Mengamen, Bentuk Ketulusan Isya Bantu Muslim Uighur

Mengamen, Bentuk Ketulusan Isya Bantu Muslim Uighur

ACTNews, JEMBRANA - Sepucuk surat disertai kumpulan uang logam dalam dua kantong plastik itu diberikan Isya (12) kepada tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) - Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jembrana pada Ahad (16/12). Kata Isya, uang itu hasil mengamen yang dilakukannya bersama seorang teman untuk membantu muslim Uighur yang sedang mengalami kesusahan.

Hidzqy atau yang biasa disapa Kak Qiqi, salah seorang relawan MRI-ACT Jembrana mengisahkan, seminggu sebelumnya Isya sempat menangis ketika Hidzqy bercerita tentang muslim Uighur yang dilarang melakukan ibadah sesuai syariat Islam. Ahad (9/12) itu, MRI-ACT Jembrana seperti biasa sedang melangsungkan kegiatan “Lesehan Cerdas” di area Car Free Day (CFD), di seputaran Gedung Kesenian Bung Karno Jembrana, Bali.   

“Karena kebanyakan dari mereka adalah anak-anak, sebaya dengan Isya, saya mengemas ceritanya juga tak jauh dari itu, yakni anak-anak muslim Uighur yang tidak bisa melakukan salat bahkan puasa dengan leluasa. Saat itu saya melihat Isya menangis, saya rasa ia memang anak yang perasa, gampang tersentuh dengan kisah-kisah seperti itu,” ungkap Hidzqy.

Isya sendiri termasuk anak yang rutin mengikuti kegiatan “Lesehan Cerdas” yang diusung MRI-ACT Jembrana. Ketika orang tuanya berolahraga, kata Hidzqy, Isya akan mampir ke stand MRI-ACT Jembrana meski waktunya tak lama, biasanya hanya satu sampai dua jam. Selepas itu ia akan pamit untuk pulang bersama orang tuanya.

Hidzqy mengaku tak pernah lupa ketika Isya mengatakan ingin membantu muslim Uighur untuk bebas dari belenggu regulasi yang melarang kegiatan keagamaan mereka. “Kak, Isya mau bantu mereka, tapi tidak tahu caranya. Isya ingin pergi ke sana, naik kapal terbang. Tapi, mama sama baba pasti tidak mengizinkan karena Isya harus sekolah, bagaimana ya kak caranya,” begitu Hidzqy mengulang tutur Isya yang lugu.

Namun Hidzqy tak menyangka, ketika Isya kembali ke stand ‘Lesehan Cerdas” dengan membawa bantuan untuk muslim Uighur pada minggu berikutnya, Ahad (16/12). Menambah haru, Isya mengaku sejumlah uang logam itu ia dapati dari mengamen bersama salah seorang temannya. Di antara dua kantong plastik yang berisi uang logam itu terselip surat yang ditulis tangan oleh Isya sendiri.

“Hari itu, saya pikir dia tidak datang, tapi ternyata datang. Bersama seorang temannya, dengan malu-malu ia hampiri saya. Lalu dia berikan uang logam dan suratnya ke saya. Saya sampai gemetar karena tidak menyangka. Apalagi pas lihat isi suratnya, ‘Kak Qiqi, titip kasih ACT buat saudara-saudara Uighur’. Rupanya mengumpulkan uang itu adalah cara Isya membantu muslim Uighur, “ papar Hidzqy.

Di saat kisah muslim Uighur belum familiar di telinga masyarakat Indonesia, tetapi Isya, bocah kelas 6 sekolah dasar (SD) asal Jembrana telah melakukan aksi nyata. “Meski jumlah tak seberapa, semoga niat dan ketulusan hati Isya dapat menggugah rasa kepedulian bangsa Indonesia bahkan dunia. Terima kasih Isya telah menggugah hati saya, dan mungkin hati masyarakat di luar sana,” tutur Hidzqi. []