendawa menggunakan geolistrik. (ACTNews)

ACTNews, BOGOR – Banjir yang menerjang hampir seluruh wilayah di Jabodetabek pada Januari lalu, masih menyisakan kesulitan bagi warganya walau telah usai. Pasalnya banyak fasilitas publik yang rusak akibat dari ulah banjir tersebut.

Salah satunya dialami oleh Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Banjir serta longsor merusak desa dengan 14 kampung ini. Dari 10 desa di Kecamatan Sukajaya, Desa Cileuksa adalah desa yang terdampak paling parah oleh banjir dan longsor.

“Terutama ada Kampung Rancanangka dan Kampung Cileuksa Utara yang bila dijumlahkan, warganya sekitar 570 kepala keluarga. Hingga bulan Mei kemarin, banyak warga yang masih tinggal di tenda-tenda pengungsian lantaran kampungnya masuk zona merah longsor, dan tidak bisa ditempati lagi,” ungkap Khisnul Hasanah dari Tim Global Wakaf – ACT Bogor.

Warga mengungsi sementara di Blok Cipendawa, Desa Cileuksa. Kendati dalam kondisi aman, tentu saja tinggal di pengungsian berarti harus hidup dengan fasilitas yang minimal, yang tak senyaman rumah mereka sebelumnya. Fasilitas MCK salah satunya.

Air yang mengalir saat pengeboran Sumur Wakaf di Blok Cipendawa. (ACTNews)

“MCK di Blok Cipendawa adalah MCK sementara yang airnya cukup serta bersih. Namun masih ada lagi beberapa lokasi yang belum maksimal dan kesulitan air. Sumber air berasal dari pipanisasi mata air pegunungan, namun adanya longsor yang terjadi beberapa kali membuat sebagian peralatannya rusak dan ketika hujan air sering menjadi keruh,” ungkap Khisnul.

Salah satu warga mengatakan memang air sering keruh, terutama pada musim penghujan. “Air bersih sulit, apalagi kalau turun hujan. Karena di bekas longsornya (aliran air) belum aktif kembali,” ujar warga tersebut kepada Tim Global Wakaf – ACT.

Untuk meringankan kesulitan air di pengungsian Blok Cipendawa, Global Wakaf – ACT menyalurkan amanah para dermawan berupa satu unit Sumur Wakaf. Pembangunan telah dimulai sejak Mei lalu dan selesai pada Kamis (23/7) lalu.


“Dengan adanya Sumur Wakaf ini, kita berharap bisa meringankan beban para pengungsi yang masih harus tinggal di Blok Cipendawa. Sehingga sambil menunggu kehidupan mereka kembali seperti semula, mereka tak mengalami kesulitan secara fasilitas di sini,” ujar Khisnul.

Khisnul juga berharap dukungan kepedulian dari para dermawan untuk terus membersamai warga Blok Cipendawa. “Tentunya kita berharap juga dukungan para dermawan. Bagi masyarakat yang ingin berwakaf langsung untuk pengadaan Sumur Wakaf, dapat mengunjungi website Indonesia Dermawan atau transfer ker rekening BNI Syariah #6600001180 atas nama Yayasan Global Wakaf.Mudah-mudahan dengan hadirnya kepedulian para dermawan, mereka bisa lebih cepat pulih dari bencana ini,” harap Khisnul. 

Selain Sumur Wakaf, Tim ACT juga terus menyalurkan bantuan-bantuan lainnya untuk terus membersamai para pengungsi. Seperti halnya pada Maret lalu, ACT mendistribusikan ratusan paket beras untuk warga serta paket perlengkapan sekolah untuk pengungsi anak-anak. []